Chapter | 1.2 [SURGE OF BATHTUB]

1583 Words
     Kepekatan warna menyambut hari belum juga mengukir keindahan di kota Jakarta, malam yang belum usai dalam melewati waktu di hitungan jam pun seolah malas menatap mata serta tubuh yang telanjang tanpa pelindung sedikitpun. Hawa panas namun seluruh pori-porinya menggigil tak mampu bertahan dalam suasana mengabut yang telah membuat Nessa membeku. Ia menatap pantulan cermin kamar hotel dengan ukiran kissmark pada seluruh tubuh serta bercak merah itu belum menghilang dari kunci pahanya. Tangis sendu tertahan dengan suara yang tak dapat keluar dan tenaganya musnah begitu mudah. Jarinya menyentuh daerah yang terasa perih dan kaku, Nessa meringis kesakitan ketika ia berusaha bangkit.      Dengan meraba sisi nakas yang terjangkau tangan, Nessa berangsur meninggalkan tempat tidur tanpa melihat pria disampingnya membelai lembut punggung,      "Kau akan terbiasa, Honey. Tidur saja sebentar!" Suara itu terdengar gemuruh melebihi bahan peledak di telinga Nessa.      Tidak perduli! Ia menginginkan air bersih membasuh semua kekotoran yang melekat di tubuhnya. Merontokkan seluruh sentuhan tangan tak dapat ia lupakan dalam masa yang selalu setia mendampingi,      "Kau ingin sensasi yang berbeda lagi hm?" Gerald menatap gerak pelan kaki yang tertatih. Mencari beberapa pertahanan didasar dinding.      Kemolekan itu tak mengurungkan niat tetap berjalan pelan menuju kamar mandi, Gerald terus melihat keterpurukan yang berusaha meredakan panas tiap sentuhannya, 'Kenapa dia harus sesedih itu? Bukankah aku suaminya? Gadis aneh' batin Gerald kemudian ia merebahkan diri pada ujung ranjang dan mendasari kepalanya dengan kedua tangan. Melirik kearah pintu yang terbuka kemudian tertutup kembali.       Air mata itu mendahului rintikan shower yang ia raih kran nya terlebih dulu, memutar kemudian Nessa lumpuh di bawah siraman air dingin membasahi tubuh. Ia meremas rambut panjangnya, menarik kemudian ia memukuli paha. Suaranya tak dapat meneriakkan penderitaan yang kini melanda harga pada diri Nessa, 'kamu menjijikkan Nessa! Kamu udah nggak suci lagi! Kamu murahan' mulut Nessa ternganga, berusaha melengking tak bernada. Hampa, bahkan ia sukar melihat dirinya dihadapan cermin. Enggan bangkit ataupun sekedar melihat tubuhnya yang telanjang.      Selang di dalam ruang namun berbeda mengenai haluan pemikiran yang memisah, Gerald terus menoleh kearah pintu kamar mandi. Menegakkan kepala dan menyatukan kedua alis,      "Honey?" Gerald meneriakkan panggilan sayangnya, meneliti secara teratur namun ia gusar dalam penantian.      Meski rasa mengusahakan tak peduli dengan mengabaikan durasi panjang tentang Nessa di dalam ruang basuh, Gerald tak mampu membinasakan kekhawatirannya. Ia beranjak dari tempat tidur,      "Honey?" Gerald memutar panel yang terkunci, mengetuk pintu itu dengan seksama.      "Buka pintunya!" Semakin cepat dan Gerald mengetuk keras, berusaha membuka penguncinya.      Tak ada celah atau tingkap kecil untuk mengetahui kegiatan didalam, Gerald menendang dengan keras hingga dua usahanya. Sedikit mencari kini ia melihat wajah cantik Nessa tertunduk, memeluk tubuh seksi itu dengan kedua tangan,      "Kau gemar bersedih huh? Apa yang kau sesali?" Gerald melangkah maju pada keberadaan Nessa.      Seperti semula saat berada dalam kondisi panas membara, Gerald berjongkok di depan wajah Nessa. Ia membuang muka kasar, namun kembali meneliti tiap rintikan yang tak bisa ia bedakan antara air mata dan sebenarnya.      Wajah cantik menggairahkan itu terangkat dengan jepitan jemari Gerald, menyingkirkan beberapa halai panjang yang menghalangi. Kibasan bulu mata menahan diri dari gejolak hasrat tak mampu menguasai pikiran Gerald, ia mengecup bibir mungil Nessa, menyesap hingga mempermainkan kelembutannya,      "Lakukan saja tugas sebagai istri dengan baik! Apapun yang kau butuhkan aku akan penuhi!" Gerald menggila ketika mata Nessa menatap sayu.      "Aku hanya butuh kebebasan, aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku... Membencimu G... Ge...rald." Nessa begitu berani menentang tatapan itu, manik mata biru gelap. Segelap batinnya.      Sungguh, tak ada alam semesta seindah sorotan jernih kebiruan yang sedikit terbasuh air. Nessa memejamkan mata ketika iris menyerupai kedalaman lautan enggan beranjak memperhatikannya, menakuti bahkan meniatkan keburukan.      Perlawanan terhadapnya dari wanita belia begitu menggemaskan di pandang Gerald, ia menyeringai lebar merebahkan tubuh Nessa pada dasar lantai. Menghimpit keseksian itu dengan berat tubuh Gerald,      "Satu bantahan, maka itu poin khusus untuk memuaskan lelaki mu ini Honey!" Nessa mendorong lemah d**a Gerald, menyingkirkan tanpa tenaga wajah yang mendekati lehernya.      Nessa menatap tiap tetesan air menyerupai hujan deras merambah mata serta sentuhan tangan yang membuatnya aneh. Ia tersengal dalam menerapkan sistem saraf pusat otaknya. Berantah! Ia tak memahami rasa yang tuhan berikan. Dan Nessa hanya memasrahkan diri dalam kungkungan tangan Gerald yang mulai menjamah seluruh tubuhnya.      Meski Gerald memahami kesedihan itu setia melanda, namun fantasinya kembali tergugah ketika nafas Nessa menahan desahan. Menjauhkan kedua tangan di tengkuknya, enggan memeluk bahkan membalas tiap jejak sidik jari Gerald,      "Aku tahu bagaimana caranya agar kau memelukku dengan erat, Honey." Gerald memutar kran shower dan menjadikan air itu mengalir dengan lancar.      Tak ingin mengulangi ketidaktahuan mengenai awal permulaan bagi Nessa, iapun membuka paha Nessa pelan. Menarik kedua tangan kecil Nessa memeluk tengkuknya. Gerald meraih tubuh Nessa dalam gendongannya, bangkit dengan cepat dan ia tersenyum puas saat Nessa nampak ketakutan dan mencengkeram lehernya.      Nessa menggeleng lemah ketika tubuhnya tersudut pada dinding tepat di bawah curahan air shower, "j... Ja...ngan! Aku mohon jangan! I...ni sangat menyakitkan."      Gerald mengeratkan pelukannya, tak mengurangi niat ketika miliknya berdekatan dengan celah surga istrinya. Nessa pun terbelalak ketika rasa nyeri pada bagian bawahnya melanda, membuka mulut tanpa sengaja ketika benda keras itu menerobos jalur nikmatnya, "aaakkhh..." Nessa mengutuk mulutnya sendiri namun ia tak dapat menahan rasa sakit serta merelakan kedua tangannya memeluk tubuh Gerald.      "Sihir apa yang kau gunakan hm? Oouucchh... Ini masih sangat kecil dan rapat, Honey. Kau akan terbiasa dengan semua ini." Gerald menggerakkan pinggulnya pelan agar bentuk keras di bawah sana semakin melata bebas, menekan dinding dengan kedua telapak tangan melebarkan kedua paha istrinya.      "Sakit! Aaahhh... Berhenti, aahh..." Ternyata bukan hanya lelaki biadab ini yang gila! Nessa merasakan bibirnya begitu binal.      Jika sedetik saja Gerald melerai percintaan saat ini, maka apapun termasuk semua hartanya ia relakan. Mengancam bahkan membunuh perasaan yang kini tak bisa ia pahami. Mana mungkin! Ya, bocah jelita yang mampu membuatnya jatuh hati. Namun sesegera mungkin Gerald membuang rasanya, meninggikan segala bentuk dalam mempertahankan kisah semula.      Semakin besar dalam meluapkan gairah, Gerald menikam kuat lubang nikmat Nessa. Berpuas diri saat teriakan keras penuh dengan desah memanas terdengar di telinga. Ia tak memperdulikan tangan yang mencakari punggung bahkan menarik rambutnya kuat-kuat,      "Aaahhh... Aaahhh..." k*****t! Mengapa nada itu menguasai ubun-ubun Gerald, benar-benar cantik dan anggun ketika Gerald mempercepat proses temponya.      "Sakit. Hen...tikan! Aawwhh..." Nessa semakin melemah namun berupaya memperkuat tangannya memeluk tubuh Gerald.      "Kau sangat seksi, Honey! Bocah cantik milikku hm!" Gerald merasa tertarik ketika Nessa malas melihat kearahnya, memejamkan mata sembari menggigit bibir.      Tubuh yang tersentak hebat dengan gerak yang geram ketika Gerald melihat d**a seksi menggelombang indah serta air mengkilat kan warna kulit Nessa. Rambut menjuntai tersangkut di dasar dinding, Gerald memburu bibir menggemaskan menahan teriakan. Menelan sisa air bercampur saliva dengan bibir tebalnya, melakukan petting dalam standing nya.      Nessa tak merasakan sensasi indah bak menerjang awan cerah seperti warna mata Gerald, ia menahan diri dari rengkuhan serta kejaran nafsu Gerald yang memuncak. Mengerang keras hingga menatapnya dalam-dalam,      "Ooohhh f**k, kenapa kau sangat nikmat Honey! Aku akan membuatmu lincah setiap kita bercinta. s**t, milikmu sangat hebat little wife." Antara menahan desah nafas serta tangisan, menciptakan sebuah karya indah pada diri Nessa.      Bukan menyukai bagian kesengsaraan, namun keluguan istrinya begitu mengagumkan. Tak ada wanita yang pernah Gerald temui memiliki sikap dan sifat tanpa keagresifan, benar-benar menolak namun menikmati tanpa kesengajaan sangat spektakuler bagi Gerald.      Gerald merasakan pelukan Nessa semakin erat, membiarkan kepalanya menelusup masuk ke dalam leher dan kini Gerald merasakan nikmatnya bercinta saat denyutan labia mayor terasa, mimijit miliknya begitu mengagumkan untuk Gerald dan ia memahami jika Nessa meluapkan pelampiasan orgasmenya,      "Yeah! Turuti tubuhmu, Honey! Nikmati percintaan kita hari ini dan seterusnya." Gerald memperlambat gerakan petting nya, merasai tiap detik yang memanjakan miliknya.      "Aahh... Sialan! Aku akan membuatmu bahagia dengan beberapa kali pencapaian sayang." Gerald membimbing sensasinya menuju bathtub, membuat dirinya duduk dengan tetap menjaga pelukan Nessa.      "Peluk aku sayang, ikuti instruksi suamimu ini!" Nessa menatap wajah yang tak ia mengerti, memeluk tubuh Gerald merasakan ketakutan.      Gerald menekan sisi bathtub dengan satu otot lengannya, mempertahankan kisah dengan tubuh molek Nessa berada dalam gendongannya serta sentakan kian lantang di dalam bak berisikan sedikit air hangat. Iapun Tersenyum kecil ketika Nessa tak melepaskan pelukan,      "Good girl, ini tidak akan menyakitkan jika kau diam dan tak melawan istri kecilku." Sensasi yang luar biasa ketika Gerald merebahkan tubuh Nessa berada dalam kondisi terapung.      Tetap memeluk serta malas menatap wajah penuh gairah menikmati keindahan tubuhnya, Nessa tak mengerti akan penantian sentuhan itu. Mengerjap pelan mulai merasakan pening di kepalanya, serta sentakan keras itu seolah menusuk jantungnya.      Kian memanas hingga Gerald meraih tubuh itu kembali dan meremasi semua yang dapat ia jangkau, meneruskan kisah gairah ini dengan rincian untuk menyesap kuat p******a Nessa. Memburu tak mengenal pelan, menilik bagian montok itu dan Gerald mengerang keras sembari bergeleng layaknya bayi bermanja-manja dengan d**a ibunya.      Tak merelakan kepergian waktu yang membuat sensasi ini hilang, Gerald mempertahankan kekuatan dalam menahan pencapaian. Terus menerangkan niat hingga jeritan keras Nessa terus berulang, meski tak menyebut namanya namun Gerald mengagumi tiap suara bak lantunan musik didalam gelegar gairah seksual yang berkobar. Panas! Hingga suhunya tak dapat terukur, Gerald mengerang keras menggiring ketertarikan secara tiba-tiba.      Entah durasi sepanjang apakah ia mencumbui istrinya, melampiaskan nafsu besarnya hingga tubuh mungil itu tak berdaya, memejamkan mata seolah malas bergerak sedikitpun.      Gerald meraih kemenangan dalam hatinya yang begitu egois, merasa bahwa wanita cantik memiliki perbedaan usia itu adalah seutuhnya menjadi berlian berkilau miliknya. Tak ada siapapun yang dapat menyentuh bahkan merebut untuk dimiliki, ia akan melakukan berbagai cara agar Nessa tetap bertahan menjadi istrinya. Ya, istri yang sebenarnya.      Kini tubuh Nessa terbaring dengan rengkuhan tangan besar Gerald, merebahkan di atas dadanya. Mengecup hingga tak melepaskan jemarinya menguasai pinggang Nessa dan sesekali Gerald meraba seluruh keseksian Nessa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD