Mendengar nama itu, rahang Sabrina tampak mengeras sesaat. Senyumnya membeku. Ia menunduk, memainkan ujung jilbabnya dengan gerakan gelisah. Perubahan raut wajah itu tak luput dari pengamatan Kirana. Sebagai saudara yang tumbuh bersama, Kirana tahu ada sesuatu yang disembunyikan sepupunya itu. "Sab? Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Kirana curiga. Sabrina hanya menggeleng pelan, namun matanya mulai berkaca-kaca. Kirana semakin mendesak. "Sabrina, ada apa? Apa ada masalah antara kamu dan Mas Azzam yang aku nggak tahu?" Setelah terdiam cukup lama, Sabrina akhirnya mengangkat wajahnya. "Mbak... sebenarnya dari dulu aku diam-diam mencintai Mas Azzam." Mata Kirana membelalak sempurna. Ia terperangah hingga tak mampu mengeluarkan kata-kata. "Apa? Kamu... cinta sama Mas Azzam?" Sabrina meng

