FLASHBACK — KIRANA MASIH SMA
Dulu, hidupku bahagia banget.
Ayahku, Mahendra, dosen yang sangat sabar dan pintar.
Ibuku, Maharani, desainer butik yang modis dan selalu wangi.
Rumah kami selalu ramai sama tawa.
Aku anak tunggal dan dimanja secukupnya, nggak pernah berlebihan.
Yang sering datang ke rumah?
Bunda Adelia—waktu itu masih seorang pegawai biasa di perusahaan suaminya.
Dia sahabat dekat Ibuku.
Kayak kakak sendiri.
“Aku titip dia sama kamu ya, Del…”
Itu kalimat terakhir Ibu waktu kecelakaan.
Suara yang selalu bikin aku merinding tiap ingat.
Saat mobil yang mereka tumpangi remuk karena kecelakaan jalan raya, Ibu masih sempat memandang sahabatnya itu di IGD. Napasnya pelan, tubuhnya lemah, tapi dia tetap mikirin aku.
Adelia mengangguk sambil nangis, “Aku janji, Rani… aku bakal jaga Kirana kayak anakku sendiri.”
Lalu semuanya gelap.
Ayah meninggal duluan.
Ibu menyusul beberapa menit setelahnya.
Dunia rasanya runtuh malam itu.
Aku cuma seorang anak SMA yang tiba-tiba kehilangan segalanya.
Adelia dan suaminya, Devano, langsung mengambilku.
Aku tinggal di rumah mereka, rumah kontrakan kecil dengan dua kamar.
Mereka nggak kaya, tapi hangat.
Aku tidur sekamar sama Adelia dan kedua anak lelakinya yang masih kecil waktu itu—Aksha dan Fabian—suka usil tapi perhatian.
Butik peninggalan Ibuku dikelola oleh Adelia, sesuai permintaan terakhir Ibu.
Devano, yang terkena PHK dari perusahaan tempat dia kerja, bantu Adelia bangun butik itu.
Dari butik kecil, jadi dua butik.
Dari dua butik, jadi pabrik garmen kecil.
Lalu berkembang besar.
Lalu merambah bisnis lain.
Slow-slow tapi pasti, keluarga Devano bangkit.
Dari rumah kontrakan sempit…
Sampai akhirnya pindah ke rumah mewah yang aku tempati bertahun-tahun.
Aku tumbuh di sana.
Makan bersama mereka setiap hari.
Belajar bareng Fabian yang selalu cerewet.
Dan melihat Aksha… tumbuh dari remaja pendiam menjadi pria dingin yang ambisius.
Ketika Devano—suami Adelia—meninggal karena sakit, usaha keluarga makin diambil alih oleh Aksha.
Dia yang meneruskan semuanya.
Dia yang membesarkan Devano Group sampai sebesar sekarang.
Adelia selalu bilang, “Semua ini karena Kirana juga. Kalau bukan warisan Ibunya Kirana, kita nggak akan sampai sini.”
Lalu suatu hari dia bilang ke Aksha…
“Aku ingin membalas budi keluarga Mahendra dan Maharani. Menikahlah dengan Kirana. Dia satu-satunya anak mereka.”
Aku ingat banget, waktu itu aku berdiri di belakang pintu, nggak sengaja mendengar percakapan mereka.
“Bu, aku nggak mau. Aku punya Rania. Aku sayang banget sama dia,” suara Aksha berat, tegas.
“Kalau kamu nolak…”
Adelia menahan d**a, pura-pura sesak.
“…jantung Ibu nggak kuat. Lebih baik Ibu mati nyusul Papamu!”
Aku langsung membeku.
Aku tahu Adelia bohong.
Tapi Aksha?
Dia anak laki-laki yang paling sayang sama ibunya.
Dan akhirnya…
“Baik. Aku nikah sama Kirana.”
Tanpa cinta.
Tanpa pilihan.
Tanpa pertimbangan perasaanku.
KEMBALI KE MALAM INI
Aku membuka mata pelan.
Seketika sadar aku sudah kembali ke kamar pengantin.
Air mataku menetes tanpa suara.
Aku lap pelan, nggak mau kelihatan lemah.
Dari balkon, kudengar suara Aksha merendah.
“Iya, sayang… aku juga kangen kamu.”
Aku menggigit bibir.
Tidak apa-apa, Kirana.
Kamu sudah terbiasa sendirian.
Aku membalikkan badan, menutup telinga dengan selimut, dan memaksa diri tidur…
meski di sampingku adalah suami sendiri yang hatinya ternyata bukan untukku.
Entah jam berapa sekarang. Yang jelas, aku sudah tertidur duluan karena capek luar biasa. Gaun, riasan, senyum palsu, semua menguras tenaga dan emosi.
Di tengah tidurku yang setengah sadar, aku mendengar suara pintu balkon ditutup pelan. Tapi aku nggak bergerak. Rasanya tubuh udah terlalu lelah buat merespons apa pun.
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki masuk ke kamar mandi.
Air shower menyala.
Deras.
Lama.
Mungkin sekitar lima belas menit, sampai akhirnya suara shower berhenti dan pintu kamar mandi terbuka.
Aku masih pura-pura tidur. Atau mungkin memang tidur beneran tapi otakku ikut mendengar.
Dari celah mataku yang sedikit terbuka, kulihat sekilas bayangan Aksha. Rambutnya basah, tubuhnya hanya dilapisi kaos tidur tipis warna abu-abu. Wajahnya bersih, tampan, tapi dingin kayak patung.
Dia nggak menoleh ke arahku sama sekali.
Nggak ada usaha memastikan aku nyaman.
Nggak ada bicara “Kamu udah tidur?” atau “Capek ya hari ini?”.
Dia cuma berjalan ke sisi ranjang…
mengangkat selimut…
dan langsung merebahkan diri.
Kasur agak bergoyang dikit karena berat tubuhnya.
Tapi setelah itu… sunyi.
Dia memalingkan wajah ke arah berlawanan dariku.
Punggungnya menghadapku.
Jarak di antara kami cuma beberapa jengkal, tapi rasanya kayak beribu-ribu kilometer.
Aku menarik napas pelan, menahan rasa perih yang tiba-tiba muncul.
Malam pertama kami…
ya cuma begini.
Nggak ada obrolan.
Nggak ada kehangatan.
Nggak ada sentuhan tangan.
Nggak ada momen canggung manis seperti pengantin baru pada umumnya.
Yang ada cuma dua orang yang asing satu sama lain, dibaringkan di kasur yang sama, tapi hati kami sama-sama jauh.
Di sampingku, napas Aksha mulai teratur.
Tanda dia sudah tertidur.
Aku menatap punggungnya dalam gelap.
Silhouette tubuh atletis itu terlihat jelas dari lampu tidur yang redup.
Aku menelan ludah pelan.
Ada kalimat-kalimat yang ingin keluar:
“Mas, apa kita bisa coba saling mengenal?”
“Apa kamu beneran nggak mau lihat aku sama sekali?”
“Apa pernikahan ini seburuk itu buat kamu?”
Tapi semuanya cuma berputar-putar di kepala tanpa pernah keluar dalam bentuk suara.
Aku menutup mata lagi, mencoba tidur.
Selimut kutarik sampai leher.
Bukan karena kedinginan…
tapi karena dadaku terasa kosong.
Malam pertama kami resmi menjadi malam yang…
bukan apa-apa.
Aku akhirnya tertidur pelan, di samping laki-laki yang sah jadi suamiku, tapi sama sekali bukan milikku.
Dan malam itu…
di kamar pengantin semewah itu…
yang terasa cuma satu hal:
Dingin.
POV Aksha
Gue akhirnya masuk kamar juga setelah nutup telepon sama Rania. Suaranya masih kebayang di kepala. Dia manja banget tadi… nanya kapan gue pulang, kapan gue bisa ketemu lagi. Dan gue cuma bisa bilang nanti. Bukan karena gue nggak mau—tapi karena malam ini gue harus pura-pura jadi suami yang baru nikah.
Kamar pengantin ini mewah sih, elegan banget. Tapi entah kenapa, suasananya nggak ada hangat-hangatnya sama sekali. Mungkin karena gue tau, yang tidur di kasur ini sekarang adalah perempuan yang bukan pilihan gue.
Gue masuk kamar mandi, nyalain shower sekenceng mungkin. Air panas jatuh deras ke kepala, tapi nggak ada yang bisa ngilangin rasa sesak di d**a.
Sial.
Seharusnya gue nggak ada di sini.
Seharusnya gue lagi sama Rania sekarang.
Bukan berdiri di kamar pengantin bareng Kirana.
Tapi gue anak laki-laki.
Dan gue nggak sanggup waktu lihat nyokap pura-pura sesak napas, ngomong kayak mau mati kalo gue nolak pernikahan ini.
Dari kecil gue diajar buat nurut dan jaga hati orang tua.
Dan nyokap… cuma dia yang gue punya sekarang.
Nggak ada pilihan lain.
Gue benci keadaan ini.
Lima belas menit berlalu, gue keluar dari kamar mandi. Badan lebih bersih, pikiran… nggak juga.
Kirana udah tidur.
Atau pura-pura tidur.
Gue nggak tau.
Dia kelihatan capek banget.
Gaunnya udah nggak dia pake, sekarang dia pakai gamis warna lembut. Rambutnya nggak kelihatan karena dia berhijab, tapi wajahnya… kelihatan tenang. Lembut.
Nggak salah kalo banyak orang bilang dia cantik.
Tapi bukan itu masalahnya.
Masalahnya gue nggak punya hati buat dia.
Gue berdiri sebentar di sisi kasur, cuma ngelihat dia.
Perempuan yang tiba-tiba jadi istri gue.
Perempuan yang nggak salah apa-apa, tapi tetap harus ikut masuk ke drama hidup gue.
Gue narik napas panjang.
Nggak ada gunanya mikirin panjang.
Gue capek.
Pesta tadi bikin kepala pusing, tamu banyak banget, harus senyum sana-sini. Belum lagi harus pura-pura menggenggam tangan Kirana biar kamera puas.
Gue angkat selimut dan langsung rebahan di sampingnya.
Kasur ini besar, tapi entah kenapa tetap terasa sempit.
Gue membalik badan, ngasih punggung ke dia.
Jarakin diri sejauh mungkin tanpa keliatan jahat.
Napas Kirana terdengar halus.
Tenang.
Gue jadi ngerasa bersalah sedikit.
Dia nggak pantas dapat suami kayak gue.
Gue dingin, gue nggak siap, gue masih nyimpen cinta buat orang lain.
Tapi apa mau dikata?
Pernikahan ini terjadi bukan karena gue mau.
Gue cuma berusaha jadi anak baik buat nyokap.
“Malam pertama…” gue mendengus kecil dalam hati, “dan gue cuma tidur.”
Ironis banget.
Nggak ada omongan sebelum tidur.
Nggak ada sentuhan.
Nggak ada apa-apa.
Hening.
Dingin.
Asing.
Gue memejamkan mata.
Mencoba tidur.
Mencoba nggak mikirin Rania yang mungkin lagi nunggu kabar dari gue.
Mencoba nggak mikirin Kirana yang tidur sendirian hanya beberapa sentimeter dari gue, cuma karena takdir dan janji yang gue nggak punya suara buat nolak.
“Mudah-mudahan dia ngerti,” batinku pelan.
“Mudah-mudahan dia nggak berharap apa pun dari gue.”
Gue butuh waktu.
Gue butuh ruang.
Gue butuh tetap jadi diri gue.