8. STRANGE

1533 Words
Minerva memperhatikan guru yang sedang menerangkan materi pelajaran matematika di di depan kelas, sesekali ia mengetuk-ketukan pulpen yang ia pegang ke meja membuat suara berisik yang samar. Ruang kelas yang luas dan terbilang cukup bagus untuk kelas di sekolah yang terbuat dari bangunan tua yang entah telah di bangun berapa puluh tahun atau mungkin seratus? Minerva tidak bisa menebaknya dengan tepat, tapi dilihat dari bagaimana rupa bangunannya, dinding yang tidak di poles semen, di dinding bagian luar sekolah terdapat banyak pohon merambat yang menutupinya dan pohon-pohon tinggi berdiri di sekeliling sekolah.  Saat belajar atau berada di sekolah, Minerva merasa jika dia berada di sebuah kastil tua, beberapa tahun lalu saat dirinya belum mengalami pubertas, dia bahkan membayangkan jika dirinya adalah seorang putri yang tinggal di kastil, saat jam istirahat Minerva bahkan diam-diam pergi ke tempat yang sepi dan bertingkah selayaknya seorang putri. dan sekarang Minerva baru menyadari tingkah kekanakannya yang membuatnya malu jika teringat akan momen itu. 'Tidak masalah, semua orang pasti memiliki hal yang memalukan seperti ku. Lagi pula saat itu aku masih anak-anak.' Minerva menyemangati dirinya sendiri dari dalam hati. Kelas cukup sepi dengan adanya 20 murid di dalamnya, untuk kelas yang berukuran sebesar ini. Bahkan karena terlalu besarnya kelas mereka tidak tahu harus menaruh apa untuk mengisi ruang yang tersisa sebab dekorasi dan keadaan kelas yang tidak memungkinkan mereka untuk memutuskan meletakan sesuatu seenaknya. Mereka bisa saja mendekorasi ulang bangunan tapi hal itu juga memerlukan biaya yang tidak kecil, apalagi sekolah ini terletak di kota pedalaman dimana tidak banyak orang yang tinggal dan hanya memiliki sedikit murid. Setiap tingkat hanya memiliki 2 kelas yang berisi 20 anak murid bahkan tingkat 1 hanya memiliki 17 murid di kelasnya.  Sekolah yang sangat sepi untuk ukuran sekolah sebesar kastil. Tapi Minerva sama sekali tidak keberatan dengan hal itu, justru ia merasa hal itu bagus, dia jadi lebih fokus belajar dan mendengarkan karena tidak banyak murid, guru pun dapat memperhatikan anak-anak dengan benar.  KRING!!!!! Suara bel yang nyaring cukup lama dibunyikan menandakan jika kelas telah usai. Minerva merapikan buku-bukunya ke dalam tas beserta alat tulis yang ia gunakan, "Hei, Minerva!"  Minerva menoleh kearah sisi kanannya dimana suara yang memanggil namanya berasal, seorang perempuan yang sebelumnya duduk di sampingnya kini berdiri tepat di sebelahnya, bibir perempuan itu tersenyum begitu lebar dan matanya menatap Minerva dengan berbinar-binar. "Apa kamu mau bergabung makan bersama kami?" kata perempuan itu sambil melirik kearah belakangnya sesaat, Minerva ikut melihat kearah mata perempuan itu tertuju. Sekelompok anak- 2anak perempuan dan 3 anak laki-laki-seumurannya berdiri sedang menatap kearah mereka, Minerva dan perempuan di sampingnya.  Minerva kembali melihat kearah perempuan itu, dia masih sama seperti sebelumnya, menunggu jawaban Minerva dengan penuh harapan di wajahnya. Minerva menghela nafasnya pelan saat melihat wajah perempuan itu lalu ia menoleh kearah yang berlawanan dari pandangannya sebelumnya, ia melirik Rein dan teman-temannya yang juga sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit.  Minerva memang tidak pernah kesulitan mencari teman karena wajahnya yang sangat cantik dan otaknya yang pintar, jadi meskipun Rein dan kedua temannya yang lain menjauhinya, maka anak lain seperti perempuan di sampingnya saat ini akan menghampirinya dan mencoba dekat dengannya. Meskipun begitu, Minerva berterimakasih karena Rein tidak mengatakan apapun tentang dirinya. Rein memang anak yang baik, Minerva tahu itu. Rein tidak mungkin menyebarkan rumor buruk tentang dirinya meskipun mereka bertengkar. Minerva berharap suatu saat nanti dia bisa menceritakan yang sebenarnya pada Rein dan kedua temannya yang lain. Jujur saja, Minerva tidak ingin hubungan pertemanan mereka berakhir begitu saja seperti ini. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain, karena saat ini untuk pergi ke sekolah pun Minerva masih ketakutan, dia bahkan meminta ibunya untuk mengantarnya ke sekolah setiap hari setelah kejadian itu. Minerva sama sekali tidak bisa melupakannya, setiap malam dia selalu memimpikan serigala besar itu, bahkan dia sekarang paranoid pada pintu balkon kamarnya, dan dia merasa ada yang mengawasinya bahkan saat ini pun ditengah keramaian kelas dia masih merasakan itu. Hari ini sudah terhitung dua minggu sejak kejadian itu. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduk Minerva merinding, "Tentu saja," Jawab Minerva setelah diam cukup lama. Wajah perempuan itu terlihat sangat senang saat Minerva setuju untuk ikut makan bersama dengannya, "Ahh! Ngomong-ngomong namaku Cassa." Perempuan yang mengaku bernama Cassa itu mengulurkan tangannya yang dibalas oleh Minerva. Minerva tertawa kecil, "Tentu saja aku tahu, kita teman sekelas."  Cassa tersipu malu mendengar ucapan Minerva, Minerva tidak tahu kenapa perempuan itu bersikap begitu pemalu dengannya tapi dia tidak ingin ambil pusing, Cassa bukanlah satu-satunya orang yang bersikap seperti itu terhadapnya, "Ah.. ya.. tentu saja.. Aku pikir kamu tidak mengingat namaku karena kelihatannya kamu terlalu cuek terhadap sekitarmu. Jangan salah paham! aku... bu..bukan begitu! aku tidak mengatakan jika kamu terlihat buruk! kamu justru terlihat sangat keren! dan aku.. aku juga tidak pernah bicara padamu sebelumnya jadi..."  Minerva tercengang, dia bahkan tidak mengatakan apapun dan dia juga tidak salah paham sama sekali terhadap ucapan Cassa, "O-okay!" balas Minerva dengan canggung. Selanjutnya Cassa membawa Minerva pada teman-temannya yang terlihat sangat senang menyambut Minerva, mereka pergi ke kantin bersama, begitu mendapat meja makan mereka pun duduk, "Aku akan mengambilkan makan untukmu, kamu bisa duduk dengan tenang disini, Minerva."  Minerva mengangguk menerima bantuan dari salah seorang teman barunya, namanya Benjamin. Seorang laki-laki manis yang humoris, mereka baru berkenalan beberapa menit yang lalu, tapi benjamin sudah melemparkan banyak gurauan selama perjalanan menuju kantin. Benjamin memiliki kulit sawo matang, bertubuh tinggi bahkan bisa dikatakan proposional, hanya dengan melihatnya saja minerva tahu bahwa Benjamin sering melakukan latihan olahraga.  Begitu mendapat persetujuan dari Minerva, Benjamin langsung menghilang dari pandangan dan mengantre makanan hanya dalam hitungan detik, mereka semua tertawa melihat kelakuan Benjamin, "Sepertinya Benjamin cukup tertarik padamu." Goda seorang perempuan satu kelompok dengannya, Minerva ingat dia berkata bahwa namanya adalah Lyra.  Minerva hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Lyra lalu melupakannya seakan itu bukan apa-apa. Kedua dari mereka menyusul Benjamin dan mengantre, Emma dan Noah. Kini tersisa Minerva, Lyra dan Cassa yang duduk menunggu makanan.  Cassa terus memperhatikan Minerva sejak Minerva bergabung dengan mereka, dan Minerva hanya membiarkannya begitu saja dan berusaha bersikap biasa meskipun saat ia tanpa sengaja melihat kearah Cassa, ia merasa canggung. Meskipun Minerva baru saja berkenalan dengan mereka, Minerva tidak merasa canggung ataupun malu sama sekali, dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini dan dia bersyukur dirinya seperti itu. Mungkin bisa dikatakan jika itu adalah bakat alami, disukai dan mudah dekat dengan orang baru.  Lyra terkekeh saat melihat tatapan Cassa pada Minerva, Cassa seperti seseorang yang bertemu dengan idolanya. Minerva yang mendengar suara tawa Lyra menoleh kearahnya. Lyra adalah gadis cantik, dia memiliki kulit sawo matang sama seperti Benjamin, yang begitu indah dari Lyra yang sangat Minerva kagumi adalah mata berwarna emas. 'Tunggu! Emas?!' Minerva baru menyadari jika warna mata Lyra benar-benar berwarna emas setelah melihatnya dengan lekat.  Minerva kagum, ia ingin sekali bertanya bagaimana Lyra bisa mendapatkan mata berwarna emas seperti itu, dan saat ini Minerva sedang memilih kalimat yang tepat untuk bertanya pada Lyra. "Wow.. aku baru pertama kali melihat sepasang mata yang sangat indah!" puji Minerva. Saat itu juga Minerva melihat tubuh Lyra yang tersentak kaget dan wajahnya berubah gugup. 'Apa dia tidak suka jika seseorang membahas tentang matanya?' tanya Minerva dalam hati, jika benar, Minerva merasa menyesal karena telah membuat Lyra tidak nyaman dengan pertanyaannya.  "Ah... sepertinya aku sudah membuat dirimu tidak nyaman, lupakan saja, aku hanya asal bicara."  Kepala Lyra tertunduk sesaat sebelum akhirnya kembali terangkat, wajah Lyra penuh dengan senyuman tapi Minerva bisa melihat jika ada kesedihan di balik senyumannya, itu membuat dirinya semakin merasa bersalah. "Tidak, kamu tidak membuatku tidak nyaman. Aku berterima kasih atas pujian mu."  "Ah.. aku lega kalau begitu." balas Minerva, sepertinya dia harus menahan rasa penasarannya akan mata emas Lyra. Tanpa sadar Minerva menghela napasnya.  Tak! Tak! Tak! Benjamin, Noah dan Emma datang dengan membawa piring makanan yang langsung mereka letakan di meja. "Terima kasih, Benjamin" "Ya, Terimakasih Emma," "Terimakasih Noah," "Bukan apa-apa." Balas Emma, sedangkan Noah dan Benjamin hanya tersenyum lalu mereka bertiga pun duduk bergabung kembali. Meja makan kami hanya memiliki 2 kursi panjang yang cukup untuk menampung 3 orang di setiap kursinya. Minerva duduk bersama Benjamin dan Emma sedangkan di kursi lain Lyra, Cassa dan Noah duduk bersama. Saat makan Minerva tidak bisa berhenti melirik kearah Cassa dan Noah, kedua orang itu terlihat sangat dekat, bahkan beberapa kali Noah menyuapi makanan kedalam mulut Cassa. "Wah... kalian sangat akrab, apa mungkin kalian berkencan?" Minerva bertanya dengan nada bercanda agar tidak menyinggung, dia tidak pernah bisa menahan dirinya yang selalu penasaran akan hal-hal yang menarik baginya. Seperti sudah menjadi kebiasaan, terkadang dia bahkan tidak bisa tidur jika rasa penasarannya belum terjawab. Cassa tersipu malu mendengar pertanyaan Minerva, dia bersembunyi di belakang Noah, Minerva terkekeh melihat kelakuan Cassa yang seperti anak kecil. "Cassa adalah pasangan hidup Noah, jadi tentu saja mereka sangat dekat." Emma menjawab pertanyaan Minerva karena Cassa terlihat terlalu malu untuk menjawabnya.  "Pasangan hidup?" Minerva mengulang ucapan Emma. 'pasangan hidup' terdengar sedikit aneh di telinga Minerva. 'Apa itu sebutan baru?' tanya Minerva dalam hati. "Apa itu artinya kalian berpacaran?"  "Yah, untuk saat ini bisa dibilang seperti itu,"  Minerva tidak mengerti maksud ucapan Emma tentang hubungan Cassa dan Noah, namun Minerva memutuskan untuk mengambil kesimpulan jika saat ini mereka memang berpacaran, dia tidak ingin memikirkan ucapan aneh Emma karena dia tidak ingin menjadi penasaran.  To Be Continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD