#1 Drama Seragam Sekolah

2124 Words
“aaahh… ayahhhh ini- apa-apaan sih?” Ayahku membuka paksa seragam pemberian Reyno itu, sampai kancing-kancingnya kemejanya terlepas. Rok ku di turunkanya, dan kini aku hanya diam sedikit ketakutan dengan hanya memakai pakaian dalamku saja. ayahku kemudian membuka lemariku, mengeluarkan hoodie putihku dan cepat ia langsung memakaikan itu padaku. “Luna…” Panggil ayahku, begitu kepalaku sudah masuk kedalam lubang hoodie kebesaran itu. ku masukan keduan tanganku pada bagian lengan hoodieku itu. “ehmmm…” jawbaku begitu, ku naikan penutup kepala hoodie yang ku pakai untuk menyembunyikan wajahku. aku tahu aku akan segera di omeli Mr. Bryan ini. “dari mana kamu dapet baju kurang bahan kaya gitu?” Tanya ayahku kini menatapku tajam. “itu… itu di kasih temen ayah… seragam aku kegedean… makanya…itu-…hhhh…” Tak bisa aku melanjutkannya aku terlalu takut padanya yang sedang marah kini. “Luna… tapi yang itu kependekan dan gak layak pakai sayang” Ayahku menarik kursi dan membuatku duduk di atasnya. Sementara ia berlutut di hadapanku. “kamu tau, kalo kamu pake seragam kependekan itu bakal kaya gimana nantinya?” Aku menggelengkan kepalaku sambil terus menunduk. “kamu cuma bakal di godain laki-laki nakal sayang…. bahkan lebih jauh ayah takut kamu sampe di lecehk- hhhh…” Tak di teruskannya, ayahku kini malah memelukku. “ayah gak mau kamu kenapa kenapa… atau sampe di apa-apain sama orang di luar sana, itu aja…” Ucap ayahku. “maaf ayah… aku gak maksud buat gitu kok…” Kataku, rasa bersalah tiba-tiba memenuhi hatiku, aku tak tahu ayahku akan sampai jadi sangat khawatir seperti ini karena hal itu. “hhh… udah ayah bilang berkali-kali, kalo kamu ada masalah atau keluhan apapun, kamu bilang sama ayah sayang…” “iya ayah…” Pelukan ayahku jadi kian erat sekali saat ini padaku. padahal belum juga kupakai ke sekolah dan baru hanya ku coba tapi ayahku sudah beraksi sampai seperti ini. “ahhh… ayah mau ngomong apa sama ibu kamu kalo kamu sampe kenapa-kenapa nanti… ayah gak akan sanggup ketemu ibu kamu, kalo sampe ayah gagal jagain kamu sayang…” “ayaahh… maafin Luna…” Aku sudah menangis saja saat ini, ‘kenapa ayah harus bawa-bawa ibu segala sih…’ Gerutuku dalam hati. “maafin Luna ayah… Luna janji gak akan pake baju kaya gitu lagi…” “iya sayang…” Ayahku kemudian melepaskan pelukannya padaku. “jadi baju kamu itu kegedean?” “ehmm… di bagian pinggang sama di lengannya gede banget ayah…” “yaudah kita ke tempat jahit nanti buat benerin seragam kamu yaa…” …. Setelah drama seragam selesai akhirnya aku bisa memakai seragam yang pas di tubuhku, tak terlalu pendek dan tak kebesaran seperti sebelumnya. “pagi Lunaa…” Lagi-lagi Si Reyno sudah nangkring di mejaku. Dan karena aku datang pagi jadi hanya ada dirinya saat ini di kelas ini bersamaku. “loh… ku pikir seragam dari aku itu bakal-“ “seragam dari kamu ayah aku buang, ukurannya super kecil dan gak muat” Balasku padanya. “aah… tapi ini… seragam kamu yang sekrang jauh lebih bagus deh kayanya” Ak tersenyum dan berjalan saja melewatinya untuk duduk di kursiku. “Luna…” Panggilnya, karena ia duduk di atas mejaku, jadi aku harus mendongak untuk melihat wajahnya. “ehmm?” Ia menatapku dan aku jadi berpandangan lama dengannya. Tik Tak sadar tangannya sudah membuka satu kancing atas kemejaku. “ini… lebih bagus kalo di buka kaya gini aja…” Ucapnya padaku dan di alihkannya pandangannya itu turun ke dadaku. Entah apa yang salah denganku aku hanya diam saja membiarkannya begitu. “hhhh…” Kurasakan deru napasnya di wajah sampai leherku. Refleks ku jauhkan tubuhku darinya, langsung mundur bersandar ke sandaran kursi di belakangku. “kulit kamu gimana bisa seputih s**u gitu?” Tanyanya padaku tiba-tiba. “ehmm?? Maksudnya?” “sabun apa yang kamu pake? Wanginya ehmm… harum” Ucapnya, membuatku tersenyum mendengarnya. Ia kemudian mendekat padaku dan duduk di sampingku. Rey tiba-tiba mengendusi tubuhku, dan kini ia sedang menghirup aroma kulit leherku. “aahh geli…” Kataku sambil ku jauhkan wajahnya dariku. “diem… aku harus cium ini, biar aku tau kamu ini pake sabun apa? hhhh…” Ia masih terus saja menyesap kulit leherku dengan hidungnya. ku rasakan geli yang luar biasa saat benda kenyal yang ternyata itu adalah bibirnya ikut menyentuh kulitku. “aaahhh… udah Sanaa, pagi ini aku cuma pake sabun anti bacteri kok” Ku jauhkan dirinya dariku. “jawab aku, kamu pake body care apa?” Ia menatapku dengan sangat penasaran kini. “aku gak tauu… ayah aku yang suka beliin itu” “ooh… tapi kan seengganya kamu sendiri yang pake, jadi kamu pasti tau apa mereknya” Ucapnya, aku terdiam. Sebenarnya ayahku yang selalu menuangkan itu di bathtube dan membantuku membersihkan diriku. Selain hanya mandi pagi yang memang aku selalu asal dan cepat saja karena takut kesiangan. tapi hampir setiap malam ayahku selalu menghabiskan waktu denganku untuk menikmati bath time bersamaku. “gak inget” Jawabku begitu. Rey tampak masih pensaran, sampai ia medekat dan lebih dekat lagi padaku, lalu tangannya di lingkarkannya pada pinggangku. Dan kini wajahnya sudah di tenggelamkannya di leherku. “aahh… Sanaa!” Kataku berusaha mejauhkan Reyno dari tubuhku. Tapi ia terlalu kuat dan tangannya malah semakin erat mencengkram pinggangku. “ehem” Seorang perempuan berdiri dan berdeham mengintrupsi di ambang pintu kelasku, hingga Reyno harus menghentikan aktifitasnya padaku. “Luna… Pak Bowo nyari kamu” Ucapnya, “ohh… iya, aku ke sana sekarang” Aku langsung berdiri dan berjalan pergi buru-buru meninggalkan kelas, selagi ada kesempatan untuk melarikan diri dari Reyno. Setelah cukup jauh aku berjalan, akhirnya aku berhenti sebentar untuk beristirahat di kursi taman sekolah sekarang ini. “hhhh… hhhh…” sampai terengah-enggah aku jadinya setelah baru saja berhasil melarikan diri dari si Reyno itu. “Luna…” Panggil perempuan yang tadi telah membuatku lolos dari Reyno. Dengan langkah yang cepat ia menghampiriku, “ehmmm soal Pak Bowo, sebenernya dia gak manggil kamu… aku tadi-“ “makasih banyak… ahh… akhirnya aku bisa jauh-jauh dari dia” Kataku padanya. “Fey…” Ucapnya sambil menjulurkan tangannya padaku. “Luna…” Aku balas menjabat tangannya. “leher kamu jadi ada bercak merahnya…” “oh? Kok bisa?” Aku langsung meraba-raba leherku yang katanya jadi ada bercak merahnya itu. “kayanya sih ulah si Rey tadi…” Balasnya. Tapi seingatku dia tak menggingitku, tadi ia hanya menghisapku sedikit saja dengan bibirnya itu, itupun rasanya tak seperti di gigit nyamuk bahkan rasanya cukup lembut. tapi kenapa bisa jadi merah yaa? Heranku. “Rey itu bisa di bilang pergaulannya bebas banget Luna… aku harap kamu bisa lebih hati-hati sama dia, aku cuma takut dia sampe sakitin kamu…” “ehmm… Willy juga udah ingetin aku soal itu, tapi sejauh ini dia kayanya Cuma mau deketin aku. dan aku pikir kayanya dia gak akan sakitin aku deh… kemarin aja dia cukup perhatian sama aku, sampe pernah dia kasih bunga banyak banget… mungkin emang sifatnya aja yang agak agresif” Jawabku, masih mencoba berpikir postif soal dirinya “ehmm tapi-“ “Fey… ayo!” Panggil seorang siswa padanya, sepertinya ia sudah punya urusan lain saat ini. “yaahhh… aku harus pergi sekarang. Nanti kalo aku udah selesai dispensasi dan bisa balik masuk kelas, kita ngobrol banyak yaa…” “ehmm” Aku tersenyum setuju padanya. “bye Luna…” Ia kemudian pergi meninggalkanku. Dan tak lama kemudian kulihat Willy baru saja memasuki area sekolah dan akan berjalan ke kelas. “Willy…” Sapaku sambil berlari kearahnya. “hay… pagi Luna…” Ia balas menyapaku “Willy, apa di kelas kita ada yang nama Fey? Kalo iya… aku kok jarang liat dia di kelas ya?” Tanyaku padanya soal Fey yang baru saja berkenalan denganku itu. “ahh… Si Fey mah anak sibuk, jadi dia itu anak taekwondo yang udah go internasional dan sekarang ini dia lagi sibuk-sibuknya buat persiapin kejuaran, apaaa gitu namanya lupa, jadi jarang ada di kelas deh…” Jelasnya. Aku hanya ber-oh saja sambil mengangguk. “tapi kenapa dia tau aku ya?” Heranku, “itu karena waktu kamu pertama kali masuk, kebetulan aja dia lagi ada di kelas. Gak ngeh ya?” “iya hehe” Setelah obrolan pagi yang singkat dengan ketua kelasku itu, aku masuk dan mengikuti kelas yang berlangsung sampai sore hari. ….. Aku sudah berada di rumah, hari juga sudah mulai gelap. “sayang… mandi?” “let’s goo…” Aku selalu sangat antusias saat akan mandi bersama ayahku. Itu adalah kebiasaan yang masih berlangsung walau aku sudah sebesar ini. ayahku berusaha melakukan tugas seorang ibu yang tak pernah ku dapatkan selama hidupku. Ayahku masih selalu merawat diriku, dari mulai memberikan perawatan dari ujung rambut sampai ujung kakiku. “kalo gitu ayah siapin airnya sebentar” Ayahku pergi menuju kamar mandi. Selama ini ayahku yang selalu menyiapkan semuanya dan aku juga tak pernah mau tahu apa apa saja yang di tuangkannya ke dalam air tempatku berendam itu. namun yang aku tahu, aku selalu bisa merasa nyaman di sana. Aku kemudian mengambil sebotol wine dan mulai membuka tutupnya. Pulp Aku tersenyum puas. entah kenapa aku suka sekali dengan suara tutup wine yang baru saja ku buka itu. dan wanginya sudah pasti ayahku akan suka. Aku mulai berjalan menuju kamar mandi, dan begitu aku masuk, lilin aroma terapi sudah menyala dengan cantic menghiasi kamar mandi ayahku kini. Cozy sekali kulihat. “ayah… ini” Kataku sambil memberikan segelas wine untuknya. “thank you sayang…” Ayahku langsung mencoba minuman merah pekat itu dengan meneguknya kini. “ehmm manis…” Ucapnya sambil tersenyum padaku, “sini, biar ayah lepas baju kamu…” Aku mendekat dan ayahku langsung melepaskan pakaianku, menyisakan pakaian dalamku saja. Aku kemudian masuk ke dalam bathtube dengan air yang sudah di siapkannya itu. “ahhh… enaknya…” Ototku melemas dan jadi sangt rilex begitu ku rendamkan tubuhku ini. “ayah sini masuk…” Kataku, lalu ayahku mulai membuka pakaiannya sampai hanya memakai celana dalamnya saja dan masuk ke dalam air bersamaku. Kusandarkan kepalaku di dadanya, rasanya tepat di sini dan sekarang ini adalah tempat teraman juga ternyaman bagiku. Aku mendongak untuk melihat wajah tampan ayahku, yang kini sedang menegak wine yang tadi ku bawakan untuknya. tanganku jahil menyentuh adam’s applenya yang bergerak naik turun selagi menelan wine itu. “hhh… Luna…” Ayahku hanya tersenyum saja padaku, setelah baru saja ku jahili dengan tanganku, lalu ia meraih tanganku itu dan menciuminya. “dulu tangan ini kecil banget, sekarang udah tumbuh sebesar ini sayang…” Ucap ayahku, tak sampai di situ matanya juga tangannya menelusuri tubuhku, dari pundak sampai keperut dan pahaku. “udah enam belas tahun lewat sayang… kamu udah gede sekarang, padahal rasanya masih kemarin ayah mandiin kamu, gantiin popok kamu, gendongin kamu…” “ehmmm makasih banyak ayah… ayah udah besarin Luna selama ini…” Kataku tulus dari dalam hatiku. Ku cium pipi dan bibir ayahku. Senyum mengembang di bibir wajah tampannya. Lalu ku majukan wajahku dan tenggalamkan pada lehernya. Menghirup aroma tubuhnya, sedikit penasaran dengan bau ayahku yang selama ini menggunkan body care yang sama denganku. “aahh… Luna…” Ayahku menjauhkan wajahku dari lehernya. “ayah… ini body care dari brand apa?” Tanyaku, yang sebenarnya itu adalah pertanyaan yang tadi di ajukan Reyno padaku. “ini… moringa bath bomb terus ayah tuangin The Body Shop white musk hose of Holland bath foam, kenapa?” Aku mengangguk-anggukan kepalaku sambil mengingat itu, siapa tahu si Reyno bertanya soal itu lagi padaku. “tadi ada yang tanya Luna, kenapa Luna wangi banget terus kulit Luna bisa seputih s**u katanya…” Jawabku, tanpa memberitahu siapa orang itu. “aahhh gitu… kalo kulit kamu yang putih ini yaa… mungkin gen ibu kamu sayang, dia juga putih dan jenis kulitnya sama banget sama kamu…” “ayah… bahkan bisa cium wanginya dari tubuh kamu sayang…” Ayahku kemudian mengangkat tubuhku, membuatku duduk dalam pangkuannya dan berhadapan dengannya. lalu hidung dan bibirnya menyesap kulitku mulai dari leher hingga turun ke area dadaku. Tengah mencari aroma ibuku yang sangat di rindukannya itu, yang mungkin ada dan bisa di temukannya pada diriku ini. Aku pasrah saja dengan perlakuannya dan membiarkannya menyentuhku seperti itu. …..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD