Jullia dengan anggun berjalan duduk di kursinya. Jonnatan sangat terkejut, ia tampak berfikir. sejak kapan Jullia menjadi rekannya?, bagaimana ia tidak mengetahui soal ini?. Bukankah Jullia telah menolak tawaran menjadi rekannya?. Ini di luar perkiraan. Setiap teringat Jullia, penderitaan akan melandanya. Jonnatan bukan pria yang suka mengekpresikan emosinya. Ada banyak wanita yang mengelilinginys, tapi ia tidak sedikitpun melirik mereka. Jonnatan kembali fokus pada seluruh petinggi, tiba-tiba ia merasa tidak senang. Suhu ruangan mendadak turun drastis menjadi sangat dingin seolah aura kegelapan memenuhi balroom. Mata elang Jonnatan berubah sangat tajam, pandangannya membuat lutut siapa saja akan lemas. Para petinggi mulai menyadari, mereka bergidik ngeri. Perhatian mereka yang awalny

