12

1130 Words

Dengan tidak di buat-buat Ronal kembali ke kodratnya menjadi pejantan. Dengan stelan celana jens kaos putih di padukan jaket kulit, Ronal tampak tampan dengan aura maskulinnya. Dengan penuh percaya diri ia berucap, "Apa kau menyukai ketampanan ku beby?," tanya Ronal sambil menyisir rambut dengan jemarinya. "Orang narsir tidak perlu meminta pendapat orang lain, itu akan sangat menyebalkan bagi orang yang menjawab" "Ayolah beby.. setidaknya seumur hidup mu kau pernah memuji satu pria tampan, wajah ku di atas rata-rata banyak gadis yang mengincar diri ku. Kau tidak akan menurunkan selera mu." Tingkah konyol Ronal membuat wajah tampannya tidak terlihat di mata Jullia, Jullia mengejek dengan sisi sosiopatnya, "aku lebih menyukai wajah mayat pria, setidaknya dia tidak banyak bicara." menden

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD