tujuh hari berlalu.
sudah lebih tujuh hari semenjak papa Hardian meninggal dunia,acara tahlilan pun berhenti di sana.bertepatan dengan janji Azalia yang akan memberikan jawaban pada Dylan.
rumah sakit.
[halo ada apa?]
[nyonya Azalia ini saya pegawai rumah sakit]
[ah iya ada apa?apa adik saya baik-baik saja suster?]
[iya,kami sekarang hanya ingin menanyai biaya dari pengobatan saudari ani.terus biaya pengobatan untuk operasi almarhum tuan Hernadi.]
[saya akan kesana hari ini.]
Tut.
hufhh, semoga saja uang di tabungan cukup.
Azalia memandang miris ke arah yang tabungan yang sebenarnya sudah lumayan berkurang untuk biaya mengadakan tahlilan.mulai dari membeli air mineral, gorengan dan berbagai kue kue,di tambah lagi dia yang harus membawakan besek berisi makanan.semua itu tanpa sadar benar-benar menguras tabungan nya.
hufhhh, bismillahirrahmanirrahim.
Azalia melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit tempat Aina di rawat.dia juga harus membayar untuk biaya papa Hernadi dulu.
“selamat pagi mba,saya wali dari aina Asyifa."sapa Azalia begitu sampai di meja administrasi.
“ah iya,tadi saya yang menelfon anda."
“dimana mba struk nya?."
“sebentar."
Azalia berdiri dan menunggu dengan tenang.tidak ada simpanan lagi kecuali uang yang sekarang,di tambah dia masih harus membayar biaya perpisahan karena sebentar lagi dia akan perpisahan,semua nya benar-benar harus serba sendiri.
“ini mba semua pengobatan Aina dan juga almarhum pak Hernadi sudah di total, jumlah nya tiga puluh enam juta rupiah,bisa di bayar kes atau via transfer."
“apa? sebanyak ini?."gumam Azalia kaget.
“memang sebanyak itu mba,apalagi saat di bawa kemari pak Hernadi dan Aina dalam keadaan kritis.mereka harus di operasi,jadi memang seperti itu total nya."
“apa ini akan terus bertambah nanti?.”
“iya,kalau memang Aina masih ingin di rawat di sini nanti.”
astagfirullahal'adzim.uang ku....
“mba apa ini gak bisa di diskon?."
bagian administrasi langsung terkekeh sangat pelan.
“itu sudah kebijakan rumah sakit mba,kalau memang belum ada uang nya silahkan di bayar setengah.”
hufhh...
“baik mba saya bayar dua puluh juta dulu ya?."tanya Azalia.
“boleh mba, silahkan melakukan pembayaran.”
Azalia mengangguk.dia membuka m-banking, mentransfer dua puluh juta untuk pembayaran.
“kalau sampai beberapa hari ke depan belum bisa di lunasi.kami harus mencopot semua peralatan yang ada di tubuh saudari aina.”
“mba gimana ini?.kalau semua peralatan di tubuh Adek saya di copot gimana nasib nya?.”
“sisa nya biar saya yang bayar!."
Azalia langsung menoleh,mata gadis cantik berperawakan mungil itu langsung bertatapan dengan manik tajam milik Dylan.
masyaallah tampan...
Azalia terpesona dengan ketampanan Dylan di balut pakaian non formal.sebuah kaos berwarna abu-abu,celana panjang berwarna hitam.dada bidang milik Dylan terpampang di balik kaos,membuat siapa saja tidak dapat mengalihkan pandangannya.
“ah iya."
“sisa nya berapa?.”
“mba Azalia sudah membayar sebesar dua puluh juta rupiah,sisa nya sebesar enam belas juta rupiah.”jelas resepsionis lagi.
“baik,sisa nya saya yang akan bayar."jawab Dylan mantap.
“tuan tidak perlu, saya akan berusaha untuk mencari sisa nya.”tolak Azalia pelan.
“apa kau mau adik mu mati?.”sinis Dylan.
“bukan begitu.”
Ting.
“saya sudah membayar nya,ini kartu nama saya.kalau ingin minta tagihan perawatan atas nama Aina silahkan hubungi saya.”
Dylan merogoh celana nya,mengambil dompet lalu menarik kartu nama nya.dylan Einstein Wang,CEO dari perusahaan EW.tentu saja para suster langsung berteriak tertahan begitu membaca keterangan di sana.
“tuan...”gumam Azalia bingung.
“ikut saya!.”
Azalia mengekori langkah kaki Dylan sampai tiba di depan parkiran rumah sakit.sebuah mobil Limousine putih terparkir di sana,ada juga sekertaris Chen yang ikut membungkuk kan tubuh nya dengan sangat pelan pada Dylan dan juga Azalia.
“tuan...”
“apa?.”
“saya tidak mau berhutang Budi pada anda.”jelas Azalia lagi.
Dylan terkekeh sangat pelan, menyandarkan tubuh tegap nya di mobil.kedua tangan Dylan bersidekap,tatapan mata nya teralihkan pada gadis mungil bernama lengkap Zarina mubasira Alishba Azalia.gadis yang akan di jadikan nya sebagai target untuk melahirkan anak nya.
Dylan bukan orang yang gegabah.sebelum memilih Azalia,Dylan sudah lebih dahulu menyelediki layar belakang nya.supaya kelak benih nya tumbuh di rahim yang benar-benar sangat steril,belum terjamah benih mana pun.Karena Dylan percaya satu hal,anak yang baik lahir dari rahim yang baik pula.
“menikah dan lahir kan anak untuk saya, dengan begitu anda tidak akan berhutang budi lagi nona."jawab Dylan enteng.
“saya...”
“saya tidak sedang memberikan pilihan.jika anda tidak mau,kita bertemu di penjara.jika anda mau,rumah peninggalan ibu anda akan masih ada dan yang paling penting kehidupan anda dan adik anda yang sedang sakit itu terjamin bagaimana?."tawar Dylan lagi.
Azalia meremas kedua tangan nya secara bergantian,di usia yang masih sangat muda sudah jelas kalau menikah bukan bagian dari mimpi nya.tapi mau bagaimana lagi sekarang,tidak ada pilihan lain yang bisa dia ambil.selain menikah dengan Dylan.
“apa saya punya pilihan lain?."
“tidak."
“tapi apa yang terjadi kalau saya sudah melahirkan anak untuk anda?.”
“kita akan bercerai,dan kah bebas melanjutkan hidup mu.kau juga akan mendapatkan tunjangan sebesar lima juta sebulan setelah perceraian,jika belum bercerai maka kau menjadi tanggung jawab ku bagaimana?.”
“tapi izinkan saya bekerja.”
“untuk apa?anda akan menjadi istri saya.”
“saya belum bayar biaya untuk perpisahan sekolah jadi izinkan saya bekerja.”
“chen urus itu!."
“baik.”
sekertaris Chen mengangguk,berjalan pergi dari sana meninggalkan Dylan dan juga Azalia di parkiran.kedua orang itu saling berdiri dalam diam,hening dan sunyi tidak ada yang mau berbicara lagi.
“apa kita bisa bicara menggunakan bahasa non formal?."
“silahkan saya tidak pernah melarang kamu."jawab Dylan.
“kapan pernikahan akan di langsung kan?.”
“saya tidak yakin,tapi yang pasti kita akan bertunangan dalam waktu dekat."jawab Dylan serkas.
dalam waktu dekat?apa maksud nya?.
Azalia bertanya-tanya dalam hati.
“nanti malam.”
”apa?kenapa harus bantu malam?aku gak punya waktu buat siap siap,gimana soal baju terus make-up?.apa nggak bisa di undur gitu tuan sampai aku lulus?.”tanya Azalia.
kalau masalah baju,Azalia masih memiliki banyak pakaian bagus.makeup dia bisa minta tolong pada Dita,tapi yang membuat gadis itu tidak ingin terburu-buru adalah bagaimana tanggapan teman-teman sekolah nya nanti,saat mereka tahu dia menikah dengan pemilik yayasan.