Harapan Ibu Melisa

1082 Words
Pagi ini, pagi yang cerah untuk mengawali aktifitas Sisil yang telah membawa sapi ternaknya di tengah persawahan yang telah panen. Nanti sore baru kembali ia ambil. Ia ada janji dengan sahabatnya untuk pergi kepantai. Menikmati pemandangan dengan laut yang begitu biru dan di temani minuman favoritnya. Namun, kini ia harus membantu sang Ibu yang tengah memasak untuk makan siang. Karena di rumahnya saat ini ada adik dari sang Ibu yang masih di desa. Dua hari lagi mereka akan berangkat kembali ke kota. Di mana rumah dan tempat usahanya di sana. Membantu sang Ibu memasak, bukan hal yang baru bagi Sisil. Dia bahkan sudah merangkum semua masakan yang biasa di masak oleh sang Ibu. Tetapi, Ibu melisa belum melepaskan Sisil memasak seorang diri. Seperti hari ini mereka sama-sama di dapur reyot itu. Namun, derap kaki seseorang menghampiri Sisil dan Ibu Melisa. Membuat mereka sama-sama menoleh ke asal suara. Menampakan sosok Paman Jono di balik pintu. Sisil yang tadinya begitu semangat memasak, seketika harus gondokan melihat lelaki itu. Seolah tidak ingin melihat lama ke arah Paman Jono, ia memalingkan wajahnya dari lelaki itu. "Sil, kamu 'kan sudah lulus dari sekolah, dari pada di rumah saja, lebih baik kamu ikut Paman ke jakarta. Bekerja sebagai kasir di salah satu restauran milik paman. Nanti kamu paman gaji setiap bulannya. Dan uang mu itu bisa kamu kirimkan ke Ibumu," tutur Paman Jono. Ibu Melisa menatap wajah Sisil yang tengah menaruh kesal."Ada benarnya kata pamanmu, nak! Jadi kasir 'kan tidak begitu sulit, nak. Hanya mengembalikan uang pelanggan saja." Ibu Melisa mencoba memberi masukan pada Sisil. Dari pada anak gadisnya di rumah, apa lagi seumuran Sisilia memang lagi pubertasnya. Akan berakibat buruk kalau salah pergaulan. Jika dia di jakarta 'kan, ada Pamannya yang menjaga Sisil. Itu pemikiran Ibu Melisa. "Kalau dirumah saja, emang tidak ada pekerjaan gitu bu! Sisil bisa kok cari pekerjaan di desa kita ini," sanggah sisil. Tapi tak menatap sama sekali wajah sang Paman. "Nanti, sapi ku gimana? Siapa yang akan mengembalakan sapi ku?" lanjutnya. "Kau tidak perlu khawatirkan sapi itu, nak. Masih ada adik mu, Diana yang membantu ibu nanti." Sisil membuang tatapannya ke sembarangan arah. Seolah sang Ibu tidak tahu maksud dari sanggahannya itu. Dia mengharapkan, Ibu Melisa akan membelanya agar tetap di rumah. Namun, kenyataannya wanita paruh baya itu malah mengikuti ajakan sang Paman. "Kata ibumu, benar Sil. Kalau iya, besok paman ambil tiket keberangkatan untukmu juga!" ujar Paman Jono. "Terserah!" Sisil yang tidak lagi ingin di dapur itu, ia beranjak dari sana. Rasa kesalnya telah mendominasi jiwa dan hati yang mendongkol. Paman Jono dan Ibu Melisa hanya melihat kepergian Sisil. Kakinya melangkah lebar masuk kedalam kamarnya. "Mau jadi apa dia di rumah, mbak, mengikuti temannya yang hura-hura? Sambung kuliah juga enggak. Dari pada kuliah, mending duitnya di tabung untuk buat rumah. Di jaman sekarang ini cari pekerjaan itu susah. Kebanyakan ijazah terbuang sia-sia orang-orang kuliah itu." Papar Paman Jono. Ibu Melisa hanya terdiam. Entah mengapa wanita itu hanya membiarkan ucapan Paman Jono berlalu begitu saja. Seolah lidahnya kelu, saliva-nya tercekat di tenggorokan. "Biar Mbak yang bicara dengannya nanti." Paman Jono berlalu. Meninggalkan Ibu Melisa dengan wajah sendunya. Wanita itu hanya memperhatikan kepergian sang adik. Mungkin lelaki itu memiliki tujuan baik dengan kehidupan gadis itu. Secara selama ini dia ikut menanggung perekonomian Ibu Melisa. 'Apa waktunya membalas budi atas kebaikan dia selama ini. Lagian Sisil akan digaji di sana.'Batin Ibu Melisa. Sisil yang mendengar semua perkataan sang paman dari dalam kamar, membuatnya tidak bisa lagi membendung butiran bening di kelopak matanya. Dia berusaha mengubur cita-citanya untuk tidak melanjutkan pendidikan. Tapi, ternyata hidupnya juga belum tenang. Sekarang dia disuruh untuk mengikuti keinginan sang Paman. Bunyi suara pintu terbuka. Langkah seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar Sisil. Ia melihat, gadis itu tengah meringkuk di atas tempat tidur. Langkah perlahannya mendekati gadis itu. Hingga ia kini menduduki sisi ranjang. Tangannya mengusap lembut rambut Sisil. Membuat Sisil duduk dari tidurnya itu. "Kenapa sih bu, ibu tidak mendukung Sisil untuk terus dirumah ini. Apa memang ibu tidak ingin melihat Sisil terus di rumah? Sisil bisa kok, cari pekerjaan di desa kita ini. Kalau memang ibu tidak ingin melihat Sisil terus di rumah, besok Sisil akan cari pekerjaan."Berang Sisil. Ia berseru lantang atas ucapan yang di lontarkan. Nafasnya memburu menyeruak di rongga d**a. Bahunya ikut naik-turun atas nafas yang tersenggal. Cairan bening ikut mengalir di pipi gadis itu. Ibu Melisa semakin tidak berdaya melihat sang putri tidak sepaham dengan nya. Ia menarik Sisil dalam dekapannya, memeluk erat gadis itu. Lalu melepaskan kembali dekapannya. "Sil, dengarkan ibu, nak. Terkadang Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan, bukan berarti Dia tidak menyayangi kita. Tetapi, Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Dari pada Sisil cari kerja di desa kita ini, mendingan Sisil jaga kasir di restauran paman,nak, "ucap Ibu Melisa penuh kelembutan. Bukannya tenang, Sisil malah semakin geram mendengar ucapan sang Ibu. Ia melepaskan pelukan mereka. "Mendingan Ibu keluar dari kamar Sisil!" bentak Sisilia. Ibu Melisa bergeming. Dari tatapan yang menaruh kasih sayang itu, mengharapkan kebahagiaan akan menyertai kehidupan Sisil suatu hari nanti. "Ibu keluar!!" Ibu Melisa beranjak dari duduk ditepi ranjang itu. Meninggalkan Sisil dengan hati yang berkecamuk. Setelah kepergian Ibu Melisa, Sisil membenamkan wajahnya pada bantal. Meluapkan isak tangis yang tertahan semenjak tadi. *** Sore harinya, Sisil telah bersiap-siap untuk keluar dengan Frilly-sahabatnya. Mereka telah berjanji untuk jalan-jalan di pantai. Duduk di sana menikmati angin sore. Dengan setelan baju kaos putih sedikit longgar, celana jeans panjang. Tidak lupa ia memakai switer kesayangannya. Dia hanya menunggu Frilly datang kerumah menjemput dengan motor matic miliknya. Ia juga telah berpesan kepada Diana, untuk melihat sapi peliharannya. Sisil juga sudah meminta izin kepada sang Ibu, saat ia bangun dari tidurnya. Dan beliau mengizinkan untuk keluar. Sisil yang tengah mematri dirinya di depan cermin, seketika terhenti saat bunyi klakson terdengar olehnya. Ia keluar dari kamar. Lalu bergegas melihat siapa yang datang. Ternyata di luar sudah ada Ibu Melisa yang tengah bicara dengan Frilly. Ibu Melisa dan Frilly menoleh ke arah Sisil yang hadir di tengah mereka. Namun, Sisil tidak menaruh curiga apapun. Dia menganggap mungkin cuma pembicaraan biasa saja. "Ibu, Sisil keluar dulu ya, sebelum jam 5 sisil udah dirumah kok. Sisil janji!" "Ya sudah, kalian hati-hati dijalan,ya!" "Bi, kita berangkat dulu ya!" ucap Frilly. Mencium tangan Ibu Melisa. Begitu juga dengan Sisil. "Semoga Frilly dapat membantu." Gumam Ibu Melisa lirih. Ia masuk kerumah setelah dua orang gadis itu luput dari penglihatannya. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD