Azalia di panggil untuk turun,semua orang langsung terpaku menatap ke arah Azalia yang tampak cantik dalam balutan kebaya berwarna biru Dongker.semua mata terpaku pada nya,tapi tidak dengan Dylan yang hanya memandang datar.
“nduk,kamu dengerin pakde ya?.”azalia mengangguk.
“beliau datang untuk melamar mu,jadi bagaimana?.”
“saya terima pakde.”
Semua orang langsung tersenyum sangat lebar,acara di lanjutkan dengan makanan-makanan sedangkan calon mempelai sekarang sibuk berfoto di spot foto.walaupun kaku kedua nya terlihat sangat serasi,mungkin karena sama-sama cantik dan juga tampan.
******
dua hari kemudian.
Hufhhh.... welcome back Azalia.
Azalia sekarang sudah sampai di sekolah.memakai seragam SMA seperti biasa,tidak ada yang berubah dari Azalia hanya saja sekarang jari manis nya tersemat sebuah cincin berlian.
“lia woy sini!.”dita memekik.
“hai semua!.”
“kamu baru dateng?kok lama banget si? anak-anak sudah pada sibuk tuh.”dita menunjuk ke arah anak-anak lain yang sedang sibuk menyiapkan dekorasi.
“siapa yang tahu kita akan berpisah.”gumam Azalia sangat lirih.
“kamu tenang saja,kita tetap sama-sama kok percaya sama aku.”
Azalia tersenyum tipis,ia langsung duduk di dekat teman-teman yang lain.besok adalah hari perpisahan mereka,tentu saja semua orang sudah sibuk melakukan segala sesuatu untuk persiapan.begitu pula Azalia, ia sibuk membantu teman-teman yang lain.
“kamu make-up dimana besok?.”tanya Dita.
“sendiri mungkin,atau mau ke salon sekalian?.”tanya Azalia antusias.
“kahiyang kan punya banyak makeup,pakai punya kakak kamu aja gimana?."tanya Dita antusias.
“tapi kan itu punya kak Kahiyang.”tolak Azalia.
Kahiyang, sekalipun kehadiran nya tidak ada.Azalia tetap takut pada kakak tiri nya itu,jangankan untuk meminjam alat make-up,bertegur sapa dengan Kahiyang saja Azalia tidak berani.
Kahiyang memang memiliki aura yang sangat menakutkan,wajah nya yang judes di tambah tatapan mata tajam membuat siapa saja akan mudah terintimidasi dengan kehadiran nya.sekalipun Azalia anak kandung, Kahiyang tetap lah yang paling utama.
“kak Kahiyang kan kakak kamu juga si Azalia.”
“tapi tetap saja kak Kahiyang kejam,kamu gak ngerasain sih gimana dita.”azalia menggerutu kesal.
“kak Kahiyang gak ada di rumah kan?jadi kamu bisa donk ngambil nya.”
Azalia tampak berfikir singkat sekarang,mama sedang tidak ada di rumah begitu pula dengan Kahiyang.jadi tidak ada alasan Azalia takut.
“oke,kamu nginep di rumah aku saja nanti malam.kita maling makeup kak Kahiyang sama-sama.”
ujar Azalia penuh semangat.
“lia!di ajakin sama gio tuh tanding basket!.”pekik ketua OSIS.
“aku gak mau ah,capek."tolak Azalia mentah-mentah.
“beb,ayok sini!tanding basket terakhir.”teraik gio dari lapangan.
“gak mau kamu aja.”tolak Azalia mentah-mentah.
“kenapa sih?.”karena heran,gio mendekat ke arah Azalia.
“aku bilang gak mau gio,capek.”tolak Azalia.
“kenapa sih?.”tanya gio.
“gio aku....”
“ikut!.”
Gio menarik paksa lengan Azalia untuk segera ikut dengan nya ke tengah lapangan.mau tidak mau Azalia ikut bermain walaupun ia lebih sering bengong dan diam.ada beban pikiran yang terasa,karena bagaimanapun dalam waktu dekat Azalia akan menikah dengan laki-laki yang jarak umur nya cukup jauh.
“lia awas!.”gio berteriak saat melihat sebuah bola basket hendak melesat ke arah Azalia.
Bugh.
Azalia yang sudah memejamkan mata bersiap untuk di lempar bola langsung terbuka,begitu merasakan sebuah tepisan mengenai bola yang mengarah pada nya.
Alhamdulillah.
Azalia berucap syukur, seorang pria berbadan tegap sudah menyelamatkan.tidak tahu itu siapa tapi entah kenapa punggung ini terasa tidak asing.
“lia,elu gak papa?sumpah gue gak sengaja tadi.”ujar teman Azalia.
“lain kali hati-hati donk Malik,liat sikon dulu.anak nya aja bengong gak konek, gimana sih?.”yang lain ikut menimpali.
“elu gak papa kan Lia?ada luka gak?.elu ngapain bengong?lagi gak enak badan apa gimana?.mau ke rumah sakit?gue anter sekarang."tawar gio yang langsung berlari memeluk tubuh Azalia.
“gio,apaan sih jangan begitu ah.malu."Azalia mendorong tubuh gio tidak suka.
“lain kali hati-hati nona.”
deg.
Jantung Azalia berdetak tidak karuan begitu melihat siapa yang sudah menolongnya.pantas saja sejak tadi para siswi berteriak histeris,ternyata yang menolong nya tidak lain dan tidak bukan adalah Dylan Einstein Wang,sang pemilik yayasan.ia sekarang berdiri tegap, mengenakan kemeja putih di tambah lagi tatapan mata tajam yang membuat Azalia membeku sekarang.
“tuan Dylan....”gumam Azalia sangat pelan.
“lakukan lagi nona Azalia!lukai diri anda lagi.”
“m-maaf.”gumam Azalia.
“ikut saya sekarang!.”