Bagian 13

1821 Words
Reon dan Ovi saat ini sedang berada di kantin kampus. Sepertinya setelah kejadian bertengkar mereka beberapa hari yang lalu, Reon mulai mengalami perubahan. Sifatnya yang terkadang pemarah dan ketus seketika berubah ketika bersama dengan Ovi. Semua ini dia lakukan agar gadis ini tidak mencoba pergi dan meninggalkannya. Karena sebagaimana dingin dan ketusnya Reon, pemuda itu tetap membutuhkan sosok seperti Ovi di sampingnya. Namun, kebersamaan mereka sedikit terganggu karena kedatangan teman-teman Reon, salah satunya Tomi yang selalu tidak menyukai kehadiran Ovi di sekitar temannya itu. “Pacaran mulu lo,” cibir Tomi yang sedikit menyindir Ovi. Gadis itu memilih diam berfokus kepada makanan yang ada di depannya serta memasang telinga untuk mendengarkan obrolan Reon bersama teman-temannya. “Ada apa?” tanya Reon yang selalu tidak suka basa-basi. “Begini, Re,” jawab salah satu temannya, “nanti malam lo datang ke party-nya Bella, nggak?” Reon yang mendapat pertanyaan seperti itu pun mengernyit bingung. “Party? Party apa?” “Pacaran mulu sampai lupa sama teman sendiri,” sindir Tomi lagi. “Maksud lo apa?!” sentak Reon yang tidak suka nada suara temannya itu. “Sabar, Re, sabar,” tengahi salah satu teman mereka yang melihat pemuda ini terlsulut emosi. Salah Tomi juga karena mengusik Reon yang sejak tadi sudah diam. “Begini, Re. Besok itu tepat hari ulang tahun Bella. Dia ngadain party bareng kita untuk terakhir kalinya sebelum dua hari lagi dia pindah ke Korea,” jelas temannya. “Pindah?” Kabar yang mengejutkan. Ovi pun juga turut terkejut. Bella? Pindah? Ini salah satu kabar yang bahagia bagi Ovi. Dengan begitu, hilang satu orang yang mengganggu hubungannya dengan Reon. “Jadi? Lo datang atau nggak? Perlu lo ingat juga dia masih sahabat kita-kita,” tekan Tomi. “Lihat nanti aja kalau gue nggak sibuk,” jawab pemuda itu akhirnya. Tomi malah tertawa mendengar jawaban dari Reon. “Kalau orang udah pacaran memang hidup serasa milik berdua. Teman aja bisa dilupain.” Reon yang mendapat sindiran lagi seperti itu pun mengepalkan tangannya. Ovi yang tahu jika Reon tengah menahan amarahnya pun menggenggam tangan pemuda itu agar kekasihnya itu tetap tenang. Hingga ketika Tomi dan lainnya pergi, barulah Ovi melepaskan genggamannya. “Perkataan Kak Tomi jangan diambil hati. Dari dulu dia memang begitu. Nggak suka sama aku,” kata Ovi. Reon menatap kekasihnya sebentar kemudian dia menghembuskan napas. Benar, sejak dulu Tomi selalu menunjukkan rasa ketidaksukaannya kepada Ovi. Harusnya Reon bisa melindungi gadis itu, dan saat ini Reon malah merasa paling bersalah karena dia baru sadar sekarang. “Maaf,” lirihnya, “maaf karena sudah biarin kamu berada di situasi seperti ini.” “Nggak apa-apa, Re. Yang terpenting kamu selalu ada di samping aku.” “Berarti nanti kamu datang ke acaranya Kak Bella?” tanya gadis itu kemudian. “Nggak.” “Kenapa?” “Malas,” jawab Reon santai. “Ih, nggak boleh begitu. Kak Bella itu teman kamu lama banget. Apalagi sebentar lagi dia pindah, anggap aja ini terakhir kalinya kalian bisa bersama dan ketemu.” “Nanti malam aku sudah janji mau jalan sama kamu, Sayang,” kekeh Reon yang sudah hapal bagaimana sifat pelupa kakasihnya itu. Ovi yang baru sadar pun menepuk jidatnya tidak keras. “Oh iya lupa hehe. Ya sudah batalin aja. Aku di rumah aja, kita nggak jadi jalan. Kamu ke rumahnya Kak Bella aja sama teman-teman kamu,” timpal Ovi yang nyatanya tidak disetujui oleh Reon. “Kamu ngeyel banget, sih, Re,” kesal gadis itu. “Bagaimana kalau kamu ikut aku ke acaranya Bella?” usul pemuda ini yang terdengar menakutkan di telinga Ovi. “Nggak,” jawab gadis itu menggeleng menolak usulan kekasihnya itu. Dia ikut Reon? Yang benar saja, bisa-bisa Ovi dibabat habis oleh Tomi dan Bella, belum lagi teman-teman Reon lainnya. Seperti yang sudah-sudah, Ovi tidak mengenal teman-teman Reon. Pasti rasanya akan canggung dan tidak nyaman bagi Ovi. “Tenang saja, aku akan selalu ada di samping kamu. Kamu bisa pegang janji aku kalau malam ini aku akan jagain kamu dari mereka. Bagaimana?” Ovi tetap menggeleng. “Nanti malam aku jemput jam setengah tujuh. Ingat! Tepat waktu,” perintah Reon yang sama sekali tidak mendengar penolakan dari Ovi. Dan setelah mengatakan itu, dengan seenaknya pemuda itu pergi meninggalkannya. Sial, sepertinya nanti malam Ovi harus menyiapkan penutup telinga agar tidak mendengar perkataan pedas dari teman-teman Reon terutama Tomi dan Bella. *** Malam yang ditunggu pun sudah datang, dan sudah tidak mungkin lagi bagi gadis ini untuk menghindari sosok Reon. Nyatanya sejak setengah jam yang lalu, pemuda itu sudah ada di rumah kekasihnya. Menjengkelkan sekali. Ovi sudah beralibi untuk salat terlebih dahulu, dan dengan seenaknya Reon berkata akan ikut salat berjamaah bersama Ovi. Sial, mereka malah terlihat seperti sebuah keluarga. Hehe. “Nggak usah menghindar terus. Kamu tau sendiri kalau aku nggak suka dibantah,” kata Reon sambil menjalankan mobilnya. Ya, malam ini pemuda itu memilih mobil sebagai kendaraan mereka. Karena ini malam hari di mana udaranya sedikit dingin dan juga sepertinya langit nanti akan turun hujan. Reon tidak mau mengambil resiko mereka berdua kehujanan dan berakhir besoknya Ovi terbaring sakit di tempat tidur. Ovi yang diberi pernyataan seperti itu pun tampak bungkam, lebih tepatnya dia sedang kesal dan merajuk. Tadinya dia berniat untuk memperlama acara salatnya, seperti melanjutkan mengajinya, namun Reon sepertinya tidak memberinya celah untuk bisa kabur. Dan yang bisa gadis itu lakukan saat ini adalah duduk diam dan menuruti segala perkataan Reon. Rumah Bella sepertinya tidak jauh berbeda dari rumah Reon. Cukup besar dan mewah, sesuai kumpulan teman-teman Reon yang memang kebanyakan adalah anak orang kaya. Terdapat kolam renang juga yang dihiasi dengan lilin-lilin mengambang serta di bagian tengah kolam yang berada di dasar ada tulisan nama Bella. Sempat kagum dan merasa minder karena rumah Ovi tidak ada kolam renang sama sekali. Lebih tepatnya keluarganya tidak begitu menyukai kolam renang. Bagi keluarga Ovi, kolam renang sangat berbahaya bagi anak kecil dan lansia, terlebih lagi Ovi yang sama sekali tidak bisa berenang. Bisa bahaya jika tiba-tiba saja gadis itu terjatuh di kolam renang dalam keadaan di rumah tidak ada siapa pun. Terlalu nyaman dengan pikirannya sendiri, gadis ini pun tidak sadar jika Reon membawanya ke arah tempat teman-teman pemuda itu berada. “Selamat ulang tahun, Bel,” ucap Reon terdengar tulus sebagai teman, tidak lupa juga dia memberikan kado untuk temannya itu. Ovi sempat berpikir kapan Reon membeli kado itu? Tapi dia malas untuk berpikir lebih lanjut apalagi kepo dengan isi kado yang Reon berikan. Lagi pun ini terakhir kalinya mereka bertemu. Dengan ragu-ragu Bella menyambut uluran tangan dari Reon. Sepertinya dia sedikit trauma dengan pemuda yang berada di depannya ini. Sekadar informasi saja, setelah acara main-main yang beberapa bulan lalu Reon lakukan kepada Bella, gadis itu sepertinya jera dan tidak mengganggu hubungan Reon dan Ovi. Sepertinya dia tertekan, dan pada akhirnya dia memilih untuk melanjutkan study-nya di Korea. Selain untuk belajar, dia ingin menghindari Reon yang diam-diam memiliki jiwa psikopat di dalam tubuhnya. “Terima kasih, Re,” jawab Bella seadanya dan segera melepas tautan tangan mereka. “Selamat, ya, Kak,” kata Ovi juga dan disambut dengan baik oleh Bella. “Reon? Lo dateng sama dia?” tanya Tomi seperti biasa sambil menunjuk Ovi. Seperti sebelum-sebelumnya, pemuda itu masih terus menunjukkan rasa tidak sukanya kepada gadis ini. “Tomi, udah. Lo jangan buat keributan di acara gue,” peringat Bella tegas. Dia tidak ingin acara terakhirnya di sini berakhir dengan buruk, terlebih lagi dia tidak ingin jiwa psikopat Reon keluar lagi. Hampir lima tahun mengenal Reon, Bella baru tahu jika pemuda itu memiliki sedikit kelainan. Sempat berpikir apakah Ovi sebagai kekasihnya mendapat perlakuan buruk, tapi dia segera mengenyahkan pikirannya itu. Sepertinya Reon tidak akan bertindak kejam kepada orang-orang yang dia sayangi. Dia akan menyerang mereka yang berani mengusik hidupnya dan menyakiti orang-orang yang ia sayangi, salah satunya Ovi. Dengan sigap Bella menarik tangan Tomi menjauh dari tempat Reon berada. Sudah cukup semuanya, dia tidak ingin ada lagi korban seperti dirinya waktu itu. “Reon, aku mau makan kue,” kata gadis ini mengalihkan Reon dari pembicaraan Tomi. Untung saja Bella menjauhkan Reon dari Tomi, jika tidak maka Ovi jamin kekasihnya itu akan kembali marah karena Tomi selalu saja memancing kemarahannya. “Kamu mau ini?” tanya Ovi sambil mencicipi kue yang bentuknya terlihat lucu menurutnya. Reon menatap Ovi yang senang dan suka sekali dengan kue tersebut. Bahkan gadis itu tidak sadar jika di sisi bibirnya terdapat beberapa fla dari makanan yang ia makan. Dengan sigap Reon mengambil selembar tisu dan membersihkan bibir kekasihnya itu. “Kalau makan jangan berantakan,” kata Reon yang masih telaten dan Ovi hanya menyengir kuda. “Habisnya makanannya enak. Kak Bella pintar banget pilih makanan,” ucap gadis itu semangat. “Kalau mau, nanti aku bisa tanyain ke Bella belinya di mana. Kamu mau aku beliin?” tawar Reon yang terdengar menggiurkan di telinga Ovi. “Eh, jangan. Nggak usah. Makan ini aja udah cukup, kok, Re,” jawab gadis itu kemudian. Jujur, dia tidak ingin merepotkan kekasihnya sama sekali. Dan Reon pun memilih diam. Acaranya pun berjalan lancar. Tiup lilin, potong kue, dan sedikit sambutan dari Bella pun sudah terlewati. Sepertinya para tamu yang memang di d******i oleh teman-temannya itu cukup menikmati birthday party ini. “Eh tau nggak, sih, katanya Bella itu pindah kuliah di Korea gara-gara cintanya ditolak sama Reon.” Seperti acara kebanyakan pada umumnya, pasti ada grup gadis-gadis yang senang menggosip dan ngerumpi. Sialnya lagi Ovi malah mendengar gosipan gadis-gadis yang kebetulan berdiri tidak jauh dari tempat ia duduk. Dan lebih sialnya lagi ia ditinggal oleh Reon. Pemuda itu sedang ijin ke toilet karena panggilan alam. “Masa, sih? Padahal mereka kelihatan dekat banget dari awal semester,” timpal gadis lainnya. “Iya, sayang banget si Bella pindah. Padahal dia udah di semester akhir.” “Benar. Tapi, keluarganya nggak bakalan bangkrut cuma gara-gara anaknya pindah, secara keluarga dia kaya raya,” ucap gadis pertama menimpali. “Oh iya, lagian Reon sudah punya pacar, bisa-bisanya Bella mau jadi PHO,” sanggah gadis kedua. Sejauh ini Ovi hanya bisa memasang telinganya lebar-lebar. “Katanya, sih, pacar Reon itu biasa aja. Dia juga bukan dari keluarga yang kaya raya,” timpal gadis ketiga yang sedikit membuat hati Ovi sedih. Ya, memang kelaurganya hanya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Lalu apa yang salah dari itu? “Menurut gue, cinta nggak harus mandang status sosial,” balas gadis yang pertama, sedikit mengurangi rasa minder dari diri Ovi. “Hahaha, jaman sekarang nggak ada orang yang nggak mandang status sosial. Bagi kita kaum-kaum cewek, duit itu nomor satu. Munafik banget kalau ada cewek yang bilang nggak mandang cowok karena duit.” “Jadi, maksud lo pacarnya Reon cuma mau duitnya doang?” tanya gadis pertama yang entah dijawab apa oleh temannya karena tiba-tiba saja Reon sudah duduk di sebelah Ovi. Dan dengan cepat Ovi mengubah raut mukanya agar tidak terlihat sedih. Walau bagaimana pun semua yang dikatakan oleh gadis-gadis tentang dirinya tetap salah. Dia tidak pernah memandang Reon karena uang. “Bosan?” tanya Reon perhatian sambil merapikan rambut Ovi yang sedikit berantakan. “Pulang, yuk?” tanya gadis itu balik. Sejujurnya dia sedikit tidak nyaman berada di sekitar orang asing seperti ini, terlebih lagi mendengar pembicaraan gadis-gadis tadi. Dan tentu saja Reon mengiyakan pertanyaan kekasihnya itu. Dengan sigap dia berpamitan kepada Bella dan untung saja tidak ada Tomi. Biasanya pemuda itu akan terus membuat Reon emosi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD