Part 4

1089 Words
          Karin dan Nathan, bahkan beberapa karyawan lain tampak gelisah seraya menatap jam yang menempel di dinding dan pintu bergantian. Tentu saja menanti Azela, mereka benar benar belum siap kehilangan gadis itu. Belum lagi mereka mendapatkan tugas yang cukup berat dari pemimpin tertinggi mereka. "Kembali bekerja." Karin hanya mendengus kesal, melemparkan tatapanya pada Laura dengan sinis. "Selamat pagi." Decakan dan desahan lega terdengar saat mereka menemukan gadis yang tersenyum seraya memperbaiki kacamatanya memasuki ruangan. "Terima kasih, Tuhan," ucap Nathan dramatis yang membuat Azela tertawa kecil. "Aku pikir kau--" "Sudahlah, Karin. Aku tidak ingin membahas hal itu." "Baiklah. Tapi, kau tidak membawa sesuatu yang aneh di tasmu, bukan?" Azela kembali tertawa pelan, mengangkat tas selempangnya. "Tidak. Aku hanya membawa batu 'cantik' jika keluar dimalam hari." Karin membulatkan mulutnya dan Nathan seperti biasa bertingkah dramatis. "Kau benar-benar gila." "Ah, kudengar ada tugas baru untukku. Benarkah?" Tanya Azela tampak bersemangat, Karin berdecak dan menyenggol bahu Nathan. "Yep! Kita a--" "Tapi, maaf sebelumnya. Aku datang kemari hanya untuk mengambil barang-barangku." "Apa?!" Azela meringis pelan sebelum tersenyum simpul. "Jangan bercanda, Azela. " "Aku tidak bercanda. Aku sudah mengajukan surat pengunduran diriku sejak kemarin." "Azela, please. Kau tahu bukan siapa yang memintamu un--" "Dan aku tidak perduli." Ucapan Azela yang terdengar serius seketika membungkam Nathan dan membatalkan niat Karin merengek dan memelas pada Azela. "Baiklah, kami tidak bisa berbuat apa-apa. Semoga kau mendapat pekerjaan yang lebih baik." "Dan ingat untuk selalu menghubungi kami, mengerti?" Azela hanya tersenyum seraya mengangguk patuh pada kedua teman dekatnya ini. "Bisa bantu aku?" "Tentu saja." ***       Baru saja Azela memasukkan barang-barangnya kedalam mobil seseorang menyentak lengannya, mencenfkramnya dengan kuat hingga Azela tanpa sadar meringis kesakitan.  "Lepaskan aku, b******k!" teriak Azela saat menemukan Rafael dengan wajah memerah menahan marahdi sana.  "Kita perlu bicara, Zela!" "Apa lagi, Tuan Rafael? Lepaskan aku!" Azela berusaha melepaskan diri namun cengkraman Rafael begitu kuat hingga ia berani bersumpah lengannya akan membiru setelah ini. "Dengarkan penjelasanku dulu." "Penjelasan apa? Aku bahkan muak melihatmu." "Azela." "Jangan sebut namaku, b******k!" Rafael mengetatkan rahangnya, tidak tahu harus melakukan apa agar Azela mau mendengarkannya. "Tapi, kau tidak perlu mengundurkan diri." Azela berdecak kesal saat Rafael tak kunjung melepaskan cengramannya. "Terserah padaku."  Azela mengerang merasakan lengannya yang semakin menyakitkan.  "Please! A--" Azela tersentak saat seseorang mendorong Rafael dan mencengkram kerah bajunya dengan kuat. "Apa kau tuli?" Azela menelan salivanya susah payah saat mendengar suara berat yang begitu dalam memenuhi indra pendengarannya.  "Tu-Tuan Leo." Azela mundur selangkah, melihat Rafael tak berkutik saat disudutkan pada mobilnya. "Pergi."        Pria itu melepaskan Rafael yang bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Bukannya pengecut, hanya saja semua yang mengenal Leo akan lebih memilih untuk mati dari pada harus berurusan dengan pria menyeramkan itu. "Kau baik-baik saja?" Azela tersentak membuat Leo nyaris tersenyum. Namun, lebam yang melingkar di lengan gadis itu kembali menyulut kemarahannya. "Lenganmu." Azela mengernyit, baru menyadari jika lengannya memang benar-benar membiru seperti perkiraannya. "Itu harus diobati." Azela membulatkan matanya merasakan jemari panjang itu menelusup di antara jemarinya, mengirimkan getaran aneh hingga ke tulang-tulangnya. "Apa yang-" "Ayo." Azela menahan langkahnya, jantungnya bedegup makin kencang saat pria itu menoleh memerangkapnya dengan mata tajamnya yang menajam. "Kemana kita akan pergi?" Tanya Azela dengan pelan,  Ada senyum yang disudut pria itu yang membuat Azela makin kehilangan akalnya. "Apartemenku.  A-pa? **        Azela menahan emosi yang sedang berkecamuk didadanya saat jemari jemari panjang itu kembali menelusup diantara jemarinya, kembali melingkupinya dengan kehangatan yang membuat kuratan samar itu tidak beranjak dari keningnya. "Ayo, Azela" "Tapi tuan-" "Leo." Azela menelan salivanya susah payah mendengar suara berat itu kembali memenuhi indra pendengarannya. Kedua mata keemasannya bergerak liar dari punggung kokoh yang menariknya dengan lembut memasuki Apartemen mewah yang terlihat begitu maskulin dengan sentuhan ornamen dan sofa abu abu ditengah ruangan. "Duduk." Azela menghela nafasnya gusar, mengulum bibirnya saat Leo meninggalkannya seorang diri dan kembali dengan kotak obat ditangannya. "Terimakasih tapi aku-" "Tanganmu" "Tapi aku-" "Tanganmu, Azela" Geraman rendah itu membuat Azela nyaris lupa bernafas,  merasakan rongga dadanya yang semakin menggila dengan segala tanda tanya yang semakin memenuhi kepalanya.  Geraman itu. "Azela?" Azela mengerap sekali, mengulurkan tangannya dengan ragy masih tidak melepaskan tatapannya pada pria yang mulai mengobati lebam dilengannya. Apa itu hanya imajinasinya? "Hei " Azela terkesikap, merasakan sentuhan jemari panjang dilengannya dengan tatapan tajam yang menghujamnya.  "Ada apa denganmu? Kau baik baik saja?"         Azela membasahi tenggorokannya, tersenyum tipis dan beringsut menjauh dari sentuhan jemari jemari yang membuat jantungnya semakin menggila hingga ia ketakutan setengah mati pria ini akan mendengarnya.  "Aku baik baik saja, Terimakasi sudah membantuku sebanyak ini Tuan." Ucap Azela, berusaha mengabaikan rahang yang mengeras saat ia melakukan gerakan kecil yang tanpa ia sadari mengganggu pria dihadapannya. Mengabaikan isi dikepalanya dan gejolak yang memenuhi rongga dadanya.  "Panggil aku Leo."  "Tapi-" Suara Azela menghilang dalam pangutan liar dibibirnya, mencoba mendorong d**a bidang pria yang semakin mendesaknya dengan lengan kokoh dan jemari panjang yang terasa begitu panas dikulitnya  "Apa yang kau lakukan padaku!?"    Menggeram rendah, kembali mencuri ciuman dari bibir menggoda Azeka yang semakin terengah dalam pangutan liarnya.    Brengsek!  Leo memperdalam ciumannya, menggerakkan lengan lengan kokonya dan mengangkat tubuh mungil itu dengan cepat keatas pangkuannya sebelum bergegas bangkit. melesat cepat menuju kamarnya tanpa membiarkan gadis itu sempat untuk berbicara ataupun menolak sentuhannya.  "K-kau.." Azela membuka matanya semakin lebar dengan nafas yang terengah saat lengan lengan itu menghempaskan tubuhnya diatas peraduan selembut sutra dibawahnya. Menatap nyalang pria yang sedang menaunginya dengan tubuh tegap dan tatapan menggelap yang membuat Azela kehilangan akalnya dengan gejolak merasahkan yang menggila dirongga dadanya. Mata tajam itu. Mata yang menggelap itu. Rahang kokoh yang mengeras. Nafas terengah yang membelai kulitnya dengan menggoda. Dan jemari jemari yang meninggalkan jejak panas hingga jantungnya kembali menggila. Apa ini?  Apa apaan ini? Seseorang tolong bangun dia! "Aku menginginkanmu.' Berbisik rendah ditelinganya, menunduk mencuri satu kecupan dibibir Azela yang memerah menggoda sementara jemari panjang itu diam diam melepas kancing kemejanya. "Tapi-" "Tutup mulut manismu dan biarkan aku memasukimu." Azela lagi lagi menahan nafasnya, memejamkan mata saat bibir panas itu kembali jatuh dibibirnya sebelum baralih mengecup bahunya, naik kelekukan leher dan sepanjang garis rahangnya dengan hembusan nafas yang seolah membakarnya. Mencari tahu. Membenarkan isi kepalanya.  Memastikan jika ia sedang tidak kembali jatuh dalam mimpinya. Mimpi yang menghantuinya nyaris di sepanjang malam malamnya "Hei."     Azela menatap pria yang sedang berlutut menekuk kedua kakinya menggelap dengan rahang yang mengeras disana. Sesuatu yang entah mengapa tidak lagi terasa asing untuknya. "Kau tidak akan kemanapun setelah ini."     Detik berikutnya yang terdengar hanya erangan bersahutan dan nafas memburu yang salling beradu diudara.  Tanpa tahu.  Butiran kristal yang saling berdesakan  dari sudut mata keemasan itu. Menyadari malam panjang yang kembali merengkuh mereka pada kesalahan yang sama.  ** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD