Bab 23: Ketindihan

1430 Words
Kini bisnis yang dijalankan Evant menjadi semakin berkembang pesat setelah meninggalnya Kamelia beberapa bulan lalu. Tapi, karena itulah sekarang Evant menjadi lebih sibuk dari sebelumnya dan dia sangat sulit menyempatkan waktu untuk pulang ke rumah berkumpul dengan Mala istrinya dan dengan kedua anaknya, yaitu Julliant dan Clara. Tepat pukul enam sore, Mala mendengar deru mobil yang berhenti tepat di depan rumahnya ketika sedang duduk pada sofa untuk membaca buku novel sambil menemani Julliant dan Clara menonton televisi di ruang tengah. Mala sangat tidak asing dengan suara mesin dari mobil itu. "Nah! Papah pulang!" seru Mala tersenyum senang seketika menutup buku novel dan meletakkannya di atas meja. "Hah! Beneran, Mah?" tanya Clara terkejut sekaligus senang. Raut wajahnya menunjukkan bahwa betapa dia merindukan kedatangan ayahnya. "Yuk kita bukain papah pintu," ajak Mala kemudian bersama Julliant dan Clara berjalan menuju pintu depan rumahnya dan langsung membukakan pintu. "Papah!" Clara berteriak kegirangan seketika berlari mendatangi Evant ayahnya. "Putri cantik Papah...." Evant langsung memeluk Clara. Mala begitu senang melihat kedatangan suaminya. Sedangkan Julliant berjalan menuju mobil hitam yang digunakan Evant ayahnya dan berharap menemukan makanan dari dalam mobil itu. Tapi, Julliant kecewa karena hanya menemukan sebuah boneka kecil di dalam mobil ayahnya itu. "Ini boneka siapa, Yah?" tanya Julliant menatingkan boneka sambil berdiri di depan pintu mobil Evant. "Oh iya, itu kejutan untuk Dedek," ucap Evant sembari melepaskan pelukannya kepada Clara, kemudian mendatangi Julliant dan mengambil boneka kecil yang bentuknya menyerupai seorang anak perempuan berkerudung merah itu dari tangan Julliant, lalu memberikannya kepada Clara. "Wah! Boneka ini untuk Clara ya, Pah?" Clara langsung mengambil dan memeluk boneka kecil itu. "Papah kok belikan Clara boneka kayak gitu sih?!" Tampak raut wajah Mala yang tidak senang ketika melihat bentuk dari boneka kecil yang dipeluk Clara. "Memangnya kenapa, Mah? Lagian, Clara juga kayaknya suka sama boneka yang aku belikan," sahut Evant sembari meraih tangan kanan Mala. Mala menyintak tangannya, "Papah tau kan, kalau boneka kayak gitu biasanya bisa jadi sarang untuk roh halus?!" Mala kesal memandang Evant. "Kata siapa? Itu cuman cerita orang zaman dulu, takhayul, Mah...." sahut Evant sambil kembali meraih kedua tangan Mala. "Ibu aku sering cerita kalau boneka yang bentuknya menyerupai manusia itu bisa dirasuki roh halus, Pah!" ucap Mala menatap Evant kemudian menoleh ke arah Clara yang masih memeluk boneka yang tadi diberikan Evant, "Sini, Mamah aja yang simpan boneka itu ya, Sayang." Mala merebut boneka itu dari tangan Clara. "Mamah...." Kedua mata Clara mulai berair dan bibirnya tertekuk ke bawah. "Mamah janji, nanti Mamah belikan lagi boneka yang lebih lucu dari ini ya, Sayang," bujuk Mala sambil memusut rambut dan memeluk Clara. "He'em...." Clara mengangguk pelan sambil mengusap kedua matanya yang hampir mengeluarkan air mata. Evant mengerutkan kedua keningnya merasa heran dengan tingkah Mala. "Ya sudah, yuk masuk. Di luar sini anginnya dingin," ajak Mala seketika menuntun Clara masuk ke dalam rumah sambil membawa boneka yang tadi dibawa Evant, kemudian diiringi oleh Evant dan Julliant. "Mamah masak apa malam ini?" tanya Evant kepada Mala ketika sampai di ruang tengah, bersamaan saat Mala hendak membuka pintu kamar. Mala menoleh ke arah Evant, "Aku enggak masak, Pah... Tadi, makan cuman beli nasi goreng di depan sama beli martabak," jawab Mala lanjut membuka pintu kamar dan masuk ke dalam kamar, kemudian meletakkan boneka yang tadi dibawa Evant di atas tempat tidur, lalu kembali mendatangi Evant di ruang tengah. "Gimana kalau aku yang masak untuk malam ini, Mah?" tanya Evant menoleh ke arah Mala ketika duduk pada sofa di ruang tengah sambil melonggarkan dasinya. "Aku sama anak-anak juga udah pada makan, Pah," jawab Mala, "Papah masak buat dimakan sendiri aja ya. Lagian, Julliant sama Clara kayaknya udah kenyang dan udah pada mengantuk juga, Pah," sambung Mala sambil menoleh ke arah Julliant dan Clara yang terlihat menguap. "Iya deh." Evant mengangguk pelan kemudian beranjak berdiri, "Julliant, Clara... Tidur gih," ucap Evant. "Iya, Pah." Julliant beranjak berdiri, "Yuk, Dek..." ajak Julliant kepada Clara. "Iya, Kak." Clara ikut beranjak berdiri. Kemudian Julliant dan Clara pun masuk ke dalam kamar mereka masing-masing untuk tidur. Sementara Mala kembali duduk pada sofa di ruang tengah untuk melanjutkan membaca novelnya dan Evant berjalan menuju ruang dapur untuk memasak makan malam untuknya sendiri. *** Sambil menonton televisi, sesekali Evant menyeret tatapannya tepat ke arah smartphone istrinya yang tergeletak di atas meja dan melihat waktu pada layar smartphone milik Mala sudah menunjukkan tepat pukul sembilan malam. Evant menoleh ke arah Mala yang duduk di sampingnya, "Mah, kita tidur yuk," ajak Evant. "Iya, Pah. Aku juga kayaknya malam ini ngerasa ngantuk banget." Mala mengangguk mengiyakan kemudian beranjak berdiri bersama Evant dan berjalan menuju kamar. Ketika Mala dan Evant masuk ke dalam kamar, Evant tidak lupa menutup pintu kamar mereka dengan rapat dan bersamaan dengan Mala yang langsung berbaring di atas tempat tidur tepat di bagian kanan yang berada dekat dengan pintu kamar. Setelah menutup pintu kamar, Evant pun ikut berbaring tepat di samping sebelah kiri Mala. Setengah jam berlalu, tapi Mala dan Evant masih belum bisa tidur. "Kok malam ini hawanya agak pengap ya, Pah?" tanya Mala sambil memiringkan tubuhnya ke arah kanan tepat menghadap ke arah pintu kamar dan membelakangi Evant. "Iya, Mah. Malam ini hawanya sedikit pengap. Padahal AC-nya udah deras loh," sahut Evant ikut memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Mala yang membelakanginya. Ketika Mala memiringkan tubuhnya tepat menghadap ke arah pintu kamar, ia melihat gagang pintu kamar yang bergerak seolah-olah ada seseorang yang membuka pintu kamar. Evant juga melihatnya. Mala dan Evant mendengar suara khas dari engsel pintu kamar, dan dengan bersamaan mereka melihat pintu kamar itu terbuka dengan sendirinya. Mala dan Evant sontak beranjak duduk karena terkejut ketika melihat pintu kamar mereka terbuka sendiri. Kemudian mereka berdua saling tatap dan terdiam sejenak. Mala merasa yakin bahwa Evant suaminya juga percaya dengan hal janggal pada rumah yang mereka tempati setelah sama-sama melihat ketika pintu kamar mereka yang terbuka dengan sendirinya itu. "Sebentar, Mah," ucap Evant pelan sambil beranjak turun dari tempat tidur dan menutup kembali pintu kamar mereka. Kini Evant tak lupa untuk mengunci pintu kamar itu, "Kayaknya tadi aku enggak nutup rapat, jadi kebuka sendiri pas ditiup angin, Mah," ucap Evant sambil kembali ke tempat tidur. Seketika raut wajah Mala berubah menjadi kesal karena mendengar ucapan dan melihat tingkah Evant yang masih memungkiri dengan apa yang tadi dia lihat sendiri. Mala mendengus kesal sambil menghempaskan tubuhnya terlentang di atas tempat tidur dan langsung memejamkan kedua matanya tanpa mengucapkan satu patah katapun kepada Evant. Evant berusaha untuk tidak menghiraukan tingkah istrinya dan kembali berbaring tepat di samping kiri Mala. *** Suasana di dalam kamar semakin terasa sunyi dan hanya dibalut latar suara yang berasal dari hewan nokturnal, karena tepat di belakang rumah kediaman Mala dan Evant masih terdapat beberapa ratus meter tanah kosong yang di atasnya hanya ditumbuhi oleh pepohonan liar dan rerumputan liar. Masih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dalam posisi terlentang dengan kepalanya menghadap ke arah kiri, Mala tampak gelisah dan masih merasa hawa di dalam kamarnya sedikit pengap, padahal dia tahu kalau AC di dalam kamarnya dalam kondisi menyala. Karena tidak dapat tidur, akhirnya Mala pun membuka kedua matanya. Masih dalam posisi tubuh terlentang dengan kepala menghadap ke kiri, Mala terkejut setelah membuka kedua matanya dan merasakan ada sesuatu yang berat atau lebih tepatnya merasakan sesosok tubuh perempuan yang menindih tepat di atas tubuhnya. Ingin sekali Mala berteriak, tapi mulutnya seakan tak mampu mengeluarkan suara. Sekujur tubuhnya terasa kaku. Mala mencoba menolehkan kepalanya ke arah depan untuk lebih jelas melihat sosok itu, tapi kepalanya tidak dapat digerakkan dan hanya kedua matanya saja yang bisa dia gerakkan. Mala menyeret kedua bola matanya ke arah kanan dan melihat dengan jelas sosok perempuan yang menindih tubuhnya. Perempuan itu berbadan tinggi, rambutnya lebat seperti ijuk dan mengenakan pakaian putih yang lusuh dengan bercak tanah merah. Mala semakin takut dan ingin sekali berteriak meminta tolong kepada Evant, tapi tetap tidak bisa. Sedangkan Evant tertidur begitu pulas dan tidak tahu dengan apa yang dialami istrinya. Dalam rasa takut yang masih menyelimutinya, Mala pasrah dan memejamkan kedua matanya, kemudian membacakan do'a dari dalam hati. Setelah selesai membacakan do'a, perlahan Mala merasa bahwa sosok perempuan yang tadi mendindihi tubuhnya sudah menghilang dan akhirnya seluruh tubuh Mala sudah kembali bisa digerakkan. Mala langsung menarik nafas yang dalam dengan cepat, kemudian langsung membalikkan tubuhnya ke arah kanan. Tapi, Mala kembali terkejut ketika melihat boneka kecil yang tadi dibawakan Evant untuk Clara tiba-tiba tergeletak berbaring tepat di sampingnya dan wajah boneka kecil itu menatap ke arah Mala. Mala langsung meraih dan melemparkan boneka itu sampai jatuh ke lantai, kemudian berusaha membangunkan Evant, tapi tidak sempat karena tiba-tiba Mala merasakan tubuhnya menjadi lemas tidak berdaya sampai akhirnya ia pun tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD