Pagi ini keluarga Wiryawan sedang berkumpul untuk sarapan bersama, Calista begitu bahagia melihat ketiga anaknya yang saat ini sudah tumbuh begitu sehat, terlebih lagi Kenzie yang begitu menyayangi adik-adiknya walaupun dia memiliki sifat yang cuek dan dingin, tetapi itu tidak berlaku untuk kembarannya Khanza.
“Bagaimana dengan sekolah baru kalian?” Tanya Calista kepada kedua anak kembarnya itu.
“Sekolahnya keren, Mom. Tapi, Mommy tahu enggak siswa di sekolah itu mengira kalau aku dan kak Kenzie itu pacaran,” Khanza bercerita dengan begitu bersemangat.
“Kok bisa?” Calista merasa penasaran, bagaimana bisa kedua anak kembarnya itu bisa dianggap sebagai sepasang kekasih.
“Bisalah, Mom. Abis di sekolah tuh, kak Kenzie selalu jalan bareng aku, malah parahnya kita gandengan tangan sampai para betina di sekolahan itu selalu menatap iri sama kita berdua, ha ha ha,” tawa Khanza terdengar di ruang makan mewah itu.
“Astaga, cucu-cucu opa sangat menggemaskan.” David merasa sangat beruntung karena diusianya yang sudah tua ini masih dapat menyaksikan tumbuh kembang cucu-cucunya.
“Kevin yang menggemaskan opa bukan kak Khanza ataupun kak Kenzie, soalnya di sini Kevin yang masih kecil,” protes putra ketiga dari Eiden dan Calista itu.
Mendengar ocehan Kevin semua yang ada di ruang makan itu langsung tertawa.
Kevin memang memiliki sifat yang berlawanan dengan Kenzie, Kevin seorang anak yang ceria dan suka bergaul, dia juga mempunyai tingkat kepedean yang tinggi walaupun usianya masih kanak-kanak. Namun, untuk masalah kepintaran ketiga anak Eiden dan Calista adalah anak-anak yang pintar dan cerdas, tetapi kecerdasan yang dimiliki Kenzie memang di atas rata-rata.
Setelah selesai sarapan Kenzie dan Khanza pun berangkat ke sekolah bersama menggunakan mobil sport milik Kenzie. Kedatangan si kembar itu menarik perhatian para penghuni SMA Garuda itu.
Seperti biasanya, setelah turun dari mobil Khanza langsung menggandeng tangan Kenzie dan hal itu langsung membuat heboh seluruh kaum hawa SMA Garuda.
“Aduh, aku iri banget sama mereka berdua, mereka itu pasangan yang super perfect, yang satu cantik dan yang satunya tampan,” ucap salah satu siswi yang sedang berdiri di koridor sekolah.
Namun, Khanza dan Kenzie tidak menghiraukan omongan para siswa dan siswi itu, keduanya berjalan dengan santainya tanpa merasa terganggu. Dari kejauhan ada dua pasang mata yang saat ini sedang memperhatikan Kenzie dan Khanza.
“Kayaknya aku harus kasih pelajaran sama cewek genit itu, berani-beraninya di sekolah bermesraan kayak gitu,” ucap Delia yang terlihat begitu kesal.
“Astaga, Del, dari kemarin kamu tuh emosi terus sama pasangan itu, biarkanlah mereka kamu lebih baik fokus aja pada MOS kita,” protes Adel kepada Delia.
“Kamu lihat aja nanti, cowok itu pasti akan tunduk di hadapan Delia gadis idaman semua pria di SMA Garuda,” ucap Delia penuh percaya diri.
Adel hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apa yang sahabatnya itu katakan, Delia adalah seorang gadis yang keras kepala, jadi, percuma saja Adel menasihati dirinya.
Dalam pembagian kelas untuk MOS, Delia sengaja memisahkan Kenzie dan Khanza, sementara itu Delia menjadi kakak pembimbing dalam ruangan Khanza dan Delia melakukan itu dengan sengaja. Delia selalu mempersulit Khanza dan meminta dia melakukan hal-hal yang berlebihan.
Seperti saat ini dia meminta Khanza untuk membelikan minuman bersoda dan memintanya untuk mengantarkan minuman itu kepada ketua tim basket yaitu Daren. Delia sengaja melakukan hal itu agar terlihat oleh Kenzie yang nantinya terlihat seperti Khanza yang sedang mendekati Daren.
Khanza yang baru saja selesai membeli minuman di kantin pergi mencari Daren di lapangan basket dan beruntungnya Daren dan kawan-kawannya sedang berada di sana. Khanza pun dengan malu-malu mendekati para pemain basket yang sedang duduk di tepi lapangan.
“Permisi, Kak. Maaf aku mau tanya, yang namanya kak Daren mana ya?” tanya Khanza dengan sopan kepada para pria yang saat ini sedang melongo melihat kedatangan Khanza.
“Mau apa lu nyariin gue?” tanya Daren kepada Khanza.
Pertanyaan Daren itu juga menyadarkan teman-temannya yang saat ini sedang terkagum-kagum dengan Khanza.
“Maaf, Kak, aku kesini disuruh sama kak Delia buat mengantarkan minuman ini buat Kakak,” jawab Khanza masih dengan suara yang sopan.
Daren pun segera mengambil minuman itu dan menyuruh Khanza untuk segera pergi.
“Gila lu Ren, sama cewek secantik itu kok jutek amat sih,” protes Eko sahabat Daren.
Daren tak menanggapi ucapan Eko dan hanya berjalan pergi meninggalkan teman-temannya itu.
“Elah si Daren jadi orang kok malah kembar sama kulkas dua pintu,” ejek Eko sedikit berteriak agar didengar oleh Daren.
“Tapi, kulkas itu akan mencair di hadapan Delia seorang, Bro,” sanggah Doni salah satu tim basket juga.
“Sayangnya Delia bukan wanita yang baik untuk sahabat kita itu,” ucap Eko lagi.
“Iya juga sih, kasihan Daren yang terlalu bucin sama wanita seperti Delia yang nyatanya begitu b***t di belakang,” kesal Doni.
Teman-teman Daren memang sudah sering kali mengingatkan pria itu soal Delia, tetapi Daren tidak mau mendengarkan teman-temannya.
Pada jam istirahat Khanza pergi ke kantin bersama Meta dan Vera, ketiga sahabat itu duduk di meja yang berada disudut sambil bersenda gurau.
“Jadi, tadi lu disuruh buat anterin minum ke kak Daren cowok cakep nomor dua dari Kenzie itu?” ucap Meta yang terkejut mendengar cerita Khanza.
“Apaan sih Meta cowok cakep nomor dua dari Kenzie, ada-ada aja,” protes Vera.
“Iyalah nomor dua, soalnya kegantengan Kenzie itu enggak ada lawannya di sekolahan ini,” tambah Meta lagi.
“Astaga, kok kalian jadi pada bandingin Kenzie sama kak Daren?” Khanza merasa lucu dengan kedua sahabatnya itu.
“Lo tahu enggak Za, Lo sama Kenzie itu sekarang jadi pusat perhatian seluruh sekolah, kayaknya kalian berdua itu bakal jadi Most Wanted sekolah deh, apalagi para betina pada iri sama lu karena mereka pikir Lo dan Kenzie itu pacaran,” ucap Vera begitu antusias.
“Kenzie maunya gitu, katanya biar gak ada cewek yang deketin dia, kadang gue suka bingung sama si Kenzie, dan karena hal itu juga para cowok-cowok pada enggak berani deketin gue,” keluh Khanza dengan kelakuan saudara kembarnya itu.
Saat ketiganya sedang asyik bercerita sambil menunggu pesanan datang, tiba-tiba ada yang datang dan meminta agar ketiga gadis itu pindah karena tempat itu adalah miliknya.
“Sebaiknya kalian cari tempat lain deh karena tempat yang kalian tempati sekarang itu tempat kami,” ucap Delia dengan begitu arogannya.
Khanza dan kedua sahabatnya itu menoleh dan terpaksa pindah tempat karena mereka malas mencari ribut diawal masuk sekolah, bukan berarti mereka takut kepada orang-orang itu, tetapi mereka tidak ingin ada keributan saja.
Tak lama kemudian para gadis-gadis di kantin menjadi heboh dan ternyata itu disebabkan karena saat ini dua orang pria yang disebut sebagai Most Wanted sekolah baru saja memasuki kantin.
Delia yang melihat Kenzie memasuki kantin segera memperbaiki dandanannya dan berharap Kenzie memperhatikan dirinya. Kenzie dan Vero mendekati meja yang ditempati oleh Khanza dan kedua sahabatnya itu dan ternyata di meja itu hanya terdapat empat kursi saja. Vero pun telah duduk di samping Meta sementara itu Kenzie tidak mendapatkan tempat.
“Vero asal nyosor aja, abangku mau duduk di mana dong?” Khanza memarahi Vero karena saat ini Kenzie tidak ada tempatnya.
Kenzie melihat ke arah Delia dan temannya di sana masih tersisa dua kursi kosong, Kenzie pun berjalan ke arah meja Delia dan Hal itu membuat Delia kegirangan bukan main.