Kejadian sebelumnya...
"Gue--"
"Lo mau gantiin Gino Kev?" potong Amel berbinar dengan senyum kemenangan yang tercetak sempurna di wajahnya.
"Gue bakal batalin pertunangan ini gimana pun caranya." Kevin melanjutkan kalimatnya yang sempat tertunda tadi.
Amel pun mendesah pelan saat mendengar perkataan Kevin, apa sulitnya sih mengganti Gino.
"Gue pikir lo setia, ternyata lo sama aja!" ujar Gino.
"Cewek lo udah pergi, selamat hubungan lo bakal berakhir," bisik Gino pelan.
Kevin langsung mengalihkan pandangannya kearah tempat duduk Lea, dan benar saja gadis itu sudah tidak ada di sana.
Kevin kalang kabut, pasti Lea salah paham tadi.
"s**t," umpat Kevin pelan lalu menghampiri anggotanya.
"Kemana Lea?" tanya Kevin dingin.
"Baru sadar kalo Lea udah nggak ada?" ledek Alin.
"Gue tanya!" tekan Kevin.
Alin tidak membalas, gadis itu malah tersenyum miring kearah Kevin, yang membuat sang ketua geng merasa geram, dan memilih keluar untuk mencarinya sendiri.
"Menarik," gumam salah satu anggota inti saat melihat Alin yang dengan beraninya menghiraukan pertanyaan Kevin.
****
Gleg
Lea menelan salivanya susah payah saat melihat ketiga pria di depannya sedang menatapnya dengan tajam, termasuk ayahnya.
"Kenapa?" tanya Ken yang berubah dingin.
Sungguh Lea sekarang seperti akan diterkam hidup-hidup. "Kenapa Lea?" timpal Alison yang ikut bertanya dengan suara sama dinginnya.
Sedangkan Kevin menatap Lea dengan tatapan yang sulit diartikan.
Sungguh sekarang cuaca disana sangat dingin, tapi kenapa Lea malah berkeringat saat ini.
"Mungkin Lea udah nggak nyaman dengan Kevin, jadi kita hargai saja keputusan Lea buat putus dengan Kev--"
"Dinda."
"Tante."
Ucap ketiga laki-laki didepannya dengan bersamaan. Membuat nyali Dinda ciut, apalagi saat melihat Alison sang suami menatapnya tajam.
"Maafkan Mama sayang," batin Dinda sambil memandang Lea miris, Dinda yakin untuk kali ini putrinya tidak akan bisa putus dengan Kevin.
Lea berusaha melepaskan pelukannya, namun Kevin semakin mengeratkan dekapannya.
Akhirnya Lea pasrah, "Lea mau putus karena Kevin mau gantiin Gino buat jadi tunangannya Amel," jelas Lea setelah itu gadis itu menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Apa sayang? Kamu mau tunangan sama aku?" Ucapan ngawur dari Kevin membuat nafas Lea kembali tercekat.
Lea membelalakkan matanya tidak percaya, apakah laki-laki di samping ini sudah tuli setelah pulang dari pesta mak lampir tadi.
"Bukan git--"
"Sepertinya Lea lagi ngambek Om, Kevin pinjem sebentar putrinya ya Om," izin Kevin lalu tanpa Babibu ia menggendong Lea.
"Cepat selesaikan urusan kalian!" Balasan dari Alison membuat Lea semakin menampilkan wajah menderitanya, sungguh apakah Ayahnya tidak tahu jika putrinya sekarang sedang berada di dalam bahaya. Berduaan dengan singa yang sedang marah, itu adalah pilihan hal yang paling buruk.
"Selamatkan Lea ya tuhan," gumam Lea pelan.
****
"Jelaskan!" pinta Kevin setelah mendudukkan Lea tepat di atas tempat tidur gadis itu.
"Gue mau putus!" balas Lea.
"Alasannya!" Suara Kevin berubah dingin.
"Karena lo SASIMO!!" sarkas Lea.
Kevin mengerutkan keningnya, merasa aneh dengan kata yang diucapkan oleh Lea.
"Ee maksudnya gue tuh, lo kan mau tunangan sama orang lain. Gue nggak mau jadi penganggu," jelas Lea.
Lea bernafas lega saat Kevin tidak tahu arti dengan kata yang diucapkannya barusan, ia juga merutuki mulutnya yang dengan lancarnya mengumpati sang ketua geng dengan kata-kata yang lagi viral. Jika Kevin tahu artinya, Lea yakin pasti dia akan di ceramahi habis-habisan olehnya, pasalnya Kevin memang tidak pernah berdekatan dengan gadis lain kecuali dengannya dan si mak lampir.
"Siapa yang bilang gitu?" Kevin mulai mendekatkan wajahnya kearah Lea dengan wajah mengeras, tanda tidak suka dengan perkataan Lea, apalagi gadis itu mengganti aku-kamu menjadi gue-lo.
"E-emang gi-gitukan." Entah kenapa Lea tiba-tiba gugup sendiri saat melihat wajah Kevin yang begitu dekat dengannya.
"Kata siapa?"
"Aku liat pakai mata kaki aku sendiri tadi," sahut Lea cepat.
"E-eh maksudnya mata kepala aku sendiri," ralat Lea.
"Emang kamu tahu kelanjutannya? Kenapa pulang sebelum aku selesai bicara?" Kevin semakin memajukan wajahnya.
"Aku tahu sem--"
Ting
Pesan dari ponsel Lea memotong ucapannya, Lea pun buru-buru membuka pesan tersebut.
Alin
Lea lo salah paham.
Kevin nggak kayak
yang lo pikirkan tadi.
"Mampus!" batin Lea setelah membaca pesan dari sahabatnya. Telat Lin telat!!
"Huaaamm... Kayaknya udah malam deh Leo, Lea ngantuk nih. Kamu pulang aja ya, lanjutin besok lagi," alibi Lea yang langsung jinak, gadis itu kembali memanggil Leo, berarti dia sudah tidak marah lagi.
Namun berbeda dengan Kevin, laki-laki itu sepertinya masih dalam keadaan yang sama.
"Kenapa mau putus?" Lagi-lagi Kevin membahas hal itu, membuat Lea kelagaban sendiri.
Lea menunduk takut, "Sifat bar-bar gue kenapa ilang pas lagi gini?" gumam Lea pelan.
"Sayang?" tekan Kevin.
"Ya maaf lagian kamu juga kenapa kalau ngomong jangan setengah-tengah, kan aku jadi salah paham," sahut Lea yang menggunakan hukum alam.
Ingat cewek tidak pernah, kalau cewek salah maka cowok lebih salah.
Kevin menaikkan alisnya.
"Kalau Leo beneran mau putus, Lea mau kok."
Ucapan Lea membuat rahang Kevin semakin mengeras.
"Eh maksudnya, Lea tuh sebenarnya gak mau putus sama baby Leo," ujar Lea sambil mengedipkan matanya sebanyak dua kali dan ditambah wajah yang sengaja di imut-imutkan agar Kevin tidak marah lagi padanya.
Lea menarik ujung baju yang dikenakan oleh Kevin saat tidak mendengar balasan dari laki-laki tersebut.
"Jangan marah lagi ya," mohon Lea.
"Tidur," suruh Kevin.
Lea mengangguk semangat, "Lea juga mau tidur kok." Gadis itu merangkak diatas kasurnya lalu mulai memejamkan matanya, berusaha untuk lekas tidur.
Baru saja ia ingin masuk kedalam mimpinya, tiba-tiba Lea kembali terbangun saat merasakan ada pergerakan dari kasur disampingnya.
"Lho Leo," beo Lea saat melihat Kevin yang juga merebahkan tubuhnya.
"Aku bakal pergi pas kamu udah tidur," ujar Kevin yang dengan santainya memeluk Lea.
"Tap--"
"Sleep baby."
Akhirnya Lea pasrah dan kembali tertidur.
****
"Lagi-lagi ku gak bisa tidur... lagi-lagi ku gak bisa makan... diriku selalu sendirian... nggak punya pas--" Reza menyanyi dengan suara nyaring namun langsung dipotong oleh Devan.
"Nasib memang nasib jadi jomblo begini.... Semuanya apa-apa ku lakukan sendiri...
lama-lama mumet kalau terus jomblo begini... bis--"
"Salah lirik b**o!!" sarkas Fino.
"Gini-nih kalo jomblo disuruh nyanyi," lanjutnya.
"Parah suara gue enak banget, gue up di toktok aja. Kali aja gue jadi seleb yee kan," seru Reza setelah mendengar ulangan dari video tadi.
"Suara kayak kaleng rombeng bangga!" cibir Fino yang dihiraukan oleh Reza dan Devan.
"Nih si bos kemana ya?" tanya Devan saat melihat Kevin yang belum juga pulang dari rumah Lea.
Setelah kepergian Kevin dari pesta Amel tadi, tiba-tiba Kevin menyuruh anggota inti untuk berkumpul di rumahnya. Namun sampai sekarang pria itu tidak kunjung datang.
Ceklek
"Baru aja diomongin udah dateng ni bos," seru Reza saat melihat Kevin yang baru saja masuk.
"Salah ngasih tempat gue," gumam Kevin miris saat melihat keadaan kamarnya saat ini.
"Ada apa Kev?" tanya Aldo.
"Kita serang geng Wolf lusa," ujar Kevin.
Keempat laki-laki itu mengagguk paham, mereka juga sudah menantikan hal ini.
"Nggak ada cemilan ini sebelum bahas lebih lanjut," celetuk Reza sambil menyindir sang pemilik kamar.
"Ambil di laci nakas!" suruh Kevin.
Reza dengan semangat langsung mengambil sesuatu yang dimaksud Kevin, dan benar saja di sana sudah banyak berbagai macam cemilan. Reza langsung mengeluarkan semuanya dan langsung di terima oleh Fino dan Devan.
Mereka pun mulai memakannya sambil mendengar penjelasan dari Kevin tentang p*********n yang akan dilakukan oleh geng LK kepada geng Wolf.
"Wih perut gue kenyang bat, tumben lo baik bos. Jadi makin sayang deh," celetuk Reza.
"Dih najis Za!!"
Kevin menganggukkan kepalanya. "Nggak ada efek sampingnya?" tanya Kevin saat melihat semua snack- nya yang sudah tinggal bungkusnya saja.
"Emang kenapa bos?" tanya Reza bingung.
"Makanan yang kalian makan, sebenarnya udah kadaluarsa," sahut Kevin santai.
Ketiga laki-laki itu mebelalakkan matanya, lalu memandang Kevin nyalang.
"BOS s****n LO!" teriak mereka bersamaan. Pantas saja Kevin sangat baik kepada mereka, mempercayai Kevin memang perlu keyakinan yang besar.
Kevin langsung tertawa lepas.
Sedangkan Aldo hanya tersenyum sekilas, Aldo dari awal memang tidak menyentuh cemilan tersebut.
"Sayang tidur! Udah malam, besok sekolah," ujar Anya setelah membuka kamar putranya.
"Iya Mi," balas Kevin.
"Kalian juga tidur di sini aja, udah malem. Kalau nggak muat ada kamar tamu," lanjutnya.
"Siap tante!"