"Clara.. clara..."
Teriak mama Clara yang sedikit berlari kecil.
"Iya mom, ada apa?"
Clara berhenti berlari dan menoleh kearah mamanya sambil tersenyum.
"Kamu mau kemana?"
"Clara mau pergi ikut kak Demian mom, katanya dia mau pergi ngumpul sama teman temannya."
Clara menunjuk arah pintu yang terbuka, yang terlihat Demian yang bersiap siap di luar.
"Tapi sayang, kak Demian ada urusan privasi yang harus di selesaikan. Kamu disini saja nemenin mom."
Clara pun menghampiri mamanya sambil cemberut.
"Kenapa anak mom kok cemberut? Kan kak Andre sama kak Steven hari ini mau datang."
Wajah Clara pun berubah dan sambil tersenyum berseri seri.
"Benar ma?"
Terlihat anggukan dari mama Clara dan Clara melompat lompat dengan ceria.
"Ye.. kak Andre sama kak Ateven datang ye.."
Terdengar langkah kaki masuk keruang tamu tersebut, itu adalah Andre dan Steven yang membawa koper dan beberapa makanan manis.
"Hai Clara, nih kakak datang bawa mainan!"
Steven memberi mainan itu kepada Clara, Clara pun menoleh dan mengambilnya.
"Kakak? Thank's for this toy "
Peluk Clara kepada Steven dengan tersenyum.
"Kak andre? Lo gak kasih gue apa apa?"
"Hei you ! Udah pandai yah lo pake lo-gue. Gaul bro!"
Peluk Andre dan dibalas oleh Clara dengan senyuman.
"Kalian tadi udah ketemu sama Demian?"
"Udah mom, tadi di gerbang masuk."
Ucap Steven sambil tersenyum, dan memeluk mamanya.
Andre pun menghampiri dan mereka bertiga berpelukan. #####
Langkah kaki Clara yang terdengar cepat di ruang tamu dan dia sendirian disana sambil menangis.
"Clara kamu kenapa? "
Tanya Steven sambil memeluk Clara.
"Kamu kenapa?"
"Mom and dad will go!"
"Kemana? Kamu tau dari mana?"
Tanya kak Steven sambil mengelus rambutnya.
"Mom and dad said"
Ucap Clara yang berusaha menahan tangisnya yang ingin tumpah lagi, umur clara yang menginjak 10 tahun.
"Keep calm my babe."
"Yeah!!"
Kring... kring..
Bunyi alarm terdengar nyaring, dan gue terpaksa bangun dan melamun sebentar. Selalu mimpi itu. Gue gak pernah bosan sama tuh mimpi, karna mimpi itu kejadian yang udah gue alami. Mom and dad pindah pas umur gue 10 tahun dan akhirnya gue tinggal sama kak Demian, kak Steven dan kak Andre udah tinggal di indonesia semenjak kak Steven lulus dari SD dan kak Andre ikut soalnya kak Andre sama kak Ateven emang udah dekat. Malah cerpenan deh.
Gue bangun dan menuju ke ke kamar mandi buat mandi. Abis mandi ku tolong ibu.... eh malah nyanyi. Abis mandi gue kemas kemas buat ke sekolah dan eithh kemana kak Steven sama kak Andre ya(?).
"Kak where are you?" Panggil gue sambil duduk di kursi yang ada diruang makan dan gue melihat selembar kertas yang ada dibawah piring.
Dear clara
Gue sama kak Steven pergi ke singapura untuk menyelesaikan suatu urusan dan kami meninggalkan bodyguard buat lo dan jangan bersikap bodoh saat kami di singapura, gue sengaja gak bangunin lo tadi aja kak steven nyuruh dan gue gak mau. Jaga diri lo baik baik kita di singapura cuma 1minggu. Clara lo dalam perlindungan, jauhi Arnol.
Andre yang tampan.
Ke singapura(?) Pasti urusan mafia lagi. Gue dirumah sendirian (?). Ada pembantu kok. Yaelah dah males sarapan gue langsung ke sekolah dan udah ada orang didepan pintu dan pakai pakaian kayak pakaian sekolahan gue. Siapa dia (?).
"Lo siapa? Dan ada urusan apa kesini?"
"Saya Marlin van lexam bodyguard kamu yang disuruh andre dan kak steven buat jaga kamu, panggil saja saya Van."
Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Oke !! Ayo kita sekolah!"
Gue ajak dia sambil meraih tangannya dan melepasnya. Kami berdua berjalan memasuki sekolah dan banyak siswa siswi menatap kami berdua. Gue gak perduli, anggap aja gebetan baru kan tampan. Hehe •••••
"Dia anak baru ya Cla? Gue liatin dari tadi nempel mulu sama lo?"
Gue cuma tersenyum kecut, dia itu cuma bodyguard gue iihh..
"Dia sepupu gue Din, elo suka?"
"SEPUPU LO? Upss!"
Teriak Dinda yang menggema di aula basket ini dan dia menutup mulutnya dan menggoyangkan tubuh gue. Apa salah gue coba.
"Ya ampun cla, sepupu lo ganteng banget. Btw anyway lo kok gitu?"
"Maksudnya?"
"Emm lo aneh!" What(?) Aneh darimananya (?). Alhasil gue cuma diam.
"Yah emang gini, kalau udah aneh mau gimana lagi?"
Dinda cuma menepuk nepuk bahu gue dan dia mendekat.
"Gak apa apa, nanti kenalin gue yah? Sama sepupu lo."
Gue cuma mangguk mangguk aja. Kayak apa gitu.
"Udah ya Cla, gue mau ke kantin dulu. Cepat yah beresin tuh bola, eh jangan lupa ya yang tadi?"
"Iya!"
Gue cuma tersenyum dan Dinda berlari keluar dari aula basket ini. Sebenarnya dari tadi tuh udah boleh istirahat, apalah daya gue, Van dan Dinda ditugasi untuk mengemas aula basket ini. Udah selesai sih cuma tinggal bola.
"Hei Van, lo kemasin bola bola ini! Gue mau keluar dulu dan ganti baju bye!"
Van cuma angguk dan tersenyum. Tampan benar.
Baru aja gue langkahin kaki, pintu aula basket ini dibuka dan lo pasti udah nebak siapa itu (?) Arnol (!).
"Lo ngapain disini ?"
Ucap gue kesal tanpa melangkah mundur, dia mendekatiku.
"Lo masih gak takut sama gue?" Tangan gue udah ditarik kebelakang dan Van maju kedepan sebelum Arnol mau narik gue tadi.
"Anda jangan pernah mengganggu Clara lagi."
Terlihat wajah Arnol sedikit jengkel. Gue cuma diam di belakang Van, dan waktu itu juga gue ngotak ngatik handphone. ngilangin bosan,, lagi gak mood kelahi.
"Gue gak ada urusannya sama lo dan gue geli sama bahasa lo yang sok formal. Gue ada urusan sama tuh nerd, eh lo minggir "
Baru aja tuh Arnol mau ngegapai tangan gue, satu pukulan tepat di muka Arnol dan satu tendangan yang membuat Arnol jatuh. Udah tampan jago fight, eh. Tangan gue ditarik Van keluar dari aula basket ini.
"EH LO JANGAN KABUR, GUE MASIH ADA URUSAN DENGAN LO!"
Teriak Arnol yang masih meringis, emang gue pikirin. Hahaha. Gue berjalan sama Van dan lo tau gak kami masih pegangan tangan.
sosweet.
"Eh, lepasin tangan lo! Gue mau kekantin laper."
Tarik tangan gue melepas kan dari genggamannya, Van cuma tersenyum.
"Tapi saya harus menjaga kamu dimanapun."
Gue cuma ngangguk seingat gue kalau dia bodyguard gue heleh.
•••••
Author POV
Arnol keluar dari aula basket dan menuju ke ruang kesehatan sambil meringis.
"Awas lo anak baru, kalau lo masih ngelindungi tuh nerd, lo berdua yang akan kehilangan nyawa!"
Umpat Arnol kesal, sesampai di ruang kesehatan dia menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur dan memejamkan matanya.
Sementara itu, Clara sibuk dengan handphonenya yang saling mengirim pesan dengan Caren yang mencari informasi tentang Arnol. Tampak wajah Clara terlihat seperti tak percaya mengenai sesuatu yang diketahuinya.
"Emm Van, gue mau izin pulang nih gue gak enak badan!"
Clara pergi meninggalkan Marlin dengan wajah kesal, Clara menghadap ke arah Marlin.
"Lo jangan ngikutin gue, karna kalo lo ngikutin gue lo dalem masalah!"
Tunjuk Cla di depan wajah Marlin, Marlin hanya mengangguk dan tahu kalau Clara sedang ingin sendirian.
Marlin Van lexam adalah seorang wakil mafia dari keluarga Lexam, spanyol. Keluarga lexam bekerja sama dengan keluarga Values dan keluarga lainnya, Marlin selaku wakil mafia dia dimintai bantuan dari ketuanya, Steven dan Andre yang kebetulan teman dekatnya.
Marlin melangkah pergi menjauhi kantin dan bertemu Arnol di pertengahan jalan.
"Kemana tuh nerd?"
Tanya Arnol yang melihat Marlin dengan kesal.
"Saya tidak tahu. Saya tahu anda ingin menyelakai Clara dan sebelum itu terjadi, anda yang akan tercelakai!"
Tangan Arnol mengepal menahan amarahnya.
"Lo hati hati aja!"
Arnol berlalu pergi dan Marlin tersenyum miring.
•••••
Clara POV
Gue berlari menuju kamar dengan kesal, marah, sedih semuanya bercampur aduk. Gue gak bisa berpikir jernih gue kesal gue benci semua orang gue BENCI.
Gue mengambil handphone dan membaca pesan dari caren, gue menghempaskan handphone gue kelantai dan berteriak. Emang gue pikirin, kalo rusak beli lagi.
Permainan akan dimulai, siap siap aja.