Bab.6 Apakah Dia Terlihat Sangat Menyeramkan?

897 Words
  Erika ingin keluar dari lift itu, tetapi pintu lift sudah tertutup dan bergerak turun, apa daya, Erika terpaksa meringkuk dan berusaha untuk tidak melakukan apapun yang bisa menarik perhatian, berusaha seolah tak nampak.   Suasana di lift menjadi sangat mencekam, selain suara napas, tidak ada seorangpun yang berbicara.   Erika bahkan tidak berani bernapas karena takut dia tidak sengaja membuat Immanuel Haryanto marah, dan diusir dari PT Tirta. Mata Erika terbuka lebar dan menghadap ke depan, alhasil, dia melihat wajah tampan Immanuel yang tercermin di pintu lift.   Pria menyeramkan itu sedang menatapnya!   Pandangan pria itu seperti elang yang menatap lekat-lekat wanita yang ada di hadapannya, pandangannya sangat mendalam dan penuh arti.   Seperti binatang buas yang kelaparan melihat mangsa yang sudah lama tidak ditemuinya!   Sekujur tubuh Erika menegang, dia bergidik saat matanya bertemu dengan tatapan itu, Erika bahkan tidak berani bernafas.   Erika menengadahkan kepalanya dan menatap nomor lantai yang tertera di lift, dia menghitung di dalam hati, setelah menghitung sampai ke angka satu, pintu lift pun terbuka, dia langsung bergegas keluar.   Gerakan dan kecepatan itu seperti ada iblis yang mengejarnya dan ingin melahapnya dari belakang.   Immanuel mengerutkan kening ketika melihat wanita itu lari dengan terbirit-b***t, ekspresinya menjadi tidak senang.   Apakah wanita itu takut padanya? Apakah dia terlihat sangat menyeramkan?   ......   Karyawan departemen administrasi yang melihat Erika keluar dari lift khusus itu terkejut bukan kepalang, "Erika, mengapa kamu menggunakan lift khusus yang digunakan Pak Immanuel? Beliau tidak mengusirmu keluar?"   Immanuel sudah terkenal tidak mengizinkan wanita berdiri dalam jarak tiga meter dengannya.   Karyawan yang bekerja di sisinya semua adalah pria, sama sekali tidak ada wanita.   Menurut rumor, atasan mereka yang tampan ini alergi terhadap wanita, jika mencium aroma dari seorang wanita, tubuhnya akan muncul bintik-bintik merah, entah kabar burung itu benar atau tidak.   Erika menatap semua orang dengan tatapan yang sulit diutarakan, "Panjang ceritanya, sudahlah, ayo kita pergi, aku akan menceritakannya pada kalian di perjalanan."   Erika mengira ini hanya acara makan malam yang sederhana, tidak disangka, kepala departemen memilih untuk berkunjung ke sebuah bar dan bersiap-siap untuk berpesta pora semalaman.   Yang paling menyebalkan adalah, Jacky si serigala m***m itu juga hadir!   Melihat Erika, Jacky juga menunjukkan senyum m***m, Erika hampir muntah melihat senyumnya yang begitu menjijikkan!   Tetapi karena hari ini hari pertama dia bekerja, ada beberapa kata yang tidak enak dikatakan secara langsung pada rekan kerjanya.   Setelah memasuki bar, rombongan berkumpul dan mulai minum anggur dan bermain, Jacky menatap Erika dengan niat jahat, dia memesan sebotol anggur merah yang seharga dua puluh juta rupiah.   Ada yang tidak tahan melihatnya dan berbisik padanya untuk mengingatkan, "Pak Jacky, hari ini Erika baru masuk kerja, bukankah kamu agak keterlaluan melakukan ini?"   Jacky tersenyum sinis dan berkata dengan santai, "Apa yang kamu khawatirkan? Kan bukan kamu yang membayar tagihan, kalian tidak tahu, kan?! Nona Erika berasal dari keluarga kaya, saat dia bersenang-senang ke sini dulu, dia menghabiskan miliaran rupiah semalam, dan bahkan tidak kaget dengan tagihan sebesar itu!"   Orang-orang yang mendengarnya langsung tertarik untuk bergosip, "Yang benar? Erika, rupanya kamu adalah anak muda yang kaya raya ya? Sama sekali tidak kelihatan, kamu tampak sederhana dan tidak terlalu mencolok."   Ekspresi Erika menjadi tidak enak, dia menjelaskan dengan canggung, "Tidak, itu hanya masa lalu..."   "Mengapa kalian begitu pelupa?" Jacky menyela perkataannya dengan kasar, "Erika Hendrawan, dia adalah putri dari Darmawan Hendrawan, pengusaha terkaya di kota Mutiara, apakah kalian sudah melupakannya?"   "Ah?" Seorang rekan wanita segera berseru, "Oh rupanya dia ya?"   "Kenapa?" Semua orang mulai bertanya.   "Apakah kalian sudah lupa?" Rekan wanita itu menatap Erika dengan tatapan yang rumit, "Lima tahun yang lalu, putri dari Keluarga Hendrawan dicampakkan oleh Keluarga Kurniawan yang bertunangan dengannya, pada malam itu dia pergi ke bar untuk menghilangkan kesedihannya dan berhubungan intim dengan seorang model pria di hotel, saat ayahnya bunuh diri dengan melompat dari gedung, dia masih meringkuk di ranjang!"   "Ah---" semua orang yang mendengarnya seketika menarik napas, tatapan mereka pada Erika seketika berubah menjadi tatapan sinis dan hina.   Tatapan yang penuh dengan ejekan dan tatapan m***m tertuju padanya, Erika duduk dengan tidak nyaman, wajahnya menjadi pucat.   Dia bangkit dengan menyedihkan, berbalik badan dan hendak melarikan diri.   Manajer departemen administrasi, Nafis Pananto buru-buru mencegahnya dan berkata, "Erika, jangan masukkan masalah ini ke dalam hati."   Setelah mengatakan itu, dia berteriak pada semua orang, "Mengapa kalian sembarang menerka dan bergunjing seperti itu? Erika adalah kolega baru kita, mengapa kalian bersikap seperti itu padanya?"   "Maaf!" Rekan wanita yang menyingkap aib Erika berkata dengan nada yang aneh: "Aku juga tidak mengira Erika adalah putri sosialita itu! Kelak aku tidak akan sembarangan berbicara lagi."   Jacky berdiri di tengah kerumunan, dia menatap Erika dengan tajam, pandangannya penuh dengan kepuasaan membalas dendam.   Erika tidak bisa menahan tatapan-tatapan aneh dari rekan-rekannya. Setelah Nafis membisikkan kata 'maaf', dia pun melarikan diri dengan panik.   Setelah berlari keluar dari pintu, Erika bersandar di dinding, dan berusaha menenangkan dirinya.   Kejadian lima tahun yang lalu itu adalah tragedi yang tidak bisa dihapusnya seumur hidup, Erika sangat membenci perasaan luka dihatinya yang diungkit lagi.   "Merasa tidak nyaman?"Jacky mengejarnya keluar dan menatapnya dengan sinis, "Kelak hal seperti ini akan selalu terjadi, rasakan itu!'   "Kau ——!" Erika berbalik badan dan memelototinya dengan kesal, "Mengapa kamu melakukan semua ini?"   "Tentu saja untuk membalas dendam padamu!"   Jacky mencibir, nada bicaranya sangat kejam, "Oh ya, biar kuingatkan, jangan mencoba untuk melarikan diri dari tagihan, aku menggunakan namamu untuk memesan semuanya dan tagihan itu sebesar 200 jutaan, jika tidak membayar tagihan, takutnya pihak bar akan menggugatmu tidak mau membayar tagihan makanan."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD