Udara yang berhembus kencang menggerakkan daun dan ranting pohon, membawa aroma wangi vanila ke seluruh indera milik Lucien. Aroma yang memabukkan yang belum pernah ia cium sebelumnya. Saat matanya menatap sosok gadis di hadapannya, dunia seakan berhenti berputar. Senyuman di bibir indah gadis itu membuat Lucien lupa caranya bernapas. Detak jantungnya berdetak dengan menggila. Saat gadis itu menoleh dan mata mereka bertemu, gadis itu menatapnya dengan matanya yang berwarna hazel yang sangat cantik, Lucien tenggelam dalam manik mata terindah yang pernah ia lihat. Gadis yang berada di depannya saat ini begitu sempurna, semua yang ada dalam diri gadis itu, sangat indah.
Rasanya penantian panjang yang Lucien tidak sia-sia, Lucien bahkan rela menunggunya seumur hidup. gadis yang ada di hadapannya adalah miliknya. Belahan jiwa yang di takdirkan untuknya. Betapa cantik gadisnya, Lucien merasa sangat bersyukur pada Moon goddess.
Namun saat ia melihat mata gadis itu menatapnya penuh ketakutan, Lucien tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya, dia merasa di tolak. Rasanya lebih menyakitkan daripada ditikam oleh 10 pedang sekaligus. Tubuh gadis itu terlihat gemetar dengan wajah yang pucat pasi.
Saat mata Lucien menangkap tanda jika tubuh belahan jiwanya yang oleng dan hendak jatuh, tubuh Lucien bergerak dengan cepat untuk menangkap tubuh gadis itu-belahan jiwanya-Lucien lupa jika dia masih berada di wujud serigalanya, Pantas saja gadis di depannya bergetar ketakutan. 'Lucien, apa mate takut padaku?' sementara menahan tubuh gadis itu dengan giginya, Aaron-serigalanya-bertanya padanya.
Dalam jarak yang begitu dekat, Lucien bisa mencium aroma vanila yang sangat kuat pada gadis di hadapannya, mata Lucien tidak lepas menatap wajah gadis di hadapannya dengan lekat, setiap perubahan wajah dan ekspresi gadis itu yang menujukkan tanda jika dia sedang ketakutan membuat hati Lucien maupun Aaron sangat sakit. Lucien tidak pernah sekalipun membayangkan jika belahan jiwanya akan takut padanya.
Lucien tidak bisa menjawab pertanyaan Aaron yang terdengar begitu lirih di kepalanya karena dia pun memiliki pertanyaan yang sama dengan Aaron. Saat mata itu terbuka dan sebulir air mata jatuh dari kelopak matanya yang indah, untuk beberapa saat jantung Lucien berhenti berdekat, dadanya sakit dan dia tidak sanggup untuk menatap mata itu. Lucien menarik tubuh belahan jiwanya dan terjatuh ke tanah. Ia tidak tahu jika belahan jiwanya lebih memilih untuk jatuh ke sungai yang air nya mengalir dengan deras daripada di tolong olehnya, rasanya sungguh menyesakkan.
Tidak lama setelah gadis itu terjatuh menyentuh tanah, dengan tubuh yang terlihat rapuh di mata Lucien, gadis itu berlari dengan cepat. Lucien tidak menoleh, dia tidak ingin melihat gadisnya berlari darinya, sekuat tenaga ia menahan dirinya yang ingin mengejar belahan jiwanya, gadis yang telah ia tunggu seumur hidupnya, selama 120 tahun.
Karena saat melihat kaki gadis-belahan jiwanya-itu berlari, rasanya Lucien ingin mematahkannya, Lucien ingin mengurung gadis itu agar gadis itu tidak pergi darinya. Namun disisi lain, Lucien tidak ingin melakukannya, dia tidak ingin memaksakan gadis itu untuk menerimanya. Lucien tidak ingin menyakitinya dan gadis itu juga terlihat masih sangat muda, bahkan belum menjadi wanita dewasa, dia masih anak-anak yang nakal dan suka bermain.
Jika Lucien memaksakan dirinya pada gadis itu, Lucien takut. Lucien sangat takut jika gadisnya membenci dirinya. Lucien akan menunggu, ya, dia akan menunggu. Mata Lucien yang sebelumnya membara seperti remaja yang di mabuk cinta berubah sangat sendu. Kepalanya menunduk dalam, satu hal yang belum pernah sekalipun selama hidupnya ia lakukan.
Saat kepalanya tertunduk, mata Lucien melihat sebuah benda pipih diatas tanah, Lucien tahu benda itu yang tidak lain adalah sebuah ponsel. Lucien merubah wujudnya kembali menjadi manusia, dengan tubuh bagian atas yang tidak mengenakan apapun, tubuh Lucien yang eksotis dan berotot dengan 8 Abs terlihat begitu jelas, tangannya yang kekar dengan urat-urat yang menonjol, Lucien mengambil ponsel itu, saat membuka layar ponselnya. Mata Lucien membesar dengan binar dan antusias. Matanya menatap lekat sebuah foto yang ditampilkan di layar ponsel itu, yang tidak lain adalah foto gadisnya sedang tersenyum begitu lebar dengan pemandangan air terjun di tempat saat ini berdiri. Lucien menyentuh wajah gadis itu di layar ponselnya, "Kamu sangat cantik, mate." gumam Lucien.
'Apa kamu ingin menyerah sekarang, Lucien bodoh?' Aaron memindliknya
Lucien menggeram, 'Aku tidak akan menyerah pada mate.'
'Lalu kenapa kamu tidak mengejarnya, bodoh!'
'Aku tidak ingin membuatnya semakin ketakutan, dia ketakutan saat melihat ku tadi.'
'Lalu kamu membiarkannya berada di hutan sendirian?! Apa kamu tidak bisa lebih bodoh dari ini?'
Lucien mendengus kesal, 'Bisakah kamu berhenti menyebut diriku 'bodoh' ? kau dan aku, kita berada di tubuh yang sama.' Lucien menyimpan ponsel belahan jiwanya di kantung celana miliknya.
'Tunggu apalagi Lucien?! kenapa kamu sangat lambat? Kita tidak bisa kehilangan jejak dan bersikap sembrono seperti ini, mate adalah manusia biasa, kita harus selalu waspada!' Aaron terus menggerutu. Namun semua ucapan Aaron benar.
Lucien menghela napasnya, 'Kamu benar, Aaron." dengan cepat tubuh Lucien berbalik, saat ia tidak melihat sosok gadis kecil itu di hadapannya, Lucien diliputi rasa takut dan khawatir. Lucien pun berlari menyusul gadis itu, kini tanpa merubah wujudnya ke wujud serigala karena ia tahu gadisnya akan kembali ketakutan saat melihatnya, meskipun merasa sedih, tapi Lucien tetap merasa senang karena telah dipertemukan dengan belahan jiwanya. Bagaimanapun gadis itu adalah pasangan takdirnya, satu-satunya wanita yang akan menghabiskan hidup bersama dengannya.
Hidung Lucien mengendus, terus mengendus mencari aroma yang pernah hingga di penciumannya, hanya beberapa saat dirinya kehilangan aroma itu, Lucien sudah sangat merindukan nya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Lucien untuk menemukan gadis itu, penciumannya yang tajam dan kecepatan yang tidak masuk akal meskipun dengan tubuh manusianya sekalipun.
Lucien berhenti berlari saat ia mendapati belahan jiwanya yang tengah berdiri di tengah hutan, Lucien hanya berada 10 kaki di belakang gadis itu, dia bisa mendengar dengan jelas suara hembusan gadis itu yang sedang terengah-engah. Lucien tersenyum masam, 'sepertinya dia berusaha sangat keras untuk lari dari ku.'
Tubuh Lucien tersentak saat melihat tubuh gadis itu kembali oleng, Lucien dengan cepat menangkap tubuh gadis itu ke dalam dekapan nya. Kali ini dia menggunakan kedua tangannya dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang dengan hati-hati. Lucien merasa jika dia terlalu erat memeluk tubuh yang saat ini berada di dekapan dirinya, tubuh ini akan remuk karena terlihat begitu rapuh.
Dengan matanya yang sendu menatap gadis di depannya, wajah gadis itu kini terlihat jauh lebih tenang dibanding saat pertama kali, Lucien senang karena belahan jiwanya tidak takut dengan bentuk manusianya, Lucien merasa jika dia masih memiliki kesempatan untuk mendapat cinta dari belahan jiwanya. Karena tidak seperti kaum Lycan yang akan langsung jatuh cinta dengan belahan jiwanya saat mereka bertemu, manusia tidak merasakan hal itu. dan saat ini hanya Lucien sendiri yang mencintai gadis dalam dekapan nya sampai mau gila rasanya, sedangkan gadis dalam dekapan nya, bahkan menganggap Lucien menakutkan. "Akhirnya aku menemukan mu, ratu ku. Belahan jiwa ku." bisik Lucien seraya membawa tubuh gadis itu lebih dalam ke dalam dekapan nya.
Lucien tertawa getir, "Setelah menunggu selama 120 tahun, sekarang aku masih harus menahan diriku agar tidak membawamu bersama ku. Karena aku tidak ingin melukai mu, jadi aku akan melakukannya dengan perlahan sampai kamu jatuh cinta padaku, mate."
***
Enggh...
Minerva mengerang, perlahan ia membuka matanya. Rasanya tubuhnya sangat lemas dan haus. Minerva bangun perlahan langsung mengedarkan pandangannya. Minerva masih tidak mengenali tempatnya saat ini berada. Minerva menunduk, melihat sebuah kain lembut dan tebal menyelimuti dirinya yang tertidur diatas lantai kayu.
Minerva mengalihkan pandangannya keluar jendela dimana matahari sudah naik dan bersinar terang sampai cahayanya masuk kedalam ruangan, begitu menyilaukan. Udara sudah tidak sedingin dibanding terakhir kali...
Terakhir kali?
Minerva terperanjat, dia sangat ingat dimana ia terakhir kali berada yaitu di hutan. Dengan gerakan cepat Minerva berdiri dan membuka pintu. Matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya. "Kenapa... kenapa aku bisa diatas sini?" gumam Minerva heran. Keningnya berkerut dalam.
Lalu ingatan sebelum ia jatuh pingsan terlintas di kepalanya, dia ingat ada sepasang tangan yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Jika orang itu benar menolongnya, bagaimana cara orang itu menaruh dirinya diatas rumah pohon?
Ah.. benar rumah pohon, Minerva menoleh kebelakang, ini rumah pohonnya dan teman-temannya, tapi sejak kapan rumah pohon mereka memiliki pintu dan jendela? rumah pohon ini hanya memiliki 2 lubang, untuk masuk dan jendela namun tidak memiliki kaca. Lalu tatapan Minerva beralih ke selimut tebal yang baru ia sadari, selimut itu terlihat begitu mahal.
To Be Continue