Seminggu setelah pertikaian, Dian tidak mendapat kabar sedikitpun soal kepergian Adit. Dia pergi tanpa pamit, untuk waktu yang lama. Entah kapan kembali ? Dian harap, itu hanya emosi Adit sesaat. Dokumen menggunung di atas meja, dering telpon bersahut-sahutan, ratusan email masuk, semakin membuat kepala ini penat. Dilihatnya di samping meja, kosong tidak ada penghuninya. "Loh, kemana Rini ?" gerutu Dian dalam hati. Tas dan tumblernya ada diatas meja, tapi orangnya entah dimana. Sejenak, Dian beranjak meninggalkan meja menuju pantry. Tepat dipojok, Dian melihat Rini sedang duduk sendiri menceruput secangkir kopi sambil membalas chat w******p. "Rin, sendirian ajah !" tegur Dian menghampiri. "Oh, ada apa ?" Rini segera mengunci layar handphonenya. "Enggak, aku l

