Suasana kali ini terasa begitu sepi, hanya terdengar suara detak jam dinding dan juga deru napas yang bergerak bersamaan dengan dadanya yang naik turun. Aruna menatap lampu kristal mewah yang berada tepat di atas kepalanya. Dengan tangan yang ada di atas perut, otaknya mulai kembali memikirkan skenario-skenario mengenai masa lalu Jayden. Meskipun, pria itu menjelaskan tentang persaingan keluarga Edzard dan Bramastyo, tapi tetap saja ada banyak hal yang tak dia mengerti, termasuk bagaimana cara mereka mempermainkan nyawa orang lain dengan begitu mudahnya. Aruna mengangkat tubuhnya ke atas lalu duduk di atas ranjang dengan tangan yang mencengkeram seprai. Seringai yang diperlihatkan pria bernama Areng itu terus terngiang di kepalanya hingga sekarang, memberikan rasa tak nyaman yang membuat

