Paman Jono merobek secarik kertas, lalu menuliskan tinta di kertas itu. Sebuah alamat yang tertera dengan lengkap. Selesai menulis alamat, paman Jono melihat ke arah Sisil yang masih tercenung. Diam dalam lamunannya. Paman Jono mengulurkan secarik kertas itu pada Sisil."Sisil ...." panggilnya. Suara lelaki itu menyadarkan Sisil yang terbuai dalam pikirannya. "I-iya paman," Sisil gelagapan, matanya menangkap secarik kertas putih itu. "Ambil ini, kau bisa bertanya pada orang tentang alamat ini. Belajarlah mandiri, agar bagaimana hidup di jakarta itu tidak seperti seenak yang kau pikirkan." Lelaki itu menghampiri Sisil, ucapannya berhasil membuat dahi gadis itu berkerut penuh. Dengan tangan masuk ke saku celana, tatapannya tak terbaca. Namun, dari senyuman terpancar menyimpan gelagat yang

