Sejak pagi pria itu sudah marah – marah, membuat kepala Tif pusing karena mendengar ocehannya. Tif mengikat rambutnya menjadi satu dan mencepol asal-asalan sebelum ia menyimpan laptopnya ke atas meja. “Cuma sampai jam 5, dan kantornya deket banget dari rumah kita. Sekitar 10 menitan aja dari sini, hon.” Pria itu duduk di sofa sambil kerutan di dahinya tercetak jelas, tanda dirinya tidak menyetujui gagasan yang Tif keluarkan. “Rush hour, jarak 10 menit akan berubah menjadi setengah jam, bahkan bukan tindak mungkin akan lebih dari itu.” Tif yang tadinya duduk di samping pria itu, mengubah posisi duduknya hingga berhadapan dengannya. “Tapi ini pilihan terbaik yang bisa aku dapatkan, dari semua tawaran yang aku punya.” “Kamu bisa untuk tidak memilih salah satu dari itu semua. Aku sanggup u

