Terbelalak mata enggan terpejam memandangi lampu tidur lima watt. Hordeng berayun-ayun tertiup kipas angin. Jarum jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Hening, tanpa suara, hanya nyanyian jangkrik dari balik jendela. Balik kanan-balik kiri, terlentang-tengkurap, terlentang lagi, lalu menarik selimut hingga menutupi wajah. Srrupp! Dian melempar selimut. Rupanya cara itu masih belum ampuh mendatangkan rasa kantuk. Dia bangkit bersandar sambil memeluk guling. "Apa alasan dia menyukaiku ?" Dian bertopang dagu. "Aku cantik ?" memegang wajahnya. "Rambutku indah ?" jemarinya menyisir rambut. "Senyumku manis ?" tesenyum lalu telunjuknya menegetuk-ketuk pipi. Dasar bodoh ! Kenapa memikirkan itu malam-malam begini ? Kalau cinta ya cinta saja. Tida

