Garka berjalan ke kelas nya dengan wajah datar. Kedua tangan nya dimasukkan kedalam saku celana, seperti biasa, penampilan nya jauh dari kata patuh aturan. Baju seragam nya di keluarkan, tidak memakai dasi, rambut berjambul dan tak lupa bandana khas melingkar di lengan kirinya. Sepanjang perjalanan, Garka tak hentinya berdecak dan mendengus. Ia tak suka pandangan para perempuan terhadap nya, sungguh menggelikan. Hanya Keyra yang selalu membuat Garka nyaman saat di pandang. "Lo apaan, sih?! Terima aja kali! Bacot banget!" "Lo yang bacot! Atas dasar apa lo nyabut kerjasama gue, hah?!" Saat sampai di kelas nya, Garka menghela nafas malas. Keadaan disana penuh dan sesak apalagi beberapa kata makian dan u*****n kasar dua orang yang beradu cekcok semakin memperkeruh suasana. Ia berjalan mene

