Kulihat wajahnya, ku belai pipinya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus yang tak beraturan. Walaupun terlihat berantakan tapi tak menghilangkan wajah gagahnya. Aku menggenggam erat tangannya berharap ia segera terbangun. Aku takut kehilangannya. Teringat lagi kejadian tadi subuh ketika mendengar Bang Arfan kecelakaan, aku begitu panik. Aku tak sanggup kehilangan belahan jiwaku yang sudah setahun lebih bersamaku. Beruntung, Mama lansung memerintahkan supir pribadinya menjemputku dan mengantarkanku ke Padang. Aku yang bergegas berangkat ke Padang tanpa membawa barang-barangku. Yang kupikirkan hanya ingin segera melihat Bang Arfan, suamiku. Menjelang magrib kami sampai di Padang dan kondisi Bang Arfan belum sadarkan diri. “Bang, bangunlah … Alya sudah disini. Jangan bikin Alya takut, A

