Hari Kedua

2947 Words
Piring-piring berwarna putih dengan sedikit aksen hijau di bagian tepinya—kesayangan Kak Vio, sudah berjejer rapi di kabinet setelah dicuci dan dilap sampai mengkilap. Varrel baru saja selesai menyantap galantine, salah satu panganan daging giling yang dibumbui rempah beragam dan dimasak sampai matang lalu dipanggang dengan sedikit butter. Masakan Kak Vionya memang bukan kaleng-kaleng lagi. Dulu, kakak kandungnya itu pernah sukses menjadi pebisnis katering sebelum akhirnya memutuskan  berhenti dan sekarang bergelut dengan bisnis gaun pengantin. Herannya, dia selalu sukses, entah apa yang dilakukan Kak Vio sampai bisa sebaik itu membangun armada bisnis, apa dia melakukan pesugihan atau membeli ajian-ajian penglaris? Varrel tidak tahu. Yang jelas dia harus belajar banyak darinya. Di luar hujan lagi, setelah tadi sempat berhenti. Di belakangnya, Bang Alan—suami Kak Vio, masih sibuk menata meja setelah mengelapnya sampai mengkilap dan bersih, kinclong kembali. Ini juga, kenapa laki-laki bisa sebaik dan sebersih ini? Kak Vio dan Bang Alan sepakat untuk berbagi tugas rumahan, Kakak memasak dan Abang yang membersihkan setelahnya. Dua orang ini adalah panutan untuk Varrel, diam-diam dia sangat mengidolakan kakak dan iparnya. Mereka pasangan muda yang sukses dan bahagia. Hanya tinggal satu lagi, seorang anak—mereka belum memilikinya dan kedatangan Varrel kemari adalah untuk membantu Kak Vio agar lebih cepat hamil seorang bayi, meski obrolan itu harus berhenti tanpa ada rencana, karena Bang Alan terlihat kurang semangat melakukannya. Kenapa, ya? “Abang ke kamar dulu, Kamu mandi, sholat isya abis itu kita main ke luar.” Varrel mengangguk senang, dia selalu suka acara berliburnya dengan Bang Alan—panutannya. Kemudian segera mengeringkan tangan bekas mencuci piring, dan beralih pada ponselnya yang menyala-nyala beberapa kali.  Alih-alih menuruti perkataan iparnya, ia justru kembali duduk di kursi makan sambil menggulir-gulirkan layar. Ipeh: Abang, Ipeh udah follow Instagramnya Bang Varrel, Abang follback dong. Abis itu di bio tulis nama Ipeh pake tanda hati merah hehehe. Rasanya sekarang malah Varrel yang sedang dikerjai oleh bocah ingusan tadi. Anak perempuan dengan kulit sawo matang yang sangat manis, memesona, seolah dia sudah menyedot kecantikan lebih dari setengah  populasi manusia di Indonesia. Maaf ya, tapi Varrel kesulitan mendeskripsikan anak perempuan itu. Yang jelas dia cantik, ekslusif, sampai membuat pergerakan benda dan udara terhenti saat tadi baru masuk ke butik untuk pertama kali. Ipeh: Bang Varrel, gak mau ya? Dia mengirim pesan lagi, bahkan Varrel hanya mengambil jeda kurang dari dua menit saja. Varrel: Boleh, Abang follback, ya. Tapi gak mau kalau harus pakai tulisan di bio itu, gak apa-apa? Alay sekali, ya ampun. Ipeh: Iya, Bang gak apa-apa. Tapi kalo di bio i********: Ipeh, boleh kan? Biar orang-orang tahu kalo Ipeh punya pacar yang ganteng kayak Abang. Varrel berusaha keras mengulum senyumnya, dia sering sih disebut ganteng atau apa, kadang Varrel juga sadar akan potensinya ini. Tapi berhubung telinganya juga pengang karena Kak Vio tidak jarang mampir untuk menghinanya, Varrel tidak terlalu menganggap dirinya menarik. Para kakak memang ahlinya membuat adik-adik baik hati teraniaya seperti Varrel, merasa insecure, kurang pede dan tidak menonjol. Kak Vio memiliki semua yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup dengan baik. Dia menarik, dia pandai dan cerdik—meski tidak dalam hal akademis, dia selalu bisa survive dengan cara yang mengagumkan, dia menonjol dan berani, dia independen. Kak Vio adalah gambaran sosok mama yang dua kali lipat lebih perkasa di mata Varrel. Dan karena itu semua dia selalu jadi si nomor dua. Tersingkir, tidak bisa sepenuhnya menjadi pengganti mendiang papa di keluarga kecil mereka, karena Kak Vio justru lebih gentle dari dirinya yang notabene laki-laki dan punya burung, juga dua telur  yang dia gondol terus ke mana-mana. Back to case, Athifah atau Ipeh, Varrel memutuskan untuk mengikuti akun Instagramnya melalui surel yang Ipeh kirimkan. Dan begitu surel itu dibuka, sebuah akun terhubung dengan puluhan ribu followers di atasnya. Memajang foto seorang gadis cantik yang rambutnya dicat warna bulu Mufasa—ayahnya Simba, memakai anting dengan kristal sebesar bola tenis meja, menatap penuh khariSMA. Cantik, Varrel terkesima. Dari sana juga ia tahu bahwa, Ipeh adalah jenis anak Jakarta hits dan berasal dari keluarga kaya, dilihat bagaimana gaya hidupnya serta barang-barang branded yang menempel di badan. Seperti tadi misalnya, sepatu Balenciaga yang basah karena air hujan, dan Varrel tahu harganya tidak berkisar ratusan ribu saja. Rakjel sepertinya, can’t relate. Dia cuma anak yatim yang tidak mendapat jatah pensiunan mendiang papa, hanya punya mama seorang guru sekolah dasar dan kakak perempuan yang menghidupinya. Varrel bukan jenis orang yang bisa mengimbangi Ipeh, bahkan hanya dilihat dari feeds Instagramnya saja. Dia anak daerah, bukan anak Jaksel seperti Ipeh, Varrel datang sesekali ke Jakarta untuk liburan sekaligus membantu kakaknya di butik seperti tadi siang. Tiba-tiba saja, rasa rendah diri yang sudah lama terkubur dalam jiwanya meluap-luap. Varrel harus berpikir seribu kali kalau hanya sekadar ingin menjahili Ipeh dalam waktu dua minggu yang diberikannya. Ipeh: Makasih udah follow i********: Ipeh ya, Bang. Varrel: Sama-sama. Ipeh: Abang lagi apa? Mau ke mana? Ada rencana keluar gak? Varrel: Abis makan malam, dan cuci piring. Ada rencana keluar sama ipar. Ipeh: Cuci piring? Ya ampun, Abang emang suami masa depan Ipeh, uwu. Anyway, kalo mau nongkrong coba ke daerah Kemang deh, ada kafe kucing di sana, lucu banget. Abang suka kucing, gak? Varrel memandangi layar ponselnya yang menampilkan profil gadis SMA super berani masa kini bernama Athifah. Rasanya mereka seperti sudah akrab sejak lama, dan itu tidak baik. Dia baru bertemu Ipeh hari ini, siang tadi, tanpa berpikir apa-apa meski memang sempat terpesona karena—ya, siapa sih orang yang matanya normal lalu melihat Ipeh berkeliaran di sekitar mereka dan merasa baik-baik saja? Tapi itu bukan jenis perasaan suka atau apa, hanya kagum ya. Varrel meyakini. Varrel: Gak begitu suka. Tapi okelah. Ipeh  Ya udah datang ke Kemang aja, namanya Bahtera Diamanta hihihi. Itu semua peliharaan Ipeh, kalo ada yang Abang suka, boleh bawa pulang. Tunggu, jadi … kafe di Kemang yang barusan dijadikan referensi untuk tempat Varrel dan Bang Alan nongkrong itu kafe punya Athifah? Benar begitu? Kemang lho ini, salah satu kawasan elit di Jakarta, dan Ipeh salah satu pemilik—ah, mungkin anak pemilik kafe di sana. Varrel sedang berurusan dengan anak orang kaya. Nala: Iyel, lagi sibuk, ya? Ada yang mau kutanyakan, tapi Kak Vio gak membalas pesan. Nala, nama gadis itu muncul lagi di kepala. Dan meskipun dia berusaha keras mengubur nama Nala beserta kenangan tentangnya, tapi Nala tidak pernah benar-benar pergi. Varrel selalu—dengan bodohnya, menyisakan sedikit sudut hati untuk ditempati oleh Nala, dan tidak membiarkan siapa pun datang untuk mengambil alih. Dia tidak membiarkannya. Varrel: Tanya apa? Nala: Oh, gak jadi. Ini Kak Vio ada balas pesanku. Makasih ya, Iyel. Dan Varrel benci dengan hubungan mereka yang masih kelihatan baik-baik saja sampai saat ini. Walaupun harusnya dia sudah lama menyingkirkan Nala dari sekitar pergerakan hidupnya, atau minimal pura-pura tidak mengenalnya lagi.  Gobloknya, dia tidak bisa. Salah satu penyebab kenapa Varrel masih jomblo sampai … tadi siang, iya—sebelum ada gadis gila yang merengek untuk dipacari, Varrel tidak pernah membuka hati untuk siapa pun, apalagi membiarkan seseorang memasukinya begitu saja. Seperti yang dilakukan Athifah kepadanya. Tunggu, dia ini kenapa sih sebenarnya?   ****     “Bang Varrel!” Suara Athifah yang memanggilnya dari balik pagar membuat d**a Varrel terkesiap. Cukup lama dia memutari daerah perumahan di kawasan Cilandak ini setelah Ipeh mengirimkan tag location di surel-nya. Varrel segera memasang senyum begitu pagar rumah dibuka, dan Athifah muncul dibaliknya. Dia memakai setelan pendek, diikuti seorang wanita setengah baya yang berdiri kira-kira tiga meter di belakangnya. “Halo, Bang Varrel. Welcome to my house.” Ipeh tersenyum, matanya bergerak tidak fokus dan tanpa menunggu jawaban Varrel dia mempersilahkan cowok itu masuk. “Ini tamunya?” Wanita di belakang Ipeh tadi juga ikut tersenyum, memberi sambutan hangat. Dan Varrel, dengan kearifan lokalnya segera membalas senyum sambil mengulurkan tangan dan menciumnya untuk bersalaman ala-ala anak muda yang santun. “Saya Varrel,” ujarnya gugup. Tidak tahu harus seperti apa memperkenalkan diri dengan benar. “Salam kenal ya, Tante.” Wanita itu tampak terkejut, dia melirik Ipeh beberapa detik sebelum melanjutkan, “saya yang ngasuh Non Ipeh dari kecil di rumah ini, Mas. Gak usah panggil tante, panggil aja Bibi.” Kepala Varrel memutar dan melihat Ipeh dengan wajah keunguannya menahan tawa. Jadi, Varrel sudah membuat kesan bodoh pada kunjungannya untuk kali pertama ke rumah pacar. Iya, pacar. Putuskan saja begitu. Lagi pula penampilan si bibi lebih keren jika hanya berpangkat sebagai asisten rumah tangga atau pengasuh Ipeh saja. Baik, lupakan. Varrel memutuskan berdamai dengan hal itu, walaupun delapan puluh persen dari dirinya merasa tidak yakin. Dia baru mengenal Ipeh kemarin, dan sekonyong-konyong diajak berpacaran, tanpa permulaan yang jelas sama sekali. Hanya karena rengekannya yang susah disingkirkan untuk pulang ke rumah, Varrel menerimanya begitu saja. Tanpa alasan, tanpa kejelasan. Walaupun, ada tenggat waktu dua minggu yang harus dipenuhi Ipeh untuk membuat Varrel menyukai atau justru sebaliknya. Dan rencananya—di awal, adalah membuat hubungan konyol ini menjadi neraka untuk Ipeh, tapi yang terjadi justru di luar dugaan. Sangat di luar dugaan. Dia malah ingin tahu dan mengenal Ipeh lebih jauh. Pasti, seseorang punya alasan untuk cinta pada pandangan pertama, sekonyol apa pun, tapi ketertarikan secara fisik—berhubung Varrel gantengnya super, itu tidak termasuk. Orang ganteng dan cantik di dunia ini banyak sekali. Lalu apakah orang-orang mulai gila dan jatuh cinta serta memaksa untuk dijadikan pacar hanya karena kagum pada penampakannya di pertemuan pertama? Kecuali dia bintang besar dan idol Kpop, selebihnya tidak mungkin. Orang-orang pada umumnya masih punya otak dan juga urat malu. Entah mungkin Ipeh adalah pengecualian. Varrel penasaran, apakah dia pernah membantu Ipeh di masa lalu sampai gadis itu mengajaknya berpacaran di hari pertama berjumpa? Atau … mungkin Varrel mirip dengan, mantan pacarnya? Atau … yang lebih masuk akal, dia menjadi pengagum rahasia diam-diam sebelum kemarin memutuskan untuk mengutarakan perasaan? Banyak sekali kemungkinan, dan tidak ada petunjuk yang paling menonjol untuk sekadar memperkirakan apa alasannya. Jadi, di sinilah Varrel sekarang, menerima tawaran Ipeh untuk kencan pertama mereka, datang ke rumahnya, bertindak lebih tidak masuk akal dibanding kemarin demi menuntaskan rasa penasarannya. Lagi pula Ipeh dengan segala kepintaran, rayuan dan rengekannya itu membuat Varrel tidak bisa untuk menolak dengan tegas. Kecuali bagian dia mengganggu dan menelepon saat Varrel sibuk bermain game, sisanya Varrel lebih banyak menuruti kemauannya, sejak kemarin. Beberapa hal dipengaruhi oleh panutannya—Bang Alan, tentang bagaimana harusnya memperlakukan perempuan dengan baik berhubung Varrel punya kakak perempuan satu-satunya dan mama juga seorang perempuan, dan dia   lahir dari rahim perempuan. Varrel tidak boleh menyakiti perempuan, apa pun jenisnya. Jadi, meski Ipeh agak absurd, levelnya setara dengan perempuan-perempuan penting dan mulia dalam hidupnya. Varrel tidak boleh menyakiti Ipeh. Dia akan lakukan sebisanya, Varrel memberinya waktu dua minggu. “Abang …” Terkesiap, Ipeh tadi menyuruhnya menunggu dan si bodoh ini menghabiskan waktu untuk melamun sambil menganalisis panjang tanpa hasil. Sementara si empunya rumah naik ke kamarnya dan bibi pengasuh Ipeh sudah menghidangkan minuman berwarna hitam di atas meja—Varrel tidak tahu itu apa, dan sekarang Ipeh sudah kembali. Dia belum ingin meminumnya. Jadi begini, rumah Ipeh sangat luas dan modern, tiga kali lipat lebih luas dari rumah kakaknya dan bertingkat tiga—kurang lebih. Rumah orang kaya, dan dengan kelakuan anak gadis mereka yang super absurd seperti ini, Varrel tidak bisa menyangkal pikiran bahwa dirinya sedang dipancing untuk masuk lubang buaya sebagai tumbal pesugihan, korban penipuan hingga target pelecehan seksual. Bagaimana kalau dia tiba-tiba pingsan dan ginjalnya hilang setelah meminum cairan hitam di hadapannya itu, kan? Mungkin saja sumber kekayaan keluarga Ipeh berasal dari jual beli organ manusia, dan mereka mengandalkan anak gadisnya yang cantik sebagai umpan. Bodohnya, dia tidak memikirkan itu sebelum datang ke sini, tidak sama sekali. Tidak ada kecurigaan untuk dibunuh, dicuci otak ataupun diracuni. Oke, Varrel stop! “Abang lihat baju Ipeh, warnanya samaan kayak baju Bang Varrel, kan? Jadi kayak baju couple.” Ipeh memegang ujung-ujung bawah bajunya, jenis sweatshirt seperti yang Varrel kenakan—berhubung dia menyukai model pakaian seperti ini, seperti Bang Alan, dan warna baju mereka nyaris serupa. Kata Ipeh, seperti baju pasangan. Mari kita iyakan saja. Varrel tersenyum. “Iya,” ucapnya. “Bagus gak, Bang?” “Bagus, kok.” “Makasih, Bang Varrel.” Untungnya Ipeh bukan tipe gadis ribet bin riweuh seperti Kak Vio, salah bicara sedikit saja Bang Alan bisa ditelan hidup-hidup. Penggunaan kata seperti kok di akhir kalimat akan mengundang banyak sekali persepsi dan kesalahpahaman dari pihak kakaknya. Dia ingin pujian total, lugas dan terang-terangan, tanpa ada keraguan dan pemakluman di dalamnya. Ipeh lebih baik daripada perempuan itu, dia dapat satu poin lebih dari Varrel. Lalu Ipeh tersenyum riang dan menempatkan diri di kursi ruangan itu, tepat berhadapan dengan Varrel sambil memainkan gelas tinggi berwarna navy yang berisi cairan hitam—sama seperti miliknya, sebelum memutuskan untuk menyedot minumannya memakai sedotan stainless yang ada di kotak coklat samping kiri. Varrel tertegun untuk beberapa waktu. “Diminum, Bang.” Ipeh tersenyum malu-malu. “Mau pake sedotan atau diminum langsung?” Dia menawarkan kotak yang berisi penuh sedotan warna-warni, beberapa dari plastik, kaca dan stainless. Sedotan orang kaya. Ipeh, seperti rich people kebanyakan sedang mengampanyekan pengurangan sedotan plastik sekali pakai. Oke, Varrel mari berhenti membahas yang tidak-tidak. Kita ada misi penting untuk datang ke sini. “Ini apa sih, Peh?” Varrel memutuskan bertanya sebelum meminumnya, karena warna minuman itu hitam seperti kopi tapi bukan kopi, dia tahu itu. Ipeh melongok sebentar sebelum mengangkat gelasnya. “Sama kok kayak punya Ipeh.” Iya gue tau, tapi ini namanya minuman apaan, Oneng? “Oh, gitu ya udah.” Daripada memperpanjang perkara minuman, Varrel mengangkat gelasnya dan menyeruput sedikit dengan hati-hati. Khawatir rasanya aneh dan dia memuntahkan minuman itu dengan tidak sopan. Dan fix, rasanya memang aneh. Jangan-jangan memang racun atau sejenis obat bius jenis baru. “Abang gak pake sedotan? Gak apa-apa sih, Ipeh pake sedotan biar lipstiknya gak belepotan lagi dan harus touch up.” Kalimat itu mengundang Varrel untuk memperhatikan, berganti fokus dan menatap anak SMA yang pakai lipstik memangnya gimana sih? Tapi Ipeh, entah bisa disebut prestasi atau justru sebaliknya, mungkin hanya menempelkan selayang pewarna bibir kemerahan dan tidak terlihat memakai apa-apa. “Itu minuman soda favorit Ipeh dari kecil, Bang. Mama biasanya beli dari Kuala Lumpur karena di sini udah gak ada yang jual, Ipeh mau kasih Abang nyobain. Tapi kayaknya Bang Varrel kurang suka, ya?” “Eh, suka kok, suka.” Buru-buru Varrel menenggak minumannya lagi, kali ini lebih banyak—entah untuk apa tujuannya,  dia lupa perkara minuman beracun, dan anehnya rasa minuman itu kali ini lebih enak dibanding sebelumnya. “Ini tuh ya, Bang semakin diminum bakal semakin enak.” Ipeh, tepat seperti dugaan, mampu membaca pikirannya. “Iya,” jawabnya penuh senyuman. “Ipeh?” “Mama!” Athifah alias Ipeh, melonjak senang kala seorang wanita yang muncul dari pintu besar tempat pertama kali Varrel masuk ke rumah ini memanggil namanya. Dia melirik ke arah Varrel penuh tanya dan selidik, lalu memberikan senyum simpul kala Ipeh mencium tangannya saat bersalaman dan Varrel juga melakukan hal yang sama. “Jadi … yang ini orangnya?” orang yang dipanggil Mama oleh Ipeh barusan bertanya memastikan sambil melirik pada putrinya. “Iya.” Ipeh tersenyum malu. “Namanya siapa?” Kali ini jelas mama Ipeh bertanya padanya, tidak mungkin pada Ipeh, kan? Kenapa orang tua harus menanyakan nama anaknya sendiri, kecuali Ipeh bayi berusia dua tahun dan—oke cukup. “Nama saya Varrel, Tante.” Sekarang tidak mungkin salah mengenali bibi asisten dengan sang nyonya, Varrel jelas-jelas mendengar Ipeh memanggil perempuan ini dengan sebutan Mama. “Saya Mamanya Athifah.” Iya, udah tau. Gak mungkin Varrel jawab begitu, kan? Dia tersenyum dan mengangguk sopan. “Varrel orang mana? Ayo duduk-duduk, ngobrolnya sambil duduk.” Mamanya Ipeh duduk di kursi paling ujung, posisinya seperti pemimpin rapat dan Varrel, yang baru pertama kali bertemu Ipeh kemarin amat tidak siap menghadapi hal ini. Bertemu dengan orang tua pacarnya di hari ke dua dia berpacaran sekaligus berinteraksi dengan Ipeh. Tidak ada yang lebih menakjubkan daripada ini. Senam jantung pun bukan levelnya lagi. Seperti kuis dadakan dari dosennya. Bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan yang bahkan tidak pernah ia persiapkan jawabannya? Atau sekadar persiapan mental pun, tidak ada. “Saya orang Manado, Tante.” “Oh, ya? Pantes ganteng.” Mama Ipeh tersenyum dan saling lirik dengan anaknya yang juga tersenyum merona, sepertinya keluarga ini senang memuji orang. “Di sini tinggal sama siapa?” “Sama Kakak,” jawab Varrel singkat. Dan sampai dia sadar bahwa hal itu terlalu singkat, dia segera meneruskan. “Kakak saya menikah dengan seorang pegawai perusahaan di— “Kakaknya Bang Varrel ini yang punya Beauty Gown itu lho, Ma.” “Oh, iya?” mama Ipeh sedikit terguncang—sepertinya. “Saya kenal tuh sama kakaknya, Mbak Violeva, kan? Orangnya keren banget.” “Pantes adeknya juga keren ya, Ma.” Mama Ipeh terkekeh. “Iya,” ujarnya enteng. “Jadi, Varrel ini masih sekolah atau kuliah?” “Saya kuliah, Tante.” “Semester berapa? Di mana? Jurusan apa?” “Universitas Dell La Salle, juru— “Tunggu, itu di mana ya?” Mendadak, Ipeh dan mamanya menatap Varrel bersamaan. Mereka berdua seolah sangat asing dengan nama kampusnya atau memang tidak pernah dengar sebelum ini, Varrel juga tidak tahu.  “Di Manado, Tante.” “Manado?” Kali ini Ipeh justru bersuara paling keras, dia menatap Varrel dengan tatapan tidak habis pikir sebelum menutup mulutnya dengan dramatis dan melotot kaget. Oke, jadi dia belum tahu kan sebenarnya siapa laki-laki yang dipacarinya ini? “Saya ke Jakarta sesekali buat liburan, Tante. Saya asli orang Manado dan menetap di sana, mungkin besok atau lusa juga pulang ke Manado lagi.” “Bang Varrel!” Ipeh meneriakinya dengan kalut, dan entah kenapa Varrel justru senang mendengar nada panik itu. Dia mati-matian mengulum senyum, sebentar lagi drama pacaran atas pemaksaan ini akan berakhir, minimal sampai Varrel pulang lagi ke Manado, kan?     ****      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD