Malam menggantung berat di atas kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Lampu-lampu industri berwarna jingga pucat berderet memanjang, memantul di permukaan kontainer baja yang tersusun seperti labirin raksasa. Angin laut berembus pelan—lalu, tanpa peringatan, suhu udara anjlok drastis. Uap putih keluar dari sela-sela besi, embun membeku di tepi kontainer, dan suara logam berderit lirih seakan merintih menahan dingin yang tak wajar.
FWOOOSSHHH—!
Sosok berjubah hitam dengan tudung menutupi wajahnya melesat di udara, melompat dari satu kontainer ke kontainer lain. Setiap pijakannya nyaris tak bersuara, namun ritme napasnya tak bisa disembunyikan.
“Haah… haah… haah…”
Bahu kanan dan lengan kanannya telah membeku setengah—lapisan es pucat merayap seperti penyakit, membuat gerakannya kaku. Ia berlari zig-zag, berbelok tajam di antara celah sempit kontainer, sesekali memantulkan diri dari dinding baja untuk mengubah arah. Ia tahu persis: jika ia lurus, ia mati. Jika ia lambat, ia mati.
Di belakangnya, keheningan bergerak.
Tak ada langkah berat. Tak ada teriakan. Hanya dingin yang makin menusuk, dan suara halus—napas yang berhembus tenang, nyaris elegan.
Sosok berjubah itu menoleh sekilas. Di kejauhan, bayangan seorang wanita berjalan santai di udara yang membeku, setiap langkahnya menciptakan pijakan es bening berbentuk kelopak kristal. Gaun tempur putih-biru berkilau tertimpa cahaya lampu pelabuhan, dan pedang es di tangannya memantulkan kilatan tajam.
Sentinel Rank Apex.
Sahara Nurmala.
“Gila…” gumam pria berjubah itu, suaranya parau. “Masih ngejar…”
Ia memaksakan tubuhnya. Otot-ototnya berteriak, paru-parunya terasa terbakar. Namun di depan—hamparan laut. Gelap. Luas. Bebas.
Beberapa ratus meter lagi.
Ia tersenyum miring di balik tudungnya.
“Akhirnya…”
Dengan sisa tenaga, ia mempercepat langkah, melompat lebih jauh dari sebelumnya. Kontainer terakhir dilalui, dan angin laut menyambut wajahnya. Ia berlari tanpa ragu, lalu melesat—melompat menuju kegelapan air.
Namun tepat sebelum tubuhnya sepenuhnya terlepas—
“Huuuh…”
Hembusan napas dingin keluar dari bibir merah muda yang berkilap. Bukan terengah. Bukan marah. Hanya fokus murni.
GGRRRT—!
Cengkeraman Sahara pada gagang pedangnya menguat. Es merambat di bilah senjata itu, berdenyut seperti urat nadi.
Dengan satu gerakan anggun namun mematikan, ia mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas—tebasan vertikal sempurna.
“Reruntuhan Glasier.”
GGRRUUSSSHHHH—!!
Tanah bergetar. Dari permukaan beton dan sela-sela kontainer, bongkahan es raksasa meledak keluar, membentuk pilar-pilar tajam yang merambat maju dengan kecepatan brutal. Kontainer-kontainer baja dihantam, terangkat, lalu hancur seperti mainan. Pecahan es berkilau biru muda menyembur ke udara, menciptakan badai kristal yang menelan jalur pelarian.
Tinggal tiga meter.
“HUH—HUH—HIIAAAHH!!”
Pria berjubah itu meloncat sekuat tenaga, tubuhnya melayang di udara. Pada detik yang sama, ujung pilar es menyambar—GGRUUSSHSHSH—!—mengoyak ujung jubahnya, membekukan kain hitam itu dan memecahkannya menjadi serpihan.
Tubuhnya terjun ke laut.
SPLAAASH—!
Air laut bergejolak hebat. Di atasnya, pilar-pilar es menjulang tinggi ke langit malam, berkilau seperti reruntuhan istana glasier yang lahir dari neraka dingin. Uap putih mengepul dari permukaan air yang mulai membeku sebagian.
Di bawahnya, Sahara melangkah maju. Setiap langkah menciptakan pijakan es yang tenang dan presisi. Ia berhenti di tepi dermaga, pedangnya menunduk sedikit, tatapannya menusuk permukaan laut yang bergelombang.
Air bergerak. Riak tak wajar. Jejak energi.
Sahara menyipitkan mata, menganalisis.
Ia mengangkat pedangnya perlahan, es di sekelilingnya beresonansi, siap merespons perintah berikutnya. Malam Pelabuhan Priok kembali sunyi—namun di balik air gelap itu, sebuah rahasia telah lolos… untuk sementara.
Sahara tetap berdiri di tepi dermaga yang kini diselimuti es tipis berkilau. Pandangannya menembus permukaan laut yang bergolak, tajam dan tak berkedip. Ia mengerti. Getaran itu—luapan Sukma Energi yang tak wajar—berdenyut dari kedalaman, kotor, berat, seperti sesuatu yang dipaksa bangkit bukan oleh kehendaknya sendiri.
Ia tidak bergeming.
Tidak mengubah kuda-kuda.
Tidak mengangkat pedang.
Hanya fokus.
Detik berikutnya, laut berteriak.
“WWWOSSSSHHRRRHH—!!”
Permukaan air yang semula berombak mendadak mengerut, berputar cepat membentuk pusaran raksasa. Angin laut tersedot masuk, kontainer-kontainer di sekitarnya bergetar, dan suara baja beradu menggema ketika tekanan air naik tak terkendali. Dari pusat pusaran itu, air laut menyembur ke langit, menjelma pilar raksasa yang menjulang puluhan meter, berkilau kehitaman di bawah lampu remang-remang pelabuhan.
Di atasnya—sebuah bayangan berdiri.
Lampu sorot pelabuhan menyingkap wujudnya perlahan, seperti tirai yang ditarik paksa. Pria yang tadi bersembunyi di balik jubah hitam kini tampak tanpa penutup—bertelanjang d**a, tubuhnya basah mengilap, dipeluk air laut yang bergerak mengikuti kehendaknya.
Ia bukan manusia lagi.
Di kedua bahunya, belahan daging terbuka, menampakkan struktur mirip insang ikan yang mengembang-mengempis, menyaring udara dengan suara basah yang menjijikkan. Dari punggungnya, sirip hiu besar mencuat, menyatu sempurna dengan tulang belakangnya. Tangannya berselaput, kuku-kukunya memanjang dan runcing. Wajahnya—gigi bergerigi seperti pisau, mata menghitam pekat dengan pupil biru terang yang berkilau buas.
Di sisi kanan tubuhnya, Sukma Energi biru pekat meledak keluar, berdenyut liar, mengoyak batas bentuk manusianya. Seluruh tubuhnya dikelilingi air laut yang bergerak, berputar, dan mengeras—senjata hidup yang siap menerkam.
Ia membuka mulut, tawa pecah bercampur desisan air.
“Shadow Bound: Rahang Samudra Baharuna,” ucapnya lantang makna yang terkutuk: siluman hiu, penguasa lapar lautan dalam.
“Kikikikik…,” tawanya menggema. “Aku sudah berada di dalam air. Dan kau… sudah melangkah ke dalam perangkapku, Sahara Nurmala.”
Sahara mengangkat wajahnya sedikit. Tatapannya dingin, datar—seolah yang berdiri di hadapannya bukan monster, melainkan kesalahan yang harus diperbaiki.
“Kau sudah bukan manusia,” katanya pelan, suaranya jernih namun tajam. “Cih… menjijikkan. Jadi ini wujud manusia yang menjual jiwanya pada siluman.”
Udara retak.
Sukma Energi Sahara meledak keluar—hening namun masif. Aura putih-biru menyapu area pelabuhan seperti gelombang tak kasatmata. Es merambat cepat di permukaan air, di dinding kontainer, di udara yang dilalui napas. Suhu jatuh lebih dalam, menusuk tulang.
Pria hiu itu tersentak.
Tekanan itu—bukan sekadar kuat. Itu menindih.
“—Tsk!” Ia menggeram, matanya berkilat marah bercampur gentar. “Sialan kauu—!!”
Kedua tangannya menghantam pilar air. Laut merespons jeritannya. Dari pilar raksasa itu, ombak raksasa terbentuk, menggulung, mengaum, bersiap menyapu dermaga dan menghancurkan apapun yang berdiri di depannya.
“BBYYUURRRRR—!!”
Namun sebelum ombak itu mencapai puncaknya—
KRAAK—KRRRSSSHH—!!
Air laut membeku secara spontan.
Gelombang raksasa itu berhenti di tengah gerakan, berubah menjadi dinding es kolosal yang berkilau pucat. Retakan menjalar cepat, suara es memuai dan mengunci air dalam bentuk kematian. Di sekeliling pelabuhan, dalam radius sepuluh meter, laut membeku total—padat, sunyi, tak bernyawa.
Pria hiu itu membelalak.
“A—apa…?!”
Panik merayap. Napasnya tersengal. Air yang seharusnya patuh kini diam. Senjatanya—dirampas. Wilayahnya—dikunci.
“D-dia…,” pikirnya liar, keringat dingin bercampur air laut menetes di wajahnya. “Dia mengubah semua air di sekitarnya menjadi es… tanpa aba-aba… tanpa gerakan…!”
Matanya bergetar menatap wanita di bawah sana.
“Wanita ini…!! Dia bisa membekukan apapun di dalam jangkauan Sukmanya… Sial—ini tidak menguntungkan bagiku—!”
Sahara masih belum bergerak. Pedangnya masih menunduk. Bahkan bahunya tak naik-turun.
Ia hanya menatap—dingin, tenang, dan mutlak menguasai situasi.
“Kenapa?” tanyanya pelan, nada suaranya datar namun menusuk. “Padahal aku belum bergerak sedikit pun…”
Tatapan birunya mengeras.
“…tapi kau sudah terlihat sangat gelisah.”
Es berderak pelan.
Dan di balik keheningan itu, pria hiu tersebut akhirnya menyadari, ia bukan pemburu di perairan ini.