Gilang terduduk di kursi dengan wajah babak belur, darah merembes melalui sapu tangan yang ia tekan di bibirnya. Sebelah tangannya memegang sebungkus plastik yang berisi es batu, untuk sesekali mengompres memar di matanya. Jika tidak ada polisi yang memisahkan, ia yakin dirinya sudah mati di tangan sepupunya, Regan. Beruntung saat Regan sedang memukulinya, ada dua orang polisi yang mendatangi apartemennya. Tadinya ia kira dirinya beruntung, namun ternyata itu justru kesialan yang berlanjut karena kedua poloisi itu datang untuk menjemputnya. Mereka membawa surat penangkapan terlibat kasus penculikan. Sialan, mengapa ia tidak bisa hidup dengan tenang belakangan ini. Ia melirik pria yang berdiri jauh di samping kanannya. Memperhatikan dirinya dengan tatapan tajam dan ingin membunuh. Gilang

