Akhirnya, mereka sampai juga di depan rumah Tania. Namun, apa yang terlihat? Bangunan rumah hancur, hanya ada puing-puing gosong, semacam habis kebakaran. "Oh Tuhan, apa yang terjadi? Bapak? Ibu?” Karmila histeris. Dia menangis tersedu-sedu karena bingung memikirkan nasib kedua orang tuanya. Nadio mendekap erat tubuh kekasihnya yang bergetar karena syok. Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Sementara Karmila masih sesengukan dalam dekapan sang kekasih. “Nduk, benar kamu, Karmila?” Seorang wanita berumur 50 tahunan datang menyapa dan mencoba mengenali Karmila yang mukanya tertutup oleh rambut. Saat mendengar sapaan orang tersebut, sejoli yang sedang berpelukan itu menoleh. Wajah Karmila seketika terlihat berseri, begitu melihat kedatangan wanita tersebut. “Bude Narmi,”

