***

2587 Words
Azan subuh berkumandang, membelah malam yang pekat. Penanda alarm pagi telah datang. Alam mulai sibuk dengan fenomena rutinan, para ayam juga nampak sibuk berlomba menyuarakan suara kokok mereka. Embun pagi sudah bertenggeran di daun-daun, membuat daun tampak basah dan lembab. Di luar semua sudah mulai sibuk menyambut pagi, namun tidak dengan kamar yang di huni lima orang gadis. Kamar enam. Mereka masih terlelap di alam mimpi. Kamarnya juga gelap, karena lampu memang sengaja di matikan saat mereka tidur. “Hey, bangun. Ayo, bangun!! “ Suara itu bagai alarm kedua yang paling tidak di sukai mata-mata mengantuk. “Fatiah, ayo bangun...” Orang yang bernama Fatiah, menggeliat di atas kasurnya. Masih enggan untuk bangun. “Ayo buruan bangun, sudah subuh. Buruan bangun.” Mendengar kata subuh, refleks kesadaran Fatiah terkumpul penuh. Meski sangat mengantuk ia tidak bisa melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Gadis itu langsung mengubah posisinya dari tidur menjadi duduk. Ia mengucek pelan matanya, sebelum bangkit menuju kamar mandi. Suara gemercik air langsung terdengar. Tidak lama Fatiah keluar dengan wajah basah. Keadaan kamar juga tidak lagi gelap. Lampu kamar di nyalakan oleh Ustadzah. “Iah, tolong bangunkan yang lain, ya...” “Iya, Ustadzah..,” sahut Fatiah. “Lail, ayo bangun....” “Lingsir... “ “Mbak Ran...,” kata Ustadzah sebelum pergi. Setelah menggunakan mukena, Fatiah menggoyangkan telapak kaki teman-teman sekamarnya. Mereka hanya menggeliat pelan di atas kasur singel milik mereka dan seperti tidak berniat untuk bangun. Fatiah meraih sajadah dan menyampirkannya di atas bahu. Ia masih terus berusaha membangunkan teman-temannya yang tampak sangat mengantuk karena begadang nonton film bersama, semalam. “Udah subuh, Iah? “ Fatiah menoleh. Terlihat Najiha Billla muncul dari balik tembok seraya mengucek pelan matanya. Sebenarnya Fatiah berniat membangunkan Najiha Billa seraya keluar kamar. Kamar ini diisi oleh lima orang. Empat orang berada di ruang dalam dan satu orang di ruang depan. “Udah, Bill. Buruan wudu. Udah di tunggu salat subuh berjamaah,” jawab Fatiah. Ia lalu kembali membangunkan Lail, mbak Rani, dan Lingsi. “Ayo bangun udah subuh...,” seru Fatiah lagi. Ketiganya lalu memaksakan diri untuk bangun dan berjalan gontai menuju kamar mandi yang berada tepat di sebelah tempat tidur mereka. Secara bergiliran. Fatiah berangkat duluan ke aula. Ia membawa Al-Qur’an di tangannya. Sesuai jadwal mahad, selesai salat subuh berjamaah, kegiatan dilanjutkan dengan membaca surah Al-Waqiah bersama-sama. Fatiah terlalu malas untuk bolak-balik ke kamar. Letak kamar dan aula memang tidak terlalu jauh, tapi tetap saja dia malas. Di aula belum ada siapa pun. Fatiah melihat kamar-kamar di sekeliling aula semua masih nampak gelap. Bentuk mahad ini seperti kos-kosan, atau lebih tepatnya kos-kosan yang dijadikan mahad. Kamar-kamar berderet di dengan banyak pintu. Perkiraan Fatiah, setelah mudabiroh pergi, mereka kembali tidur. Fatiah berinisiatif membangunkan mereka lagi. Bagaimana pun itu adalah kewajiban seorang muslim untuk saling mengingatkan. “Ayo bangun, udah subuh.....” Kalimat andalan Fatiah saat membangunkan teman-teman satu angkatannya. Kalimat itu kadang efektif dan kadang juga tidak berpengaruh. Ada yang langsung bangun ketika mendengar kalimat itu, ada juga yang bangun namun dengan wajah masam dan kembali tidur. Fatiah tidak ambil pusing mengenai hal itu. Ia kembali ke aula. Kewajibannya membangunkan dan mengajak orang untuk salat, telah gugur. Selanjutnya itu keputusan mereka, mau memilih sujud atau tidur lagi. “Ayo, siapa yang mau jadi imam, buruan... “ kata Ustadzah memecah keheningan. “Buruan,” sambung Ustadzah. Matanya melirik ke sana, ke mari mencari siapa yang hendak di suruh menjadi imam subuh ini. Begitu mata Ustadzah bertemu tatapan mata Fatiah. Fatiah refleks menurunkan pandangan matanya. Ia tidak ingin menjadi imam salat. Tidak. Masih banyak santriwati yang lebih baik darinya. Ia masih belum bisa apa-apa. Bacaan salatnya masih ala kadarnya. “Fatiah, ayo sekarang kamu jadi imamnya.” Kalimat yang Fatiah takuti sejak tadi. “Hem, Ustadzah, tapi ana gak hafal bacaan qunut...,” jawab Fatiah apa adanya. Di mahad ini memang menggunakan qunut saat salat subuh. Sedangkan selama ini, Fatiah jarang sekali menggunakan doa qunut. Alasannya cukup sederhana, karena dia tidak hafal bacaan qunut hanya itu saja. “Lain kali di hafalin ya. Nanti giliran kamu jadi imam salat subuh,” kata Ustadzah yang usianya hanya berbeda tiga tahun dari Fatiah. “Iya, Ustadzah.” Fatiah mengangguk kecil. “Ya udah, sekarang Billa deh jadi imam.” Billa langsung maju, Fatiah membaca qomat lalu salat subuh di mulai dengan khusyuk dan langsung di sambung membaca surah Al-Waqiah. “Sadaqaullahulazim.....” Kegiatan rutinan sebelum beraktifitas telah selesai. “Jangan lupa, sebelum kembali ke kamar, kalian harus beres-beres mahad dulu. Setelah itu baru boleh kembali ke kamar.” Ustadzah mengingatkan. Kegiatan selanjutnya kerja bakti bersama-sama setiap pagi. Fatiah golongan santri patuh. Tercatat selama enam bulan di sana, Fatiah belum pernah melanggar aturan mahad. Sekali pun. Fatiah sangat menghindari hal itu. Dan dia tipe santri samiqna waatoqna. “Duh, kelompok piket aku pada kebo nih. Kesel banget.” Lail—si adik bontot. Dia yang paling termuda di kamar enam. “Kan kalo gini jadi lama. Aku kan harus buru-buru ke sekolah hari ini,” keluh Lail seraya mengibas-ngibaskan sapu ijuk di tangannya. “Emangnya ada acara apa di sekolah kamu, Lail? Perasaan Lingsi, santai aja,” tanya Rani. Orang yang paling tua di kamar enam. Biasanya Fatiah menyebut Rani dengan embel ‘mbak' sedangkan yang lainnya memanggil ‘Kakak’. “Bukan acara sekolah, Kak. Tapi aku ada urusan di ruang osis,” sahut Lail. Rani manggut-manggut. “Ya udah sabar aja. Anak kelompok aku juga gitu. Pada malas piket semua, padahal tugas kuliah aku numpuk udah kayak baju kotor,” ujar Rani dengan logat khas Sukabumi. Di mahad ini, mereka memiliki jenjang pendidikan yang berbeda-beda. Ada yang masih SMP, SMA, kuliah bahkan ada beberapa yang sudah berkerja. Tempat ini merupakan mahad dan asrama bagi anak-anak rantauan untuk mendapat tempat sekaligus memperdalam ilmu agamanya. Bisa dibilang ini seperti pondok tradisional yang mengajarkan ilmu agama. Tapi pondok ini tidak memiliki pendidikan formal, sehingga para santri harus sekolah keluar untuk melanjutkan pendidikannya. Jadwal pondok dan kegiatan pondok biasanya diadakan di sore dan malam hari, setelah para santri pulang sekolah atau dari kesibukan lainnya. “Aku salut sama kamu, aktif banget organisasinya. Aku ikut PMR aja gak jalan lagi.” Fatiah ikut nimbrung. “Sama dong kita, Iah. Kitakan sobat magerqu, kamu lupa? Kamukan ketuanya.” Billa ikut nimbrung, Fatiah terkekeh. Billa adalah teman satu angkatan Fatiah di sekolah. Lail dan Lingsi berada di sekolah yang sama, tapi mereka berdua kelas dua SMA, sedangkan Billa dan Fatiah berada di tingkatan kelas akhir SMA. Sedangkan Rani, ia kuliah. Jadi secara logika, Fatiah lebih cenderung dekat dengan Billa. “Mbak, mau gabung klub magerqu gak? “Fatiah melirik Rani yang tengah sibuk dengan kain pelnya. “No way...,” sahut Rani ala-ala bule nyasar dengan logat Sukabumi. Rani merupakan orang terlucu di kamar enam. “Kenapa Kak, padahal aku ngeliat loh, pontensi terpendam Kakak dalam hal mager,” sahut Billa terkekeh. “Yeyeye.. justru itu aku gak mau gabung. Kalo gabung bisa tambah mager parah. Entar malas ngapa-ngapain, umur udah tua masa kuliah gak selesai-selesai. Kapan lagi nikah kalo gitu..,” jawab Rani, asal. “Emang udah ada calonnya, Kak? “ goda Lail. “Eh, sih bocah ikut-ikut aja...,” sahut Rani seraya tertawa. “Bocah kerjanya belajar. Gak usah pikirin doi aku yang sampai sekarang belum juga keliatan tanda-tandanya.” “Hahahha, kocak nih, kak Rani.” Lingsi ia sejak tadi khusyuk dengan tugasnya, tiba-tiba tertawa pelan mendengar guyonan Rani. “Ya maaf kak, hahahha...soalnya aku gak yakin, kalo kak Rani belum punya pacar.” Lail tertawa pelan. “Eh, engkoh, pacaran itu dosa tahu. Mana mau aku mah pacaran.” “Hem, komitmen ya, Kak? “ goda Lail. Rani geleng-geleng pelan. “Kan sekarang lagi musim gitu kak. Gak punya ikatan apa pun tapi tahu saling memiliki rasa yang sama. Eaaaa....” Lail itu suka sekali gombal. Terkadang Fatiah suka tertawa mendengar gombalannya, bukan karena baper atau sweet tapi lebih ke garing dan lucu aja gitu. “Percuma aja selama ini aku belajar bahasa Indonesia kalo aku gak bisa bilang, ‘aku sayang kamu’. “ Aneh kan? Ada lagi... “Kalo liat kamu, aku kayak lagi liat masa depan.” Udah muak? Hahahah...oke baiklah. “Iya nih, kayaknya kak Rani ada doi dehh....” timpal Lingsi, lagi. Awalnya Lingsi adalah orang yang paling normal di kamar. Gayanya seperti anak-anak pintar yang fokus dan teliti. Semua miliknya tertata rapi. Bahkan baju di lemari Lingsi membuat baju di lemari Fatiah dan yang lainnya insecure. Baju yang di susun sedemikian rapinya, tidak ada celah berantakan sedikit pun. Selain itu, Lingsi tipe orang yang lebih suka mengerjakan makalah ketimbang buat power poin. I mind, makalah kan lebih ribet dan panjang ketimbang buat power poin. Jika di suruh memilih antara keduanya, jelas Fatiah akan lebih memilih power poin. Jelas. Kembali ke topik, Lingsi yang normal kini perlahan mulai terpengaruh kealayan anak kamar enam. Dia jadi tidak sekaku awal bertemu. Lingsi berbaur dengan sangat baik, meski keluar dari sirkelnya sendiri. ‘Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung’ mungkin begitulah pemikiran Lingsi. Toh, mereka juga bukan anak nakal yang suka melanggar aturan-aturan mahad. Bisa dibilang kamar enam itu, kumpulan anak nurut meski gak terlalu pintar. “Eh, udah selesai semua kan? Balik ke kamar yuk... tiba-tiba aku ngantuk parah. Masih ada waktu dua puluh menit untuk tidur, kalian mandi duluan gih. Kayak biasa, aku mandi terakhiran.” Lail langsung tidur begitu saja begitu tubuhnya bertemu kasur. Bakat yang luar biasa. “Iah, mandi duluan gih..., buruan. Setelah itu baru ana.” Rani mengintrupsi. Sebenarnya sejak dulu, Fatiah sangat tidak suka diperintah terlebih oleh orang yang selalu suka mengatur orang lain. “Mbak aja duluan..,” sahut Fatiah. Meski dongkol tapi ia tetap berkata lembut dengan intonasi rendah. “Duh, Iyot, ana malas banget mandi jam segini. Kamu aja deh duluan, entar baru aku.” Tuhkan.... Fatiah paling tidak suka orang seperti itu. Fatiah akan lebih menghargai orang yang bukan saja mengingatkan tetapi juga melakukan apa yang ia katakan. Bukan sekadar menyuruh, sedangkan dia sendiri tidak melakukan apa yang dia seru. Rasa anehkan? Dan Fatiah tidak respack pada orang yang seperti itu. Fatiah melirik jam, sudah hampir jam setengah tujuh. Fatih bangkit, lalu mengambil handuk. Jika ia hanya diam saya menunggu ego untuk menang, maka dia bisa telat datang ke sekolah. Setelah Fatiah, barulah Billa, Lingsi, Rani dan yang terakhir Lail. Terkadang Fatiah sering berpikir, seadanya dia berada di kamar ini sendirian atau ia punya teman kamar, yang peduli. Lalu apa? Mungkin Lail akan sering bolos kuliah, karena telat atau ketiduran. “Eh, sarapan pagi udah datang belum ya, guys,” kata Rani tiba-tiba. Fatiah menoleh mendengar kalimat itu, sifat sensitif Fatiah timbul. Kalimat Rani barusan seolah kalimat sindiran di telinga Fatiah, pasalnya mereka seperti meletakkan kewajiban mengambil rantang makanan di pundak Fatiah, dengan dalil bahwa dia adalah ketua kamar. Dan kalimat tadi terdengar seperti, ‘ambil makanan buruan, Fatiah kan ketua kamar.’ Mungkin Fatiah sedikit berlebihan, tapi seperti itulah kenyataannya. “Udah mungkin, di depan,” jawab Fatiah, pura-pura tidak mengerti. “Oh....” Rani berdeham pelan. Ia terlihat sungkan ingin to the poin menyuruh Fatiah tapi ia juga terlalu malas untuk ke depan mengambil rantang makanan. “Eh, Billa masih di depankan?” tanya Rani. “Iya, Kak,” jawab Lingsi. “Minta tolong Billa aja.” “Sipp.....” jari Rani sibuk mengetik dengan lincah di ponselnya. Tidak lama dari itu, Billa kembali ke kamar. Dia tidak membawa rantang makanan. “Belum di anter makanannya, Kak,” kata Billa, menjawab pertanyaan yang timbul di kepala Rani. “Ihh masa jam segini belum di anter sih, kan sekarang udah jam berapa,” gerutu Rani. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. “Mungkin karena macet, Kak,” jawab Billa. “Hem,” Rani menghela nafas panjang, lalu memilih kembali rebahan di kasurnya sembari memainkan ponsel. “Nyeduh s**u yuk, Iah...,”ajak Bill. Fatiah dengan senang hati langsung menerima ajakan Billa. Ia langsung beranjak, ke dapur mini kamar mereka. Sudut kamar mereka sulap menjadi dapur ala-ala khusus menyimpan makanan kering, roti dan s**u. Fatiah mengambil kemasan kental manis. Billa dan Fatiah, pencinta s**u namun keduanya bukan kaum kaya raya nan jutawan, mereka hanya bisa membeli kental manis yang susunya hanya beberapa persen. Setidaknya terasa seperti s**u, itu sudah cukup bagi keduanya. Biasanya kegiatan menyeduh s**u mereka, di temani dengan biskuit, entah itu miliki Billa atau milik Fatiah. Mereka akan saling berbagi. “Mbak, Laili, mau biskuit gak? “ Kepala Fatiah muncul dari balik pembatas kamar. Lail mengangguk lalu bergabung bersama keduanya. “Mbak, mau gak? “tanya Fatiah lagi. Rani hanya menggeleng pelan. Pertanda tidak mau. Lalu Fatiah kembali dengan s**u hangatnya. Lingsi yang baru saja selesai mandi, langsung bergabung menyeduh s**u. s**u Lingsi benar-benar s**u bukan kental manis seperti Fatiah dan Billa. “Biskuitnya, Ling.” Fatiah menggeserkan biskuit ke dekat Lingsi. “Eh, katanya di grup, makanannya udah datang guys...,” kata Billa setelah mengecek ponselnya. “Udah dateng ya....?” Rani tiba-tiba muncul di balik tembok. Rani melirik Fatiah. Fatiah masih sibuk dengan susunya. “Iya, Kak. Udah dateng.” Rani tiba-tiba langsung keluar dari kamar. Fatiah tersenyum kecil, rasa lapar rupanya membuat Rani melupakan rasa malasnya dan bangkit mengambil rantang makanan. Baguslah, dengan begitu Fatiah tidak perlu mengambil rantang makanan lagi. Dua menit berlalu. Rani kembali ke kamar dengan satu rantang makanan di tangannya. “Eh, guys, makanan udah datang,” Fatiah tertegun. Di dalam pikirannya, terbesit ‘kenapa cuman satu? Apa salah jika sekalian mengambil untuk yang lain?’ “Aku lapar banget, makanya ngambil duluan,” kata Rani seperti mengerti tatapan Fatiah. Ia langsung makan dengan lahap. Apa pun alasannya, menurut Fatiah itu tetap tidak benar. Apa salahnya jika mengambil untuk yang lain juga. Hal itu tidak akan mengurangi waktunya kembali ke kamar. Toh, dia juga membawa makanan itu kamar. Fatiah menghabisi susunya. Ia lalu bangkit dan bersiap memakai seragam. Ia jadi tidak bernafsu untuk sarapan pagi. Sudahlah... Fatiah mengingatkan dirinya. Terkadang sifat baik yang kita berikan kepada orang tidak selamanya akan di balas baik oleh orang tersebut. Seharusnya Fatiah sadar makna kata ikhlas. Mungkin ini juga teguran untuk melakukan sesuatu lillahi ta’ala bukan lila 'insan. Beginilah jika niatnya salah, yang ada hanya kecewa bukan pahala. “Fatiah, gak makan dulu? “ tanya Billa. “Hem .....” “Makan dulu aja yuk, masih jam berapa juga nih. Aku udah ngambil makanannya. Kamu lupa hari ini, hari senin ?” Oh ya, Fatiah lupa akan hal itu. Dia harus makan agar tidak pingsan pas upacara bendera. “Yuklah, makan.” Billa sudah lebih dulu membuka rantang makanannya. Tidak lama Lail yang baru selesai mandi, juga itu bergabung makan bersama. Mereka semua makan dengan khidmat sembari membicarakan hal-hal sederhana, entah tentang pondok atau tentang hal random lainnya. “Yuk berangkat bareng guys....,” Mereka semua telah siap berangkat ke sekolah sedangkan Rani tiba-tiba dosennya memberi kabar untuk tidak mengajar hari ini dan artinya dia libur. Rani berinisiatif membersihkan kamar sebelum sibuk dengan tumpukan tugasnya. “Kita berangkat ya, Kak,” kata Lail. “Jangan lupa isi absen dulu di kantor,” pesan Rani. Jadi setiap akan berangkat sekolah, ke kampus atau kerja, setiap santri wajib mengisi absen. Hal ini berguna untuk pendataan siapa saja yang ada di mahad, mengingat mereka semua memiliki jadwal yang berbeda-beda. “Sip, Kak. Kita pergi ya, assalamualaikum.” “Iya, walaikumsalam. Hati-hati. See you guys.... “ Mereka berdada-d**a riang seperti anak bocah yang hendak pergi ke play group. "Btw, kalian udah dengar kabar terbaru ...? "Belum. Emangnya kabar apa?" Lail mendelik tidak percaya. "Masa kalian gak tahu kabar seheboh ini ..." "Emangnya ada masalah apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD