Wajah Nissa tanpa pelindung kepala benar-benar sangat menarik minat semua preman di sana. Mereka semua sudah tak sabar ingin segera menyentuh dan bertukar peluh dengan gadis itu.
"Lepasin gue!" Nissa berteriak dan meronta lagi. "Lepasin gue!"
Dia palingkan wajah lagi. Nissa sungguh merasa jijik dengan perlakuan pria-p****************g itu, mengelus-elus wajahnya, dari dahi, pipi sampai bibir. Kurang ajar!
Air mata Nissa menetes, ketika dengan lancang salah satu pria membuka paksa kancing depan baju tidur bergambar doraemon miliknya. Beruntung di dalamnya Nissa masih mengenakan tangtop meski bertali spagethi. Setidaknya, tangtop tersebut masih bisa melindungi dalamannya agar tak langsung terekspos.
Tubuhnya semakin lemas, keringat dingin membasahi tubuh. Tangannya tidak bisa digerakkan sama sekali. Terlalu kuat ikatannya. Apa yang bisa Nissa lakukan? Sudah dia coba meronta untuk membuka ikatan di tangannya, namun sia-sia. Tangan justru semakin tergores sakit.
"Gue mohon, lepasin gue ...," tangis Nissa semakin pecah, saat salah satu pria menarik dagunya. Dapat Nissa rasanya desah napas pria itu. Bau alkohol tercium pekat dari mulutnya.
Sebenarnya, Nissa tahu pria ini sudah tidak mungkin bisa terkendali lagi. Namun, Nissa hanya mencoba peruntungan dengan mencari sedikit belas kasihan mereka.
"Tenang, Sayang. Kita cuma mau senang-senang kok. Lo juga pasti bakal suka, kok,," bisiknya yang mendesah tepat di telinga Nissa.
Nissa semakin merinding. Bibirnya gemetar, sudah tak sanggup rasanya untuk berteriak atau sekedar menyuarakan penolakan. Hanya tangis yang bisa Nissa lakukan. Lelehan air mata meluncur terus menerus. Menyakitkan sekali.
Apa begini akhirnya? Apa harga dirinya akan hancur dan tidak terselamatkan di tangan para preman itu?
Sementara, di luar tampak sudah gelap. Dari jendela ventilasi udara Nissa dapat melihat pekatnya di luar ruangan. Tempat yang seperti gudang ini benar-benar pengap. Jika saja ikatan ini terbuka, Nissa mungkin bisa berdiri dan lari keluar. Namun, itu hanya menjadi angan semata saat ini.
"Tapi kayanya nggak enak ya kalau kami doang yang main, lo juga harus main dong."
Nissa merasakan tali dibelakang tubuhnya dibuka, pun yang di kaki. Syukurlah, semoga dirinya bisa lari sekarang. Tanpa basa-basi, Nissa lekas berdiri ketika tali berhasil dibuka.
"Aduh."
Baru saja dirinya melangkah dua langkah, Nissa sudah terjatuh dan hanya bisa terkulai di tanah. Sepertinya efek obat bius tadi masih belum hilang sepenuhnya. Gelak tawa pria-pria Kurang Ajar itu kembali terdengar.
"Hahaha, mau kemana sih, Sayang? Buru-buru amat, kita belum mulai, loh."
"Iya nih, kayanya udah nggak sabar, ya?" sambung pria lain yang segera membuka jaketnya.
Nissa segera menunduk, karena pria itu langsung mempertontonkan dadanya yang polos. Mungkin berharap terlihat macho. Namun di mata Nissa malah semakin menambah getir perih membayangkan nasibnya.
"Kenapa, Sayang? Malu atau suka? Liat dong kalau suka. Mau dipegang juga boleh," ucap pria tadi menarik paksa tangan Nissa dan meletakkannya di d**a polos miliknya.
Nissa sontak mendorong d**a itu kasar. "Pergi!" jerit Nissa jijik.
Siapa saja. Nissa mohon, tolong! Nissa benar-benar tak mau dilecehkan seperti ini! Sementara pria-pria di sana terlihat tak mengindahkan teriakan Nissa. Mereka justru sangat menikmati.
"Udah yuk pemanasannya. Kita mulai aja."
Nissa semakin ketakutan mendengar ucapan tersebut. Gadis itu mencoba beringsut menjauh dan para lelaki itu juga turut melangkah semakin dekat.
"Pergi! Pergi!" usir Nissa lantang.
"Iya, iya. Nanti juga kami pergi, kok. Tapi ... setelah kami puas. Hahahah ...."
Nissa menggeleng tak setuju. Demi Tuhan, Nissa rasanya lebih baik mati daripada harus berakhir di tangan para pria bejad itu.
"Ayo, lah! Junior gue juga udah gak tahan pengen masuk kandang!" sahutan tak kalah menjijikan terdengar dari lainnya.
Mereka semua saling pandang sejenak. Sebelum kembali menyeringai dan menatap Nissa dengan tatapan yang mulai menggelap oleh hasrat yang menakutkan.
Nissa meronta sekuat tenaga. Melawan tangan b******n itu yang mencoba menggerayanginya. Hati Nissa hancur. Rasanya sudah putus asa untuk bisa menyelamatkan diri.
"Lepaskan! Lepaskan!" raung Nissa dengan tangis yang semakin deras.
Sayangnya, para b******n itu seolah tuli dan tak memperdulikan sama sekali penolakan Nissa. Mereka begitu memburu, berlomba untuk bisa menjamah Nissa.
"Lepaskan! Lepaskan! Pergi! Pergi!"
Brek!
Seseorang berhasil merobek baju Nissa bagian lengan. Kemudian menariknya paksa dan membuangnya sembarang arah. Hal itu membuat sebelah tubuhnya terekspos dan semakin menambah gairah para b******n di sana.
Nissa menangis seraya memeluk dirinya sendiri. Sementara para lelaki di sana seolah makin kesetanan menjamah Nissa. Dua orang lalu mencoba menahan gerak tangan Nissa. Seorang lagi menarik kaki Nissa dan juga menahannya. Sementara satu orang, yang tadi sudah membuka jaketnya menggerayangi Nissa dengan bebas. Pria itu menindih Nissa dan mencium paksa bibir Nissa.
Nissa jijik luar biasa. Sekuat tenaga dia membungkam mulutnya dan memalingkan wajah demi menghindari bibir si b******n yang juga berusaha memasukan lidahnya pada mulut Nissa.
"Buka!"
Plak!
Titah sang pria tegas seraya memberi tamparan keras pada wajah Nissa. Namun, Nissa tetap bersikukuh menutup bibir serapat mungkin.
Plak! Plak!
"Buka, b*****t!"
Tamparan kembali Nissa dapatkan seiring titah kesal dari sang pria, karena Nissa tidak patuh. Pipi Nissa perih. Tetapi hatinya lebih perih lagi. Rasanya Nissa ingin mati saja.
Tuhan ... bunuh saja Nissa sekarang!
Bret!
Tak berhasil membuka mulut Nissa. Pria tadi lalu beralih pada tangtop yang masih Nissa kenakan. Bra merah yang menutupi salah satu aset Nissa pun terekspos kini.
Nissa meronta lebih gila lagi. Ingin segera menutupi dadanya. Namun, tangan-tangan yang menahannya mencengkram lebih kuat. Pria di atas Nissa menyingkap bra merah yang masih menghalangi dengan cepat. Lidahnya menjilat bibir sendiri penuh minat menatap bagian terbuka tersebut. Seringai mengerikan kembali terlihat di sertai tatapan makin gelap. Mulutnya sudah bersiap menikmati d**a Nissa dan ....
Brug!
Waktu seolah tiba-tiba berhenti, kala tiba-tiba saja pria di depannya terlempar ke samping dan membentur kursi-kursi. Membuat bukan hanya Nissa tapi semua pria lainnya tercekat karena kaget.
"Jauhkan tangan kotor kalian darinya, assholle!" Raungan dingin pun seketika menggema dalam ruangan.
Nissa mengerjap tak percaya melihat siapa pria yang tiba-tiba datang, dan membuat preman yang kurang ajar tadi tersungkur di lantai dengan sangat mengenaskan.
Raid!
Itu Raid!
Benar, tidak salah lagi! Itu memang Raid, yang entah kapan dan dari mana datangnya, tiba-tiba sudah hadir di sana begitu saja.
Alhamdulilah ....
Seketika rasa syukur pun menyeruak dalam diri Nissa, melihat kehadiran pria bernetra hijau itu.
Rasa takut dan kalut yang tadi sempat menghantuinya pun, sedikit menghilang. Berganti dengan rasa haru, melihat kedatangan pria yang selalu jadi pemilik hatinya.
Thanks God. Ternyata pria itu masih perduli padanya!