Athifah duduk di kursinya dan memilih tidak melakukan apa-apa. Mia—sekretaris kelas bilang, jam pelajaran berikutnya kosong dan ada tugas yang harus mereka kerjakan di buku cetak, dikumpulkan saat jam sekolah berakhir. Dan dibanding mengerjakan soal-soal itu, Ipeh lebih memilih duduk melamun di kursinya. Mengabaikan suara cempreng Ayu dan Mia, sahabatnya yang meminta dia segera mengerjakan. Mereka dengan baik hatinya memberikan Ipeh kemudahan untuk menyontek tanpa perlu usaha membujuk sama sekali.
“Ipeh, ayo kerjain!” itu kali ketiga Mia meneriakinya.
Meski semua warga kelas ini duduk di tempat, tapi kebisingan yang dihasilkan mulut-mulut di sana tidak dapat diantisipasi. Belum disebut bicara namanya kalau belum keluar urat-urat leher saat mengeluarkan suara. Percuma, tidak akan didengar. Mendadak kelas ini didominasi orang-orang budeg dan bebal saat guru mereka tidak masuk.
“Iya ih, Ipeh kenapa, sih? Ngelamun terus. Bang Varrel kenapa lagi, Peh?” kali ini giliran Ayu yang bicara, dan dia kelihatan sudah selesai menyalin tugasnya.
“Tolong dong …” Ipeh menyodorkan buku tugasnya yang masih kosong melompong, hanya ada garis-garis samar abu-abu hasil cetakan permanen dari pabrik kertas terpampang di sana.
“Abis ditolongin janji ya mau cerita?”
Ayu menyeret buku tugasnya dengan sukarela menyalin tugas-tugas itu, tidak peduli tatapan tajam dari Mia yang seakan bisa membunuh mereka berdua. Mia tidak pernah suka kalau Ipeh bermalas-malasan dan Ayu membantu temannya bertambah malas hanya karena iming-iming gosip tidak seberapa seperti sekarang.
“Ipeh,” panggil seorang cowok di hadapannya, Elin Setiawan. Cowok hitam manis asal Majalengka yang kabarnya ikut ayahnya merantau ke kota ini. Nama Elin memang sering membuat salah paham, tapi penampilannya tidak bisa disebut salah paham sama sekali.
Dia cowok berotot, senang olahraga, terbukti dari kulitnya yang terbakar matahari.
“Kenapa ya gue tuh tiap menatap Ipeh berasa lagi menatap masa depan?”
Elin tertawa, berhubung Mia sigap menggeplak punggungnya dengan gemas. Sementara Ipeh hanya tersenyum simpul, baginya digombali seperti ini adalah makanan setiap hari. Dan mengabaikan mereka adalah poin pentingnya.
Lagi pula, Elin apa tidak sadar ya kalau Mia jelas-jelas menyukainya? Amarah yang sering dikeluarkan Mia bukan sekadar iseng belaka, dia terlihat benar-benar cemburu dan tidak senang akan hal itu. Tapi mati-matian menyembunyikannya.
“Elin, udah selesai nugasnya? Mau beliin Ipeh es krim di kantin, gak?”
“Ipeh mau es krim? Mau yang rasa apa? Coklat? Stroberi? Vanila? Madu? Atau rasa yang dulu pernah ada?”
Ipeh terkekeh, melihat Elin menyimpan tangannya di meja sambil menopang dagu, seperti para koboi tengah membual. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ipeh mau yang cokelat, Mia yang stroberi, Ayu yang vanila coklat.”
“Ih, kenapa gue harus beliin dua kuman ini juga?”
“Heh!” Mia sudah bersiap mengangkat pensil case-nya tinggi-tinggi.
“Ipeh nitip buat mereka juga, ini uangnya.”
Saat Ipeh nyaris merogok saku, Elin memberi isyarat kalau dia tidak perlu melakukannya. “Gak usah Ipeh, gak usah.” Elin mengibas-ngibaskan tangan.
“Gak apa-apa, Ipeh nitip sekalian buat Ayu sama Mia.”
“Gak usah, Peh. Lagi gak pengen es krim.” Mia menyahut.
“Jadi maunya apa, Mi?”
Tidak ada yang perlu bertanya pada Ayu di sana karena dia hanyut dalam salin menyalin tugas, dan berhubung Ayu seorang Kpoper, dia nyaris tidak pernah menanggapi keberadaan cowok-cowok di sekitarnya. Entah dia diejek ataupun digombalin. Baginya, hanya para idola Korea yang pantas menerima segala bentuk cinta dan perhatian. Cowok-cowok seperti Elin selevel dengan amuba, kalau tidak bisa disebut tembus pandang sekalian.
“Udah, Peh biarin aja gue yang bayar. Kalo pengen sama temennya, gue mesti nyogok dua kuman ini juga, kan? Bentar ya, es krimnya dibeliin dulu. Tunggu aku sebentar saja ya, Beybeh!”
Elin, serta tiga teman setianya yang entah kenapa seperti anak ayam mengikuti induk segera menghilang setelah melewati pintu kelas. Dan itu adalah keuntungan untuk Ipeh karena dia sedang ingin menyingkirkan Elin dari hadapannya sekarang.
“Kenapa?”
Ipeh bertemu tatap dengan Mia untuk beberapa detik. Kadang ada rasa benci dalam dirinya, gara-gara dia Mia bahkan tidak punya kesempatan untuk mengutarakan perasaan pada Elin, atau bahkan sekadar dilirik oleh cowok itu sebagai salah satu perempuan yang patut dipertimbangkan, punya perasaan suka dan kagum kepadanya.
“Gak apa-apa, Mia. Sensi terus deh lo kalo abis ada Elin.” Ipeh tersenyum.
“Ya iya gimana gak risih coba? Kerjaannya ngerusuh aja, godain mulu temen gue pake mulut sampahnya yang murahan itu.”
Bagaimana ya rasanya harus bohong terus pada diri sendiri seperti itu? Apa Mia bahagia? Apa Mia masih tahan berteman dengannya?
Ipeh mengambil cermin kecil yang terselip di dalam pencil casenya, memandangi wajahnya sendiri dalam cermin itu. Dia tahu kalau sejak bayi orang-orang selalu menyebutnya cantik, tanpa usaha sekalipun. Tapi buat Ipeh, menjadi cantik justru sangat merepotkan. Dia nyaris tidak mendapat keuntungan apa-apa karenanya, hidup tidak tenang dan harus membiasakan diri dengan cat calling sepanjang hari di manapun dia berada.
Mulut orang-orang seperti tidak bisa direm untuk memberinya gombalan murahan ketika Ipeh tidak sengaja lewat. Mungkin ada beberapa yang tidak, dan Varrel adalah salah satunya. Nilai plus dari Ipeh untuk Varrel.
“Bang Varrel, kenapa lagi?” Mia membuka topik kembali, mengambil buku tugas Ipeh dari tangan Ayu dan menyelesaikan sisanya.
Dasar si tidak konsisten.
“Bang Varrel mau pulang kampung.”
“Hah?” Mia terperanjat.
“Emang kampungnya di mana? Jangan bilang dia orang Korea!”
Ayu menjerit heboh, karena baginya Varrel memang seganteng itu. Kiblat dan standarnya adalah cowok-cowok Korea, dan buat Ayu, visual Varrel bisa disejajarkan dengan Cha Eun Woo—saking gantengnya.
“Heh, Atipeh!”
Datang lagi seseorang—anak perempuan dengan perawakan tinggi langsing, kulit putih seperti kapas kecantikan, alis alami yang melengkung cantik di wajahnya, dan bibir merah muda manis berdiri di samping meja Ipeh. Tersenyum simpul menyungging di bibirnya.
“Cantik-cantik kok namanya Ipeh sih, Neng? Kayak nama babu aja.” Cecarnya sambil terkekeh.
“Lha, daripada lo, nama aja bagus tapi tampangnya tampang-tampang babi, eh—babu.”
Mia dan Ayu sontak tertawa, tapi tawa Ayu jauh lebih menggelegar. Dia menunjuk-nunjuk Niar—orang yang memulai percekcokan ini sambil tertawa nyaris lepas kontrol. Ayu memang tipe orang yang receh banget, gampang dibuat tertawa keras, sangat tidak kompatibel dengan namanya yang anggun.
“Lagian lo tuh ya tiap mau gangguin Ipeh gak kreatif banget sih, ngebahas nama panggilan mulu. Baru nyaho lo kan disebut babi eh—babu.”
Niar tersenyum miring, tidak terpengaruh. Entah apa masalahnya, atau memang salah satu syaraf otaknya ada yang putus, tapi buat Niar, mengganggu Ipeh adalah salah satu kesenangan tersendiri. Meski Ipeh lebih banyak mengabaikannya.
“Pergi deh lo, empet gue liat muka babu di sini.” Ipeh mengusirnya terang-terangan tanpa melihat wajah Niar sama sekali.
Siapa pun tahu dia sedang berbohong, mana bisa wajah seapik Niar disebut tipe wajah pembantu? Ipeh hanya sedang ingin membalasnya.
“Utututu … masih marah ya sama gue gara-gara Kak Kevin? Ya, gimana ya Peh, cantik itu penting, tapi otak lo harus pinter juga dan gue kira memperkenalkan nama kita ke orang-orang adalah kesan tersendiri. Kak Kevin pasti malu deh kalo ngenalin pacarnya itu si Ipeh, kayak pembantu ganjen di komplek sebelah rumahnya.”
Ipeh mengangkat wajah, menarik napas dan mengambil kuda-kuda sebelum membalasnya.
“Semua warga di Jaksel ini juga tau nama gue Athifah Dahayu Diamanta, nama gue cantik—kayak muka gue. Ipeh itu apa sih? Kayak buat menyamakan level kita aja, biar agak membumi gitu gue, gak terlalu melangit. Karena gak boleh ada yang sempurna di dunia ini, kan? Kasian ntar orang-orang kaya lo gak kebagian apa-apa karena semua yang bagus-bagus nempelnya di gue.”
Ipeh tersenyum sambil menopang dagunya dengan tangan, menaikkan sebelah alis. Dia tahu betul itu adalah bentuk ekspresi yang dibenci oleh Niar. Dan Ipeh juga tahu kalau kali ini dia keterlaluan, tapi salah sendiri Niar membahas topik Kak Kevin lebih dulu barusan. Dia masih marah pada hal itu, tidak terima.
“Iya sih bener, lo terlalu cantik dan terlalu gak real buat berkeliaran kayak gini. Sampe-sampe temen lo yang dua ini keliatan kayak dayang-dayang doang. Mereka jadi gak laku, tiap ada cowok yang ngedeketin pasti bakal mundur karena ngeliat lo dan lebih milih jadi cowok gila yang ngejar-ngejar lo aja. Kasian ya, temen-temennya Ipeh. Tapi kok kalian mau aja sih temenan sama calon pelakor massal kayak gini? Kayak gak ada temen lain aja.”
Niar melirik Mia dengan ekspresi yang jelas-jelas menyindir, sebelum akhirnya pergi berlalu setelah mengoceh dengan sangat kurang ajarnya barusan. Jangankan Ipeh, Mia saja langsung kicep, membenarkan kalimat itu tapi enggan mengakuinya. Dan suasana jadi benar-benar canggung setelah itu, sebelum Ayu datang sebagai penyelamat.
“Gue sih ya, kalo nemu cowok yang masih suka belok ke Ipeh padahal dia niatnya jadi pacar gue, pasti bakal gue tinggalin. Berarti dia gak baik buat gue kalo masih kegoda sama sahabat baik gue sendiri, ya … meskipun Ipeh emang cantiknya gak wajar banget ya. Tapi gue yakin sih, someday bakal ada cowok yang bener-bener cuma ngeliat gue aja gak peduli gimana cantiknya Ipeh. Yang bener-bener suka sama gue bahkan bisa jadi temen buat sahabat-sahabat gue juga. Gak akan nikung persahabatan kita.”
Ipeh melihat Mia menyunggingkan senyumnya setelah mendengar Ayu bicara dengan lugas, tanpa berpikir. Seolah-olah hal itu sama sekali tidak berat untuk dikatakan. Ayu tidak tahu, kalau Mia tidak berada di posisi itu, dia jatuh cinta pada cowok yang berada dalam jajaran penggemar beratnya Ipeh, bucin sejatinya Ipeh.
“Udah deh, biarin aja si Niar. Jadi Bang Varrel kenapa, Peh?”
Mia dengan cerdasnya segera mengalihkan topik, melanjutkan pembahasan yang sempat tertunda dan membuat Ipeh murung sejak pagi sampai tidak mau mengerjakan tugas sama sekali walau contekan sudah berada di depan matanya sekalipun. Dia tidak tertolong.
“Bang Varrel itu orang Manado! Dia datang ke Jakarta cuma buat liburan doang, bantuin kakaknya di butik. Gila gak? Gue cuma dikasih waktu dua minggu buat bikin dia suka sama gue dan lusa aja dia udah balik ke kampungnya. Gimana bisa coba gue berusaha? Apa gue udahan aja ya sama dia? Bayanginnya aja gue gak sanggup.”
Belum sedetik setelah ia menyelesaikan kalimatnya, Mia melotot dan Ayu menggoyang-goyangkan telunjuknya tepat di depan wajah Ipeh. Mereka melarangnya mengambil keputusan sepihak, tentu saja. Pantang baginya menyerah sebelum berperang.
“Belajar dari kasus Kak Kevin, mau sampai kapan lo nyerah dan gak berusaha buat menggapai hal-hal yang lo suka? Kalo Niar tau lo punya cowok seganteng Bang Varrel, dia gak akan segan-segan nyeruduk—bukan nikung lagi, dan yang terjadi sama Kak Kevin bakal keulang lagi di Bang Varrel!”
Kak Kevin adalah kakak kelas mereka dulu, dan Ipeh menyukainya sejak kelas satu. Sedangkan Niar, putri dari mantan sahabat mamanya. Dulu, bisa dibilang Ipeh sangat dekat dengan Niar, kira-kira sampai mereka Smp. Hubungan bisnis mama dan mamanya Niar yang hancur adalah sumber utama perselisihan di antara mereka bermula.
Entah kenapa sejak kafe yang dikelola orang tuanya bangkrut, Niar jadi seperti bundanya, dia marah pada Ipeh tanpa alasan. Dan sejak itu juga selalu berusaha menyainginya dalam segala hal. Selalu merusak banyak planning dan rencana Ipeh. Di mana Ipeh akan menonjol dan berprestasi, Niar muncul di sana, menyainginya, dan tidak akan berhenti sampai dia yang menang.
Dulu Ipeh suka memanah, dia suka berkuda, tapi sejak Niar ikut bergabung di komunitasnya, Ipeh memilih berhenti dan keluar. Niar mengikutinya ke manapun, bahkan saat masuk ke sekolah ini. Dia merebut banyak hal yang Ipeh sukai, parahnya sampai membuat Ipeh tidak menyukai hal itu lagi karena Niar jadi bayang-bayang buruk di kepalanya.
Waktu kecil, mereka bersaing secara sportif. Niar suka menari, dan Ipeh berkuda, mereka saling mendukung satu sama lain. Beranjak dewasa, keduanya terpecah seperti ini, Niar masih kompetitif, tapi Ipeh terlalu malas meladeninya. Dia bahkan ingin pindah ke planet yang tidak ada Niar di dalamnya. Mungkin Ipeh harus ikut mendaftar untuk pindah ke Mars suatu hari nanti.
Puncaknya adalah Kak Kevin, orang yang Ipeh sukai sejak lama tanpa berani dia gapai. Dan Niar mengetahui hal itu lantas merebutnya dengan mudah, nyaris tanpa usaha sama sekali. Niar gadis yang menarik, dia bisa mendapatkan apa pun dengan hanya menjentikkan jari.
Bukan salah Niar karena dia suka bersaing dengan Ipeh, ini salahnya karena memberikan semua pada Niar tanpa berniat melindungi. Menyerah pada mimpi-mimpinya yang Niar usik, menyerah pada … cinta pertamanya—Kak Kevin.
Untungnya sekarang Kak Kevin sudah tidak sekolah di sini lagi. Dia bebas pacaran dengan Niar di luar sana tanpa Ipeh pergoki, karena patah hatinya masih sangat berbekas.
Sebelum Bang Varrel datang ke hidupnya beberapa hari yang lalu.
“Ipeh, makanya kita suruh lo gercep ke Bang Varrel biar apa? Biar dia gak keburu diembat sama Niar! Bang Varrel seratus ribu kali lebih ganteng daripada Kak Kevin lo yang kelilipan jengkol itu. Jadi, please bisa gak sih kali ini lo bertahan? Gimana kalo si Niar denger soal ini dan ngerebut Bang Varrel terus dia kuat LDR-an Jakarta Manado, hah? Lo mau kalah lagi dari dia? Kalo lo gitu terus ya, selamanya lo gak akan punya apa-apa selain temen-temen b***k kayak kita berdua!”
Beruntung, Ayu segera menyadarkannya dan Mia juga menyetujui hal itu dengan tatapan memberi semangat. Mereka benar, Ayu dan Mia benar. Ipeh sudah begitu banyak memberikan banyak hal pada Niar, menyerah begitu saja tanpa berusaha mempertahankan.
Untuk kali ini saja—Bang Varrel, cowok yang membuat kepala Ipeh berputar pada pandangan pertama, boleh kan dia keras kepala untuk kali ini? Wajar tidak kalau Ipeh ingin berusaha mati-matian untuk yang satu ini?
“Tapi ya gue kira Bang Varrel bakal gampang gitu, gak nyangka gue dia ngasih waktu dua minggu doang buat bikin gue suka sama dia. Gak semua orang suka sama gue ternyata.”
Ipeh bersuara dengan murung. Dia tahu sih, tidak selamanya penampilan fisik adalah yang utama, tapi dia melihat tatapan Varrel saat mencoba gaun putih gading pilihannya, itu tatapan terpesona, Ipeh tahu. Dan di luar dugaan, bagi Varrel dirinya hanya anak kecil yang putus asa minta dijadikan pacar di hari pertama berjumpa.
Meskipun sebenarnya iya sih. Tapi itu karena Ipeh tidak pernah ditolak sebelumnya, dia bahkan tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Kak Kevin selama bertahun-tahun. Dan Varrel yang awalnya dia anggap menyukainya, menolak begitu saja tanpa menimbang apa pun. Setidaknya dia mempertimbangkan punya pacar yang cantik, kan?
Padahal jelas-jelas Mia bilang, di dunia ini tidak akan ada cowok yang menolaknya. Dan Kak Kevin, andai Ipeh punya keberanian lebih, mengungkapkan perasaannya selama ini, pasti akan berpaling dengan mudah dari Niar. Walau risikonya Ipeh akan dijuluki pelakor. Kehadiran Bang Varrel seperti oase di gurun pasir untuknya. Meski setelah itu Ipeh melakukan hal-hal yang gila.
“Gimana kalo gini aja, dua minggu yang dikasih Bang Varrel waktu lo gak tau dia orang Manado, kan? Berhubung LDR, itu pasti susah lah! Bilang aja kurang waktunya gitu, minta tambah lagi.” Tiba-tiba Mia bicara dan mencetuskan ide brilian.
Benar juga, kok gak kepikiran ya?
“Jadi berapa minggu, Mi?”
“Tiga bulan!” ucapnya dengan senyum penuh kebanggaan.
Ipeh ikut menarik sudut bibir dan tersenyum kepadanya. Ada pendar-pendar kekaguman dan rasa bangga yang terpancar dari Ipeh untuk Mia—sahabatnya. Dia mengangguk setuju. “Bener juga ya.”
****