SATU: Aku Tahu Semuanya

1229 Words
Tahun 2002 "Aku tahu semuanya. Ngaku aja, kamu sengaja, ‘kan?" Shia menurunkan buku Harry Potter dan Kamar Rahasia yang sedang ia baca untuk tugas sekolah membuat resensi buku selama libur Hari Raya Idulfitri, demi menatap Zidni yang kini berdiri di hadapannya. "Maksudnya?" "Kamu sengaja gali paritnya yang dalam dan bentuknya makin tinggi mendekati pinggir laut, ‘kan, biar airnya cepat turun sampai ke istana Varya lalu menghancurkannya?" Zed mengatakan semua itu dengan wajah datar dan suara tanpa intonasi. Meski begitu, dalam hati Shia agak sebal juga karena Zed bisa membaca triknya semudah itu. Siang tadi, mereka membangun istana pasir bersama. Awalnya hanya Shia dan Felicia saja yang bermain di pantai. Mereka sibuk beradu siapa yang bisa membuat istana paling megah dan kokoh, mereka akan tidur di kasur atas malam ini, karena kamar hotel yang para orang dewasa ini sewa tidak cukup untuk menampung semua orang dengan nyaman, jadi Shia, Felicia dan Ivy harus berbagi kasur malam ini. Sayangnya, belum sempat pertandingan itu selesai, tiba-tiba Varya datang dan dengan tidak sengaja menendang ember Shia hingga istananya berantakan, lalu mengajak Zidni untuk membangun istana mereka berdua.  Felicia yang bad mood langsung meninggalkan istana miliknya, dan memilih berenang. Namun, tidak demikian dengan Shia. Ia mengajukan diri untuk membuat parit bagi istana milik Varya dan Zidni. Ketika langit menjadi semakin sore, Shia menghancurkan istana pasir Varya dengan bantuan air pasang.  Shia mengerutkan kedua alis, "Gini ya, Zed, yang nyuruh aku bikin parit tuh Varya sendiri, lho. Kamu kan juga dengar langsung dia ngomongnya gimana ke aku. Kok jadi aku yang disalahin?" "Dan yang ngasih masukan 'istana pasir apaan tuh? Di buku ilmu Arsitektur yang pernah k****a, Istana Buckingham yang megah di Inggris punya saluran pembuangan air yang memadai', siapa?" sahut Zidni tidak mau kalah. Tangisan Varya saat istananya runtuh baru bisa reda setelah Zidni menghiburnya, dan mereka berjanji akan membuat istana lagi besok pagi, karena saat itu sudah mau Magrib dan mereka harus mandi sore sebelum makan malam. Shia tidak mengerti mengapa di usia sebesar ini Varya masih menangis dan merajuk seperti bayi. Mereka sudah umur sepuluh tahun. Bahkan Ivy, adik Shia yang masih umur tujuh tahun saja tidak semanja Varya. Shia mendengkus, meski tidak sepatah kata pun meluncur dari bibirnya sebagai bantahan. Ia justru meletakkan bukunya, lalu beranjak ke dapur untuk mencomot semangkuk berondong jagung buatan mamanya untuk dimakan bareng Felicia. Dari sudut mata Shia, terlihat jelas jika Zidni membuntutinya. Shia kembali ke kursi seraya mengembuskan napas berat karena jengkel. Rombongan mereka menyewa satu penginapan dengan enam kamar, satu lobi, satu ruang keluarga juga dapur. Shia berbagi kamar dengan Ivy dan  Felicia karena ada satu kamar kecil berisi ranjang susun untuk anak-anak. Setiap pagi para pegawai losmen menyiapkan sarapan untuk mereka. Seperti halnya akomodasi lain di sekitar sini, masing-masing kamar memiliki akses menghadap langsung ke pantai. Mereka tinggal membuka pintu depan saja, lalu berjalan beberapa meter menuju daratan berpasir putih untuk bermain di laut saking dekatnya.  Biasanya acara semacam ini tidak sampai menginap segala. Pada tahun-tahun sebelumnya, mereka hanya berkumpul di restoran atau taman hiburan di Malang di mana mereka bisa main-main dan para orang tua berkumpul sendiri untuk makan bekal atau mengobrol. Namun, kali ini mereka menginap sampai dua hari di hotel, hingga Shia harus membawa PR-nya untuk dikerjakan selama di sini. Mungkin karena anak-anak sudah semakin besar, jadi para orang tua ini bisa lebih lama berkumpul sambil mengenang masa muda. Shia tidak mengerti para orang dewasa, mengapa suka sekali menatap masa indah mereka yang telah terlewat ... lima belas? Dua puluh tahun lalu? Mengapa tidak fokus merancang kenangan indah di masa depan saja, sih? "Iya, nih! Varya yang resek, kamu malah nyalahin Shia," serobot Felicia sambil mencomot berondong dari mangkuk Shia. "Lagian, kamu nggak lihat apa, kalau Shia lagi sibuk? Bisa-bisanya ganggu anak yang lagi belajar cuma buat belain cewek cengeng macam Varya." Felicia yang duduk di sebelah Shia sedang membaca buku Lima Sekawan lapuk yang dipinjamnya dari tempat penyewaan komik—letaknya hanya beberapa belas meter dari sekolah, karena Shia dan Felicia satu sekolah meski beda kelas—tempat anak-anak kelas lima nongkrong untuk baca Naruto sambil jajan pentol. Seperti Shia, Felicia juga dapat tugas yang sama untuk menulis resensi buku yang dibaca selama libur panjang Hari Raya Idulfitri. Felicia lebih muda setahun dari Shia, dia kelas tiga sedangkan Shia kelas empat. Meski begitu, jatah buku mereka sama, lima resensi buku selama libur lebaran, hanya selera bacaannya saja yang berbeda. "Emangnya, kamu enggak ngerjain PR juga? Kata Om Yoga kamu anak pintar, tapi kok nggak kelihatan belajar? Jangan-jangan pinternya bohongan nih." Zidni menatap mereka berdua bergantian, lalu berlalu begitu saja setelah menggumamkan, "Dasar cewek-cewek aneh." Felicia hampir melemparkan buku yang dipegangnya ke punggung Zed saking jengkelnya, tapi Shia tahan. Mereka kembali melanjutkan membaca sambil sesekali mencatat poin penting di buku tulis mereka. Sebetulnya Shia agak menyesal memasukkan buku Harry Potter ke dalam daftar bacaannya untuk tugas ini, karena jumlah halaman yang tebal membuatnya jadi tertinggal jauh dengan Felicia yang sudah mau habis membaca. Namun, apa daya, Papa terlanjur membelikannya buku itu—sebetulnya, Harry Potter bukanlah bacaan yang salah untuk anak usia sepuluh tahun, buku tersebut hanya terlalu tebal untuk ditulis resensinya. Shia bisa saja meminjam buku yang lebih tipis dari tempat penyewaan komik seperti Felicia, sayang sekali jika barang yang sudah dibeli tidak dimanfaatkan. Meski mereka memiliki cukup uang untuk membeli lagi, tetapi Mama Shia selalu mendidik mereka untuk berhemat dan menabung. Lagi pula, bisa membaca Harry Potter cetakan pertama di saat kebanyakan anak lain harus menunggu bukunya tersedia di persewaan komik agar mereka bisa meminjam dengan lima ribu rupiah selama seminggu, merupakan sebuah kemewahan yang tidak terukur. Shia melirik sekelompok orang dewasa yang mengobrol, orang tuanya dan orang tua Zidni terlihat sangat akrab, jika dibandingkan dengan orang tua yang lain. Jika tidak ada Varya, mungkin dia, Felicia, dan Zidni bisa menjadi teman akrab juga. Namun, Varya selalu ada di tengah-tengah mereka, menyita semua perhatian Zidni, dan menjauhkan Zidni dari anak-anak lain dengan egoisnya. Bahkan Varya berhasil memengaruhi Zidni untuk berburuk sangka padanya juga. Meski tuduhan itu benar, tapi ‘kan, Varya dulu yang cari masalah dengannya. Panjang umur, baru saja melintas di pikiran Shia, Varya keluar dari kamarnya sambil menggosok mata. Sepertinya dia habis dimarahi oleh mamanya dan ngambek di dalam kamar. Saat ini dia merajuk pada Zidni yang sedang meminjam mainan die-cast-metal milik Kak Rafa. Meski jarak mereka cukup jauh, tetapi Shia bisa melihat jejak lebam di pipi Varya yang tadi siang tidak ada di sana. Mungkin mama Varya, Tante Vira menghajar Varya lagi karena menangis tanpa henti gara-gara istana pasirnya hancur. Jangan tanya deh, kenapa orang tua Varya, terutama mamanya segalak itu dalam mendidik anak. Shia saja enggan dekat-dekat dengan beliau, karena menurutnya Mama Varya memang pemarah dan seram. Jangan tanya juga mengapa Varya tidak ikut mengerjakan tugas sekolah juga seperti Shia dan Felicia. Jika Zidni dibebaskan dari belajar karena pintar, Varya justru sebaliknya. Jangankan mengingat PR, jadwal pelajarannya dalam seminggu saja mungkin dia tidak hafal. Shia mengembuskan napas berat, sejak tadi ia tidak beralih dari halaman mobil Anglia terbang Ron Weasley tersangkut di pohon Dedalu Perkasa dan diombang-ambingkan hingga bentuknya tidak beraturan. Shia memalingkan wajahnya dari orang lain di sekitar, kembali masuk dalam dunia Harry Potter. Tidak, Zidni tidak benar-benar tahu semuanya, tidak peduli seberapa pintar anak laki-laki itu. Buktinya, ia tidak menyadari betapa Shia ingin menjadi teman akrabnya. Shia ingin semua anak bisa bergaul dengan nyaman tanpa harus punya geng-geng seperti Varya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD