“Jawab aku Rega! Jangan membisu saja!” Desak Kinan dengan air mata yang ia biarkan mengalir membasahi wajahnya dari matanya yang tampak merah memendam sebuah amarah. Lelaki itu hanya diam, ia tidak tahu apa yang akan ia perbuat. Ia membeku melihat Kinan yang menangis di depannya, ada perasaan aneh yang tidak bisa ia ungkapkan melihat Kinan yang tampak kesakitan. CUP….. Refleks tanpa sebuah aba-aba, Rega menarik tengkuk Kinan dan menempelkan bibirnya tepat di bibir tipis Kinan, hanya menempel tanpa ada sebuah lumatan kecil. Waktu berhenti mengitari di sekitar mereka berdua, baik Kinan dan Rega sama-sama larut dalam perasaan aneh yang menjalar di sekitar tubuh mereka. Ada perasaan aman dalam hati Kinan yang paling dalam, ia larut dan terlena dengan ciuman yang diberikan oleh Rega. Ah

