Aku terus mencium bibir Ethan dengan buas sambil duduk mengangkang di atas perutnya. Alih-alih membalas, bibir Ethan malah diam kaku dan bergetar. Ia menarik wajahku, entah untuk yang keberapa kali. "Sayang, apakah kau benar-benar yakin kau yakin?" Aku tidak memperdulikannya dan memilih menarik lepas kaos Ethan. Otot-otot perutnya selalu berhasil membuat tubuhku terasa panas. Kuraba setiap inci tubuhnya. Aku melihatnya menahan napas dan itu membuatku tersenyum. Ethan kembali menahan wajahku ketika aku mencoba menciumnya lagi. "Hey, kau masih sakit. Aku bisa menung-" Aku langsung mengunci bibirnya karena dia sungguh membuatku kesal. "Tenang, okay? Aku yang perawan disini, bukan kau." Pipi Ethan langsung memerah. Kugunakan kesempatan itu untuk mencium lehernya. Sesekali menghisap kulitn

