Pagi itu, yang tersisa hanya seprai kusut dengan noda merah yang mencolok di atas putihnya kain, dan sebuah fa zan giok yang tergeletak di atas meja. Di sisi kanan ranjang.
Satria Wiratama duduk lama mengamati benda itu, sambil mencoba mengingat kejadian semalam.
Rahangnya mengeras, sesekali ia mengepalkan tangannya. Ia merasa bodoh dan terhina karena tidak pernah ditinggalkan.
Di dunianya, perempuan datang dengan sendirinya. Beberapa bahkan rela menunggu hanya untuk mendapat satu jam di kamarnya. Uang, kuasa, dan reputasinya lebih dari cukup untuk membuat siapa pun tunduk. Ia terbiasa memilih, bukan dipilih. Terbiasa meninggalkan, bukan ditinggalkan.
Akan tetapi, pagi ini ... ketika ia bangun dalam posisi sebaliknya.
Kosong. Menyakitkan.
Ia meraih hiasan rambut itu. Batu gioknya dingin, tapi menyimpan aroma samar yang masih tertinggal di sana. Aroma sama yang tadi malam melekat di kulitnya, menyatu dalam panasnya keringat yang jatuh dalam lenguhan kenikmatan.
Aleta.
Nama itu terasa seperti duri, menancap sampai ke dasar jantungnya.
Ia berjalan menuju jendela kamar hotel yang menghadap langit Macau. Dari ketinggian, kota itu tampak seperti ilusi yang begitu indah, gemerlap, dan penuh kebohongan. Kasino-kasino berdiri seperti altar pemujaan keserakahan. Uang berpindah tangan lebih cepat daripada napas manusia.
Dan di tengah semua itu, ada satu perempuan yang berani mempermainkannya. Menghinanya bukan dengan kata-kata, tapi kepergian yang begitu rapi.
Satria tertawa kecil, untuk dirinya sendiri.
Pintu kamar diketuk dua kali.
“Masuk.”
Roberto melangkah masuk dengan kepala sedikit menunduk. Setelan hitamnya rapi, ekspresinya datar seperti biasa. Ia sudah bersama Satria lebih dari tujuh tahun. Ia tahu kapan harus bicara, dan kapan harus diam.
Karena ia paham, tuannya ini kadang seperti malaikat, terkadang juga seperti iblis.
“Tuan.”
Satria tidak menoleh. Masih menatap lurus.
“Cari dia.”
Roberto terdiam sepersekian detik.
“Nama?"
“Aleta.”
“Nama lengkapnya, Tuan?”
Satria akhirnya menoleh. Tatapan matanya tajam seperti bilah pisau membuat Roberto langsung menunduk.
“Itu yang harus kau cari.”
Roberto mengangguk.
“Baik, Tuan.”
“Semua tempat. Baik hotel, daftar pekerja heritage tour, imigrasi, agen wisata. Aku tidak peduli dia turis, pekerja ilegal, atau umpan seseorang. Aku ingin datanya di mejaku sebelum malam tiba. Jelas dan lengkap."
“Baik, Tuan.”
Roberto berbalik, tapi langkahnya terhenti ketika suara Satria kembali terdengar.
“Dan Roberto .…”
“Ya, Tuan?”
“Jangan buat aku mengulang perintah.”
Roberto menunduk lebih dalam.
“Tidak akan, Tuan.”
Pintu ditutup.
Ruangan kembali sunyi.
Satria memandang lagi noda merah di seprai. Simbol kepolosan? Atau sandiwara yang dirancang rapi?
Ia bukan lelaki naif. Ia tahu perempuan bisa berakting dan sangat paham bagaimana dunia malam bermanipulasi, tapi ada sesuatu yang berbeda tadi malam.
Selama hidupnya, bersama perempuan adalah hal biasa, tapi satu pun belum pernah ada yang meninggalkan jajak seperti saat ini. Dia masih perawan dan seharusnya perempuan menjaga itu bukan malah diberikan pada orang yang tidak dikenal.
Dari ini saja sudah jelas bahwa ada sesuatu yang dirahasiakan. Dan, tentunya tujuan utamanya adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.
Namun, ia juga sadar bahwa Aleta tidak seperti perempuan yang mengejar uangnya. Ia tidak menanyakan nama belakangnya ataupun meminta nomor pribadi seperti kebiasaan perempuan-perempuan itu. Sama sekali tidak menyelipkan ambisi dalam pelukannya.
Ia pergi, tanpa mengambil apa pun darinya dan tidak pula meninggalkan pesan.
Kecuali fa zan giok itu.
Siang menjelang sore. Roberto kembali.
“Tidak ada, Tuan.”
Satria yang sedang duduk di kursi kulit ruang kerjanya perlahan mengangkat kepala.
“Ulangi.”
“Kami sudah memeriksa daftar pemandu wisata resmi. Tidak ada nama Aleta. Kami juga sudah cek CCTV sekitar area masuk Lisboa tadi malam. Wajahnya tertangkap jelas, tapi tidak ada rekam jejak sebelumnya di database pekerja. Seolah-olah dia baru muncul kemarin.”
“Imigrasi?”
“Tidak ada data masuk dengan nama itu dalam dua minggu terakhir.”
“Nama palsu?” tanya Satria datar penuh hati-hati.
“Kemungkinan besar, Tuan.”
Satria bangkit. Langkahnya tenang, tapi aura di sekitarnya berubah. Ia jelas sudah masuk ke dalam perangkap.
“Geng yang mengejarnya?”
“Dua orang itu sudah ‘diamankan’. Mereka tidak mau bicara.”
Senyum tipis kembali terukir di wajah Satria. Ia menatap Roberto dengan tatapan sadis.
“Tidak mau? Atau belum mau?”
Roberto menelan ludah tipis.
“Kami masih mencoba, Tuan.”
“Coba lebih keras lagi!"
Jawaban itu sederhana. Namun, bagi Roberto tahu arti sebenarnya.
Sore itu, dua pria yang tadi malam mengejar Aleta terikat di sebuah gudang kosong di pinggiran kota. Bau besi dan karat bercampur dengan aroma darah yang samar.
Satria berdiri di depan mereka.
Jasnya rapi, jam tangan mahalnya pun tampak seperti detik yang memanggil antrian kematian.
“Siapa dia?” tanyanya pelan.
Salah satu pria meludah ke lantai.
Satria tidak marah, Ia justru tersenyum dengan perlakuan itu.
“Keberanian yang tidak pada tempatnya itu mahal harganya.”
Ia mengangguk kecil pada anak buahnya, kemudian suara retakan tulang terdengar.
Jeritan memecah ruangan yang seketika hening.
Satria tidak berkedip menatap keduanya.
“Sekali lagi. Siapa dia.”
“K--kami cuma disuruh!”
Pria itu terengah juga menahan sakit.
“Kami tidak tahu namanya!”
“Oleh siapa?”
Pria itu terdiam.
Detik berikutnya, jeritan lain menggema.
“Kami tidak tahu! Perintah datang lewat pesan anonim! Kami cuma disuruh menangkap perempuan dengan cheongsam merah!”
Satria menyipitkan mata. Anonim?
Artinya terencana dan bukan kebetulan.
Ia melangkah mendekat.
“Tujuannya?”
“Kami cuma disuruh antar ke ... ke dermaga!”
“Untuk apa?”
“Kk--kami tidak tahu! Sumpah!”
Satria terdiam beberapa saat. Menimbang juga menghitung kemungkinan.
Jika Aleta target penculikan, kenapa ia berada di pintu masuk kasino? Kenapa tampak tenang? Ia juga fasih berbahasa Inggris seperti pemandu profesional.
Dan kenapa, setelah lolos dari penculik itu justru ia datang padanya meminta tolong?
Perempuan penuh rahasia.
Satria merasakan sesuatu yang asing menyelinap di dadanya.
Bukan hasrat ataupun marah seperti biasanya melainkan rasa tertarik yang bercampur ancaman.
Seolah ia sedang berdiri di awal permainan yang tidak ia pahami aturannya.
Ia berbalik.
“Buang mereka.”
Roberto mengangguk.
Satria melangkah keluar gudang tanpa menoleh lagi.
Malam turun perlahan di Macau.
Lampu-lampu kasino menyala seperti bintang palsu penuh gemerlap, tapi gelap.
Di suite hotelnya, Satria kembali memutar rekaman CCTV pribadi koridor kamarnya. Ia sudah meminta akses khusus.
Pukul 04.12, pintu terbuka.
Aleta berjalan keluar. Dengan pakaian yang sama yang setiap lekukan tubuh itu mengundang hasrat siapa pun yang melihat apalagi ... mereka berdua sudah bersama.
Satria memejamkan mata, bayangan permainan tadi malam begitu memabukkan. Ia menggeleng dan menatap lagi ke arah layar CCTV yang masih menyala. Aleta berjalan tegak, tidak terburu-buru. Tidak tampak seperti perempuan yang kabur.
Sebelum kamera menangkapnya keluar dari frame, Aleta sempat menoleh ke arah lensa.
Dan tersenyum.
Bukan senyum takut ataupun malu, tapi senyum tipis penuh arti.
Seolah ia tahu sedang diawasi.
Satria menghentikan video.
Jantungnya berdetak lebih lambat meskipun terasa berat.
“Menarik,” gumamnya.
Dalam sejarah hidupnya, ia merasa bukan ia yang mengendalikan papan catur.
Ada seseorang yang bergerak lebih dulu dan ia tidak tahu tujuannya.
Ia mengambil ponsel.
“Roberto.”
“Ya, Tuan.”
“Perluas pencarian. Gunakan jaringan Hong Kong dan Singapura. Cek juga daftar penerbangan pribadi. Dan satu lagi."
Satria menarik napas panjang.
“Ya, Tuan?”
“Cari semua perempuan dengan kemampuan bahasa Mandarin, Inggris, dan yang punya latar belakang heritage tour dalam lima tahun terakhir. Tidak peduli mereka ganti nama berapa kali.”
“Baik, Tuan.”
Satria menutup telepon.
Ia kembali menatap fa zan giok di tangannya.
Benda kecil itu terasa seperti tantangan baru.
Di dunianya, ia selalu menjadi pemburu.
Tapi kini, ia merasakan sensasi berbeda.
Bukan sekadar ingin memiliki, tapi ingin tahu.
Siapa sebenarnya Aleta?
Korban, umpan atau musuh yang menyamar dalam wujud paling memikat?
Satria berdiri di depan jendela. Pantulan wajahnya di kaca tampak lebih gelap dari biasanya.
“Kalau ini permainan, kau salah memilih lawan, Aleta."
Namun, jauh di dasar hatinya, ada satu pengakuan yang tak ingin ia ucapkan keras-keras.
Malam itu, bukan hanya tubuhnya yang disentuh Aleta, tapi juga egonya dan harga dirinya sudah dikendalikan penuh oleh perempuan itu.
Gedung Kasino Lisboa masih memamerkan gagahnya di tengah malam yang penuh dusta.
Satria Wiratama tidak akan pernah berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan, bagaimanapun caranya.
Malam itu, bukan hanya tubuhnya yang disentuh Aleta, tapi juga egonya dan harga dirinya sudah dikendalikan penuh oleh perempuan itu.
Gedung Kasino Lisboa masih memamerkan gagahnya di tengah malam yang penuh dusta.
Satria Wiratama tidak akan pernah berhenti sampai ia mendapatkan apa yang ia inginkan, bagaimanapun caranya.