Atlas sedang berada di sebuah ruangan yang luas tanpa sekat dengan pencahayaan yang tidak terlalu terang. Lelaki itu berdiri di antara dua pilar besar sambil menatap ke arah depan, ke dua matanya tidak berhenti meneliti beberapa senjata yang telah tertempel di dinding. “Bagaimana?” tanya seseorang, dari arah belakang. “Menakjubkan,” jawab Atlas, sambil memutar tubuhnya untuk menatap sang kakek. Ya, Arion lah yang membawa Atlas ke markasnya, lelaki tua itu ingin memperlihatkan beberapa perlengkapan untuk nanti membalaskan dendam. Melihat sang cucu tersenyum puas membuat Arion ikut bahagia. “Sebentar lagi dendam kamu akan terbalaskan cucuku,” ujar Arion. “Terima kasih, Kek. Tanpa Kakek aku tidak bisa di titik sekarang secepat ini.” Atlas kembali menatap ke arah beberapa senjata yang sud

