Riuna menyentuh cermin itu. Ujung jemarinya tersedot masuk ke dalam cermin. Ia melangkah mundur dan ingin memberitahukan kepada ibunya. Namun, kesempatan ini bisa saja hilang jika ia pergi.
Riuna melepas sandalnya dan berharap ibunya paham jika dirinya tidak kembali karena ia telah pergi untuk mencari sang ayah.
Dengan d**a bergemuruh, takut, was-was dan campur aduk, Riuna kembali menyentuh cermin itu. Perlahan tangannya tersedot ke dalam hingga seluruh tubuhnya pun masuk ke dalam serpihan cermin kecil yang kini sudah berubah menjadi cermin biasa lagi. Cermin itu tergelatak di samping sepasang sandal yang ditinggalkan Riuna.
Riuna terjatuh di tanah yang gersang. Semuanya mati. Tak ada tumbuhan yang berdaun. Sungguh berbeda dengan apa yang diceritakan oleh ibunya.
"Apa mungkin ini bukan hutan Fantasia? Mengapa seperti ini?" tanya Riuna dalam hati.
Matanya menyapu ke segala arah. Tak melihat satu makhluk pun yang berada di sekitarnya.
Namun, sebuah gundukan tanah merah mengeluarkan cahaya terang. Sama seperti cahaya pada cermin yang ia lihat di dunia manusia.
"Apa itu?" tanya Riuna dalam hati.
Perlahan ia mendekati cahaya itu. Sebuah benda panjang keluar dari dalam tanah. Panjang, pipih dan terlihat kuat.
"Pedang? Apakah ini sebuah pedang?" gumam Riuna.
Rasa penasarannya yang tinggi membuat ia memegang gagang pedang itu tanpa ragu. Ada sesuatu yang membuat tangan Riuna terasa lebih kuat. Ia mencabut pedang itu dari dalam tanah. Hingga suatu keanehan pun terjadi.
Pedang itu tak lagi bercahaya. Semilir angin membuat rambut Riuna yang panjang berkibar menutupi wajahnya.
Sekelompok burung terbang di atas Riuna. Rerumputan mulai tumbuh. Pohon-pohon yang mati tiba-tiba hidup kembali. Pucuk-pucuk daun mulai tumbuh. Hutan yang gersang kini hijau dan asri.
Suara gemercik air sungai terdengar jelas di telinga Riuna. Ia berjalan mencari sumber suara itu di antara semak-semak dengan membawa pedang yang baru saja dicabutnya dengan mudah.
Riuna menghentikan langkahnya. Ia memejamkan mata dan mendengar derap langkah yang begitu berat sedang menghampirinya.
"Makhluk apa yang akan datang menghampiriku? Bagaimana jika aku mati sebelum bertemu ayahku?"
Riuna bersembunyi di balik pohon besar. Dengan kaki yang gemetar ia semakin merasakan kehadiran makhluk itu semakin dekat.
Burung-burung hinggap di ranting pohon besar di mana Riuna bersembunyi. Ia melihat seekor kupu-kupu raksasa berwarna kuning tengah terbang ke arahnya. Lantas, getaran karena langkah misterius itu pun semakin dekat hingga tubuh Riuna tak bisa berdiri seimbang.
"Terima kasih sudah datang, Tuanku. Anda adalah penyelamat kami," kata sesosok makhluk besar dengan senjata sebuah tombak di tangan kanannya dan pedang yang menggantung di pinggangnya.
Riuna memberanikan diri untuk keluar. Pedang yang ada ditangannya masih ia genggam dengan erat.
Gadis berambut panjang ini terjatuh saat melihat raksasa berwarna putih dengan tanduk panjang, taring runcing serta mata yang merah.
Pun dengan raksasa putih itu yang sama-sama terkejut melihat Riuna yang ternyata seorang wanita.
"Kau seorang wanita?" tanya raksasa putih itu.
"I ... i ... iya," kata Riuna dengan gemetar.
"Bagaimana bisa kamu mendapatkan pedang itu?"
"Pedang ini muncul di hadapanku saat aku baru saja masuk ke dunia ini. Aku mencabutnya dan hutan berubah seketika," jawab Riuna.
"Apakah kau bukan berasal dari sini?"
"Tidak. Aku tidak berasal dari sini. Aku hanya ingin mencari ayahku. Ayahku berasal dari sini."
"Siapa ayahmu?"
"Ryumet."
Raksasa itu duduk melamun. Matanya yang merah mengeluarkan air mata. Begitu juga seekor kupu-kupu raksasa kuning yang kini hinggap di bahu raksasa itu.
"Kau tau pedang siapa yang ada di tanganmu?" tanya Raksasa putih itu.
Riuna menggeleng. Ia sedikit lebih tenang setelah melihat raksasa itu menangis.
"Pedang itu adalah pedang Akoman. Pedang milik raja yang kini sudah wafat."
"Apa? Jadi Sam sudah wafat? Sam yang diceritakan ibuku? Lalu bagaimana dengan ayahku? Apakah kau mengenalnya?" tanya Riuna dengan mata yang berkaca-kaca.
"Jadi kau putri dari Mentari?"
"Ya," jawab Riuna.
"Semuanya sudah tewas. Hanya aku yang tersisa bersama satu peri hutan ini," tunjuk raksasa itu pada seekor kupu-kupu yang masih hinggap di bahunya.
"Jadi ayah sudah tidak ada. Aku belum pernah melihatnya. Aku harus bagaimana sekarang?"
"Kamu ditakdirkan menjadi penyelamat hutan Fantasia. Sam masih memiliki hubungan darah dengan ayahmu. Kejadian ini terulang setelah berpuluh-puluh tahun lalu."
"Terulang? Aku tidak mengerti."
"Sam datang sebagai penyelamat hutan Fantasia dari ulah Ratu Angsa Hitam dan Tiggy. Kini kau datang untuk menyelamatkan hutan dan Raja yang berada di bawah kendali pedang Dambala dan hasutan lawan. Kau adalah penyelamat!"
"Kenapa kau berkata seperti itu? Siapa kau sebenarnya? Mengapa hanya kau yang hidup?"
"Aku Nackromet. Panggil aku Nack. Aku panglima perang sekaligus pelindung para raja. Aku sudah mengabdi kepada dua raja terdahulu. Aku harus hidup untuk menemukan raja sekarang yang telah pergi. Kini aku tidak sendiri lagi, sepertinya pedang Akoman milik Sam memilihmu sebagai tuannya untuk menyelamatkan Ruwan. Raja hutan Fantasia saat ini."
Kematian Ratu Angsa Hitam dan Tiggy oleh Sam dan para pengikutnya membuat keturunan makhluk jahat itu yang bernama Danz melakukan balas dendam.
Ia memperalat Ruwan, putra dari Samuel dan Naina dengan sayatan pedangnya yang sudah diberi darah beracun sehingga membuat Ruwan berada di bawah kendali Danz.
Masalah diperburuk ketika Sam menghadiahi Ruwan sebuah pedang yang diberi nama pedang Dambala. Sebuah pedang yang ditempa kurang sempurna. Sehingga membuat sang pemilik pedang justru dikuasai kekuatan jahat dari pedang itu.
Ruwan yang baru saja dewasa sengaja melepas sebuah segel kekuatan yang diberikan Sam. Kekuatannya pun menjadi tidak terkendali. Pedang Dambala yang harusnya ditempa ulang dengan baluran darah Ruwan untuk menyempurnakan kekuatan sudah terlanjur dicabut dari sarungnya.
Ruwan membabi buta membunuh semua yang ada di hadapannya. Termasuk kedua orang tuanya dan Ryumet.
"Mengapa aku yang terpilih menjadi sang penyelamat, Nack? Kenapa tidak orang lain saja?"
"Karena kamu adalah keturunan terakhir dari bangsa serigala yang sudah turun temurun menjadi raja. Kau dan Ruwan. Pada akhirnya akan ada dua pilihan untukmu. Membunuh Ruwan dan kau menjadi Ratu, atau kau menyelamatkan Ruwan dengan pedangmu dan menjadikannya raja lagi."
"Menyelamatkan Ruwan dengan pedangku? Apa maksudmu aku harus membunuh Ruwan?"
"Kau tau? Pedang Akoman adalah pedang yang istimewa. Pedang dengan dua fungsi. Sebagai pedang pembunuh untuk lawan dan sebagai penyembuh untuk teman. Kau bisa menyelamatkan temanmu yang terluka parah sekalipun dengan cara menghunuskan pedang Akoman ke jantunganya."
"Benarkah? Seistimewa ini pedang Akoman itu?"
"Ryumet akan bangga jika kau bisa menyelamatkan hutan Fantasia."
Nack menunjukkan sebuah gelang hitam bertuliskan Samuel pada Riuna. Gelang itu merupakan segel dari Sam agar kekuatannya terkunci. Setelah Sam bisa mengendalikan kekuatannya tanpa segel, gelang itu diberikan kepada Ruwan. Sayangnya, Ruwan sengaja melepas dan membuangnya.
"Ryumet tewas saat akan memakaikan gelang ini pada tangan Ruwan," kata Nack.
"Kau melihat kejadian itu?" tanya Riuna.
"Ya. Aku melihatnya. Ryu bertarung mati-matian agar gelang itu bisa diikatkan di pergelangan tangan Ruwan. Tetapi pedang Dambala milik Ruwan terlebih dahulu menghujam jantungnya. Teruskanlah perjuangan ayahmu untuk memakaikan gelang ini pada Ruwan, Riuna."
Riuna mengambil gelang itu dan menjadikannya sebagai ikat rambut. Ia berjanji pada diri sendiri akan membuat ayahnya bangga.
"Aku harus menyelamatkan Ruwan dan hutan ini!" batin Riuna.
Peri hutan tiba-tiba terbang tak beraturan. Ia mengisyaratkan jika ada bahaya yang tengah mengintai.
Nack bersiap dengan tombaknya. Ia akan melindungi Riuna dari bahaya.
"Ada apa, Nack?" tanya Riuna yang panik.
Seekor burung terjatuh di depan Riuna. Burung itu perlahan menyusut dan darahnya mengering. Hingga tampak bulu-bulu yang rontok meninggalkan kulit yang mengeriput.
"Kenapa dengan burung ini?" tanya Riuna.
"Sial! Ini akibat ulah semut Vandmus," jawab Nack dengan geram.