Erika berdiri dan sama sekali tidak mengalah padanya, "Minta maaf!"
Erika bertubuh langsing, parasnya juga cantik, tampak polos dan imut, meski dia sudah menjadi ibu dari tiga anak, dia masih tetap tidak bisa menyembunyikan auranya yang muda dan energik.
Dilihat dari penampilannya, Erika memang terlihat seperti orang yang mudah ditindas.
Wanita dengan mantel bulu itu melihat sikapnya yang keras bahkan tidak merasa takut, melainkan mencibir, "Minta maaf? Atas dasar apa kamu menyuruhku meminta maaf? Sudah jelas putrimu yang hampir membuatku tersandung, aku tidak memintamu mengganti rugi sudah untung!"
"Kau ——!" Erika mengepalkan tangannya, pandangannya penuh dengan amarah.
Dia hendak berdebat dengan wanita yang terlalu semena-mena ini, pada saat ini, di belakangnya terdengar derap langkah kaki yang teratur dan kompak.
Puluhan pengawal berdiri membentuk dua baris dan menundukkan kepala mereka, "Selamat datang kembali, Nyonya Muda"
Wanita dengan mantel bulu melihat keadaan ini seketika terkejut.
Jangan-jangan wanita ini adalah nyonya muda dari keluarga tajir yang tidak terlalu mencolok?
Dia memperhatikan wajah Erika yang polos dan mempesona, dan merasa hal ini sangat memungkinkan, karena takut Erika mencari masalah padanya, dia buru-buru melarikan diri.
Erika mendengar suara di belakangnya dan menoleh dengan terkejut, detik berikutnya dia pun terbelalak. sekelompok pria yang mengenakan setelan jas hitam dengan logo khusus Keluarga Kurniawan!"
Apakah Effendy Kurniawan mengutus orang untuk menjemputnya?
Firasatnya mengatakan hal ini tidak mungkin, tetapi di relung hatinya yang terdalam, dia mengharapkan apa yang dia pikirkan itu benar.
Saat ini, di pintu keluar, seorang wanita dengan riasan menor, mengenakan pakaian bermerk dan sepatu hak tinggi berjalan masuk dengan anggun.
Dia menggiring seorang anak laki-laki.
Anak laki-laki itu kelihatanya berusia sekitar empat tahun, berpakaian mewah, merupakan tuan muda kecil dari keluarga kaya.
"Nyonya Muda!" Para pengawal itu menyapa dengan serentak lagi.
Pemimpin pengawal itu merasa Erika dan keluarganya menghalangi jalan dan mendorongnya ke samping, "Pergi sana!" Jangan menghalangi jalan majikan kami!"
Erika yang didorongnya pun mundur beberapa langkah, tetapi dia tidak menyadarinya.
Pandangannya tertuju pada wanita itu, pandangannya penuh dengan keterkejutan.
Suriana Purba, bagaimana mungkin dia adalah nyonya muda keluarga Kurniawan?
Suriana adalah sepupu Erika, dia berhubungan baik dengan Erika, bahkan pada malam pembatalan pernikahan itu, Suriana menemaninya minum anggur di bar.
"Nona Erika, ini..." Bibi Fatihah juga terkejut dan berkata: "Sejak kapan Nona Suriana menikah dengan Tuan Muda Effendy? Dan lagi, anaknya sudah sebesar ini."
Dilihat dari usia anak itu, seharusnya dia sudah mengandungnya saat pembatalan pernikaan antara Erika dan Effendy.
Jadi, setelah tuan muda Effendy membatalkan pertungannya dengan Nona Erika, dia langsung menikahi Suriana?
Bibi Fatihah terkejut bukan kepalang, dia menatap ekspresi majikannya yang sangat sedih itu dan tidak berani berbicara.
Erika melihat Suriana yang dikelilingi oleh pengawal meninggalkan bandara, pandangannya penuh dengan kesedihan. Ternyata Suriana adalah istri Effendi, dia yang bertepuk sebelah tangan.
Ya, lima tahun yang lalu, keluarga Kurniawan membatalkan pernikahan dengan begitu tegas, jadi bagaimana mungkin sekarang mereka mengutus orang untuk menjemputnya?
Takutnya Effendy Kurniawan sudah melupakan dirinya.
Saat teringat pada pria yang tersipu di hadapannya mengatakan bahwa di kehidupan ini dia hanya akan menikahi dirinya, Erika menghela nafas dan menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sembab.
"Ibu, Ibu kenapa? Apakah Ibu tidak senang?Putra sulungnya, Hendry Hendrawan bertanya dengan cemas.
Erika menarik napas dalam-dalam, membelai kepala putra sulungnya dan memeluk dua anaknya lagi ke dalam pelukannya, "Ibu tidak apa-apa, Ibu hanya terlalu rindu pada kampung halaman."
Tidak masalah, bahkan jika dia tidak memiliki apapun, setidaknya dia mempunya tiga anak yang imut.
"Ibu jangan menangis, Erline akan selalu menemani Ibu." Putri bungsunya berkata dengan suaranya yang imut.
"Betul, Ibu, ketika aku menghasilkan banyak uang nanti, aku akan membelikanmu mobil yang super mantap!" Putra keduanya, Harold Hendrawan berkata sambil menepuk d**a kecilnya itu, sambil omong besar.
Erika melihat ketiga anaknya yang imut dan merasa hangat, dia pun tersenyum, "Baik, ayo kita pulang."
Setelah keluar dari bandara, Erika memanggil sebuah taxi dan memberikan alamat pada supir, saat di tengah jalan, tiba-tiba langit menjadi mendung, tidak berapa lama, hujan deras pun turun.
Jarak pandang supir menjadi terbatas, karena terburu-buru mengantar penumpang, sepanjang perjalanan, dia mengemudi dengan kencang.
Erika sudah mengingatkan supir itu beberapa kali untuk lebih berhati-hati, tetapi supir itu tidak mengindahkannya.
Pada akhirnya, saat mereka melewati jalan tikungan, kecelakaan pun tidak terhindarkan lagi.
Supir itu tidak bisa mengendalikan kecepatannya dengan baik dan langsung menabrak sebuah mobil Rolls-Royce Phantom. Menyadari dirinya telah menabrak mobil orang, wajah supir itu pun memucat, dia tercengang untuk waktu yang lama, sampai pada akhirnya turun dari mobil dengan kaki yang gemetaran untuk menyelesaikan masalah ini.
Erika Hendrawan duduk di kursi belakang dan melihat lampu belakang Rolls-Royce ditengah hujan deras, alisnya pun berkerut.
Mobil itu adalah mobil mewah dengan edisi terbatas di dunia, di seluruh Kota Mutiara, yang bisa mengendarai mobil semewah ini bisa dihitung dengan jari.
Sopir sudah menabrak mobil nan mewah itu, sepertinya meski dia menggadaikan semua hartanya, dia juga tidak bisa mengganti rugi kerusakan yang dia sebabkan.