“Jadi mengapa kamu memanggilku?” Tanya Kinan dengan nada ketus menyilangkan kedua tangannya di depan Rega yang justru tampak datar membalas tatapannya. Lelaki itu tampak menahan senyum sebiasa mungkin ia berusaha menutupi wajahnya yang benar-benar tidak tahan untuk tidak mengerjai Kinan. “Apa kamu marah kepadaku?” Tanya Rega pada Kinan membuat Kinan terdiam, benar yang dikatakan Rega mengapa setiap pertemuan mereka selalu saja ada kemarahan pada Kinan yang bergerak begitu saja tanpa sebuah alibi yang kuat. “Memang apa salahnya?” Tanya Kinan yang tidak mau kalah ia masih mempertahankan raut wajahnya yang menurut Rega cukup menyebalkan. “Tentu saja salah!” Ucap Rega kemudian menutup pintu balkon dari luar membuat Kinan terkejut dengan yang dilakukan oleh Rega. “Kenapa pintunya ditutu

