Lisya menatap kedua sahabatnya bergantian. Farah tengah menatap Naya dengan mata jahil, dan jangan lupakan salah satu alisnya yang ia gerak-gerakkan. Sementara Naya sedang memberi Farah kerutan dahi, seperti isyarat mengancam. "Ini kalau nggak ada yang mau ngomong aku cubit nih ya," ancam Lisya. Farah yang kemudian tertawa malah semakin membuatnya bingung. "Kenapa, sih?" "Nggak apa-apa kok," ujar Naya sebelum Lisya semakin curiga. Tapi tentu saja dia salah karena Lisya sudah merapatkan tubuh ke Farah. "Kamu temenku kan, Rah? Cepet bilang ada apa!" "Tadi pagi-pagi buta Farha ke pasar." "Iya, terus?" "Dia bilang ketemu Naya di sana." Kepala Lisya tertoleh ke Naya. "Serius, Nay? Kamu pagi-pagi ke pasar? Ngapain? Nyari keong?" tanya Lisya sambil terkikik keheranan. "Sama Mas Dean." "

