Di sebuah ruangan bawah tanah di kantor pusat Legiun Wira Nusantara, hawa dingin muncul menusuk hingga ke tulang. Dinding-dindingnya dipenuhi deretan layar monitor yang memancarkan cahaya biru redup, menampilkan peta Indonesia yang dipenuhi titik-titik berdenyut—tanda aktivitas Sukma Energi di berbagai daerah. Puluhan petugas mengenakan seragam hitam rapi, sibuk mengetik dan mengamati data di layar masing-masing. Denting keyboard dan suara mesin pendingin bercampur menjadi simfoni malam yang sunyi.
“Woy, siapa yang nurunin suhu AC? Kok dingin banget anjir!” seru salah satu petugas muda, menggosok lengannya yang menggigil.
Pegawai lain menimpali dengan nada protes, “Iya nih, sumpah... ini mah udah kayak kulkas!”
Lalu terdengar suara dari sudut ruangan, santai namun malas, “Apaan sih, nggak ada yang nurunin suhu. Lu aja tuh yang masuk angin.”
Tawa kecil menggema, mencairkan suasana. Namun, di tengah riuh itu, seorang pria berjas abu-abu berdiri kaku di depan layar monitor terbesar—Kevin, pengawas utama sistem deteksi retakan dimensi. Tatapannya tajam, seperti menembus peta digital yang berkedip. “Aneh... aku juga merasa dingin,” gumamnya pelan, alisnya berkerut.
Langkah berat terdengar dari arah belakang. Seorang pria kekar dengan kemeja lengan pendek dan celana khaki menghampiri sambil menenteng cangkir kopi panas. Uap tipis mengepul dari cangkir itu, mengiringi senyumnya yang santai.
“Haduh, Pak Kevin juga merasa kedinginan ya?” katanya, lalu meneguk kopinya dengan puas. “Srrrppp—ahhhh... benar-benar wanita yang menyeramkan.”
Kevin menoleh cepat. “Siapa maksud anda?” tanyanya curiga.
Surya, pria bertubuh kekar itu, menggeleng pelan dengan senyum geli. “Tuh... dia datang.”
Suara pintu otomatis terbuka, diikuti desiran hawa beku. Semua percakapan berhenti. Dari balik cahaya pintu, sosok wanita berambut putih keperakan melangkah masuk. Sentinel Sahara. Aura dingin menguap di sekelilingnya. Setiap langkahnya membuat udara di ruangan menurun beberapa derajat. Beberapa petugas menelan ludah, sebagian lainnya menunduk tanpa sadar.
Sahara berjalan langsung menuju Kevin, suaranya tegas dan dingin, “Legiun harus menyelidiki tentang dosen palsu yang ada di lokasi insiden kemarin. Aku melihatnya. Aku merasakannya... dia menggunakan kekuatan siluman.”
Ruangan mendadak senyap.
Kevin terkejut, pupil matanya mengecil. “M-manusia yang menggunakan kekuatan siluman? Tidak mungkin... hal seperti itu belum pernah terjadi.”
Surya menyeringai, “Atau mungkin cuma Siluman yang menyamar jadi manusia? Itu masuk akal, kan?”
Sahara menatap Surya lurus, dingin bagai bilah es. “Selama kau membasmi Siluman, apakah kau pernah menemui yang bisa meniru raga manusia seutuhnya, Surya?”
Surya hanya tertawa kecil, tidak menjawab. Tatapan Sahara seolah menusuknya hingga ke dalam d**a.
Sahara melanjutkan dengan nada lebih berat, “Aku yakin itu manusia. Tubuhnya manusia, tapi Sukma Energinya gelap, pekat. Dia menghindari seranganku dwengan mudah, lalu menghilang sebelum aku bisa membekukannya.”
Kevin langsung membuka berkas digital di layar utama, menampilkan foto-foto korban dan laporan investigasi.
“Kalau begitu... mungkin ini ada hubungannya dengan serangkaian kasus aneh belakangan ini,” ucap Kevin serius. “Beberapa korban tewas dengan luka parah seperti serangan Siluman, tapi... tidak ada retakan dimensi di lokasi. Polisi masih menganggapnya kasus kriminal yang dilakukan oleh manusia Awaken yang menyalahgunakan kekuatannya.”
Sahara mengepalkan tangannya. “Berikan semua datanya. Aku akan menyelidikinya sendiri.”
Tanpa menunggu izin, ia berbalik pergi. Udaranya membekukan napas.
Kevin menunduk pelan, tersenyum kecut. “Baiklah... akan segera kuproses.”
Surya bersandar di meja sambil menggoyang-goyangkan cangkirnya. “Sentinel Sahara, bagaimana kalau kau bergabung dengan order-ku? Sampai sekarang kau kan lone wolf. Kekuatanmu pantas di—”
Sahara memotong dingin, “Aku tidak tertarik. Menyerah saja.”
Pintu menutup sebelum ia selesai bicara. Hawa dingin yang tertinggal membuat kopi di tangan Surya perlahan membeku.
Surya menatap cangkirnya dan tertawa kecil. “Benar-benar wanita yang menyeramkan.”
Beberapa jam kemudian, Rumah Sakit Borobudur, Bandung.
Langit sore berwarna jingga pudar. Di dalam kamar rawat, Arkala sedang membereskan barang-barangnya. Tas ransel kecil, beberapa baju lipatan, dan surat administrasi rumah sakit. Luka di dadanya masih terbalut perban, tapi tatapan matanya kini bukan milik mahasiswa ceroboh seperti dulu. Tatapan itu tajam—dingin—penuh dendam yang membeku.
Setelah menandatangani dokumen terakhir, ia melangkah pelan menuju pintu keluar. Setiap langkahnya terasa berat, namun tekadnya sudah terpahat di d**a: membasmi semua Siluman, hingga tidak tersisa satu pun.
Di luar sana, matahari tenggelam di balik gedung-gedung Bandung, menyalakan langit dengan warna darah. Cahaya merah itu memantul di pupil Arkala, seolah membakar tekadnya.
Ia kini seorang Wira Sentinel. Namun sesuatu yang lebih besar dan lebih gelap menunggunya—sesuatu yang tidak hanya akan menguji kekuatannya, tapi juga hatinya.
Bandung, Sore Hari
Langit berubah jingga pucat ketika Arkala melangkah keluar dari Rumah Sakit Borobudur. Angin Bandung berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan asap jauh dari kota. Jalanan menuju Gang Sukajadi sepi, hanya suara kendaraan yang melintas sesekali.
Sesaat sebelum memasuki gang kos-kosannya, langkah Arkala terhenti.
Di seberang sana, hanya berjarak beberapa blok… kampus Institut Teknologi Bandung berdiri rapuh bagai bangunan pasca-perang. Dinding Fakultas Informatika retak besar, atap gedung roboh, dan garis-garis bekas cakar Siluman menembus beton bak potongan kertas. Sisa es Sahara masih menempel di tembok—kristal beku berkilau yang lambat mencair.
Arkala memandangi semuanya dengan wajah kosong… tapi matanya menyimpan badai.
Bayangan Dika tercekik Siluman, Rina terkoyak di bawah kaki monster itu—semuanya berputar-putar di pikirannya seperti film rusak yang tidak mau berhenti.
Jantungnya berdegup pelan namun dalam.
“Aku akan membunuh mereka… semua Siluman. Aku akan menghabisi semuanya.”
Ia menarik napas panjang, lalu berbalik menuju gang sempit Sukajadi.
Kosan Gang Sukajadi
Lampu lorong kos berkedip lemah, lantainya berdebu, dan aroma masakan dari dapur bersama merayap hingga kamar Arkala. Ia membuka pintu kamarnya, memasuki ruang sempit yang pernah terasa nyaman—sekarang hanya jadi kotak kosong berisi kenangan.
Ia meletakkan tas berisi baju pemberian rumah sakit.
Setumpuk baju lamanya hilang, laptop pinjaman kampus hilang, ponselnya hilang… semuanya lenyap saat insiden.
Arkala duduk perlahan di kasur tipis lusuh yang menjadi temannya selama kuliah. Ia menatap langit-langit, tangan ditempelkan ke pelipis, kepalanya berdenyut pelan.
“Hahh… meskipun aku sudah resmi jadi Sentinel… aku bahkan belum mengerti cara bertarung.”
Nada suaranya datar, lelah, digerus trauma dan amarah yang terus membusuk.
Ia memejamkan mata sebentar…
Saat membuka kembali—
WUUUUMMM—
Sebuah cahaya merah redup memancar.
Di atasnya… tepat di langit-langit kosan…
Sebuah hologram merah mengambang, berkilau dengan ikon-ikon seperti menu game RPG kuno.
Arkala membeku.
“…Sejak kapan aku masang poster di langit-langit kamar?”
Lalu ia membaca isinya—and then—
“E-EH?!”
Ia langsung duduk tegak. Hologram itu mengikutinya ke mana pun ia memandang.
✅ [ARKALA MAHA AZWARA]
Nama : Arkala Maha Azwara
Level : 1
Class : Sentinel – Ignis (Spark)
HP : 100
Sukma : 100
Kekuatan Fisik : 5
Ketahanan : 3
Kecepatan : 4
Insting : 7
Akurasi : 4
Potensi : ???
Status : Normal
✅ Keahlian / Skill
❌ Tidak ada
✅ Ajian / Teknik
❌ Tidak ada
✅ Sukma Arts
❌ Tidak ada
✅ Passive
❓ [Data Hilang]
“Hah? Level 1?? HP seratus?? Sukma seratus?? Ini apaan…?” Arkala menatap tak percaya.
Hologram itu terus mengikuti arah pandang matanya, seperti sistem HUD dalam game first-person.
Ia mencoba mengulurkan tangan untuk menyentuhnya—tapi…
SSHHH—
Tembus.
Tidak ada resistensi sama sekali.
“Kalau ini efek dari jadi Sentinel… kenapa baru muncul sekarang?” gumamnya. “Dan kalau pun iya… seharusnya sudah ada sejak enam tahun lalu…”
Ia menggulir bagian bawah hologram dengan sorot bingung.
Skill: tidak ada
Keahlian: tidak ada
Ajian: tidak ada
Gelar: tidak ada
“Tidak ada… tidak ada… tidak ada…”
Arkala memelas.
Ia mengusap wajah lelahnya dan menjatuhkan tubuh ke kasur, membiarkan hologram itu melayang di atasnya. Dadanya berdenyut, bukan hanya karena luka… tapi karena kenyataan bahwa ia sangat lemah.
“Aku… benar-benar harus istirahat…” gumamnya lirih.
Ia menutup matanya.
Detik berikutnya—
GLITCH— KRKZZT— KRKZZT—
Hologram itu berkedip liar, ikon-ikonnya terdistorsi seperti sistem rusak, lalu—
WUUUP—
Menghilang.
Lenyap seperti tidak pernah ada.
Arkala tenggelam dalam tidur berat…
tidak menyadari bahwa jauh di dalam Sukma-nya, sesuatu sedang terbangun…
Sesuatu yang bukan milik manusia.