“Reon tumben jarang ke rumah, Vi?” tanya Rika kepada anak gadis semata wayangnya. Ovi yang ditanya pun hanya tersenyum, lebih tepatnya dia mencoba mencari alasan yang tepat agar sang bunda tidak curiga.
“Reon lagi sibuk, Bun. Dia lagi siapin skripsi,” jawabnya. Toh alasan itu memang tepat, di mana Reon sudah semester akhir.
“Oh begitu. Skripsi, ya? Pasti dia sedang sibuk-sibuknya. Menurut pengalaman Bunda, saat mahasiswa buat skripsi itu adalah masa yang paling sulit dan krusial banget. Selain karena otak yang dipaksa untuk berpikir, pastinya mereka pada lapar. Namun, kebanyakan malah nggak mikirin makan. Bagi mereka, skripsi tetap yang utama, dan makan persoalan yang kesekian.” Gadis ini hanya mendengarkan cerita sang bunda. Sesekali dia mengangguk dan membenarkan kata Rika.
“Jadi, kamu sekarang harus ke rumah Reon. Ajak dia makan. Pasti dia telat makan karena ngerjain skripsi, ditambah lagi dia tinggal sendirian di rumahnya, jadi nggak akan ada orang yang ingetin dia soal makan,” perintah Rika.
“Aku harus ke rumah Reon sekarang?” tanya Ovi yang diangguki oleh Rika.
“Nggak, ah, Bun. Kalau cuma ngingetin makan mah, Ovi bisa telepon Reon sekarang.”
“Jangan! Lebih baik langsung datang dan bawa makanan. Meskipun kamu sudah ingetin dia lewat telepon, Bunda nggak yakin dia makan. Paling cuma bilang ‘iya’ di bibir, tapi nggak dia lakuin.”
Gadis ini menggaruk rambutnya yang tak gatal. Lebih tepatnya dia ingin menghindar dari perintah sang bunda. Ke rumah Reon? Nanti dirinya diusir. Memalukan.
“Panas, Bun. Ini sudah siang juga,” ujar Ovi.
“Masih juga jam sebelas. Memang panas, sih. Kalau begitu kamu pakai grab aja, jangan bawa motor. Grab mobil biar adem dan nggak panas, ok?”
Habislah. Ovi sepertinya kehabisan akal untuk mengelabuhi Rika. Sedangkan Rika sendiri sudah tahu jika sang anak sedang menghindari kekasihnya. Anak jaman sekarang tingkahnya memang aneh.
“Ok, Bun,” jawabnya tak bersemangat. Kemudian dia segera menuju ke kamar untuk mengganti pakaian. Sedangkan Rika segera berlalu menyiapkan bekal makanan untuk calon menantunya itu. Ya, Rika sangat setuju jika Ovi bersama dengan Reon. Selain karena pemuda itu tampan, Reon baik kepada semua orang, bahkan pemuda itu sepertinya bisa menjaga Ovi. Semoga saja semuanya baik-baik saja. Dan Rika berharap keduanya bisa bersatu tanpa adanya permasalahan, bukan seperti dirinya saat ini.
Gadis bernama Ovi itu lagi dan lagi menghembuskan napasnya kesal. Berdiri terlalu lama membuat kakinya kesemutan. Reon memang tega sekali, pemuda itu tidak membukakannya pintu. Lebih tepatnya sudah berkali-kali ia membunyikan bel, namun sama sekali tidak ada yang membukakan pintunya. Apa Reon tidak ada di rumah? batin Ovi bertanya-tanya. Tetapi, satpam yang berjaga mengatakan jika Reon sedang pergi.
“Sial! Harusnya sebelum ke sini, aku telepon dia,” umpatnya. Dengan sigap dia mencari ponselnya di dalam tas. Sedikit repot karena di tangan satunya dia membawa rantang yang berisi makanan dari Rika. Namun, baru saja dia ingin memencet tombol dial, sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah Reon. Berwarna pink menyala. Pink? Ini bukan mobil Reon. Yakali dia pakai warna pink, batin Ovi yang cekikikan ketika hal yang dipikirkannya terjadi.
Dari dalam mobil itu keluarlah Reon dari pintu kemudi. Sedangkan pintu yang satunya muncul seorang gadis cantik dan seksi. Ovi memaksakan senyumnya ketika kedua orang itu menghampiri tempat dia berdiri.
“Hai, Re,” sapa gadis ini setengah hati.
“Ngapain ke sini?” Bukannya menjawab sapaan Ovi, Reon malah memberi pertanyaan menusuk kepada kekasihnya itu. Dengan berat hati Ovi terus memasang senyumnya, meskipun dalam hati dia sedikit sakit.
“Aku disuruh Bunda bawain kamu makan,” jawabnya sambil memperlihatkan rantang yang terlihat sederhana.
“Reon sudah makan tadi. Btw, kamu siapa, ya?” celetuk gadis yang tadi datang bersama Reon. Ovi mengalihkan atensinya kepada gadis itu. Jika dilihat dari penampilannya, sepertinya gadis ini berasal dari kalangan atas. Lagi dan lagi Ovi menghembuskan napasnya berat. Bagaimana dia melupakan sebuah fakta jika Reon berasal dari keluarga yang kaya raya. Pasti teman-temannya orang kaya semua. Berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya berasal dari keluarga biasa-biasa saja.
“Aku—”
“Lif, kenalin ini Ovi. Ovi kenalin ini Alifia,” potong Reon memperkenalkan keduanya.
“Alifia.”
“Ovi.”
“Ya udah, Re, aku sepertinya harus pulang, deh. Mama pasti udah nunggu di rumah dari tadi,” ucap Alifia kepada Reon. Dan pemuda itu mengangguk setuju.
“Nanti mobil lo kalau sudah selesai dibenerin gue suruh karyawan Papa buat antar ke sini,” lanjut Alifia.
“Thanks, Lif.”
“Sama-sama. Kalau gitu gue balik, ya. Bye, Re, Vi,” kata gadis itu sambil berpamitan juga kepada Ovi. Setelah mobilnya hilang dari pandangan, barulah Reon dan Ovi masuk ke dalam rumah. Terjadi keheningan di antara keduanya. Ovi menyibukkan diri dengan meletakkan makanan yang ia bawa tadi ke piring. Sedangkan Reon terus menatap pergerakan kekasihnya itu menyiapkan makanan untuknya.
“Makanan sudah siap. Silahkan dimakan,” ucap Ovi sambil menyodorkan masakan bundanya. Reon menatap piring yang ada di depannya dan wajah Ovi bergantian, yang membuat gadis itu sedikit mengerut bingung.
“Ada apa? Kamu nggak suka masakan ini, ya?” tanya gadis itu hati-hati.
Reon menggeleng, “Suapin,” perintahnya. Ovi membola terkejut. Ingatkan Reon bahwa dirinya bukan balita lagi, dan juga dia sudah berumur dua puluhan.
“Eh? Tapi—”
“Suapain,” tekannya dan mau tidak mau Ovi melaksanakan perintah pemuda itu. Dengan telaten Ovi menyuapi Reon, sedangkan pemuda itu malah asyik memandangi wajah Ovi secara terang-terangan. Gadis itu merasa risih, dan sedikit malu, pasti wajahnya memerah saat ini. Reon yang mengetahui kekasihnya tengah blushing pun hanya menahan tawanya. Ovi terlihat seratus kali lebih cantik dan imut jika dalam keadaan malu-malu begini. Tangannya pun seakan tak terkontrol. Reon mengusap pelan pipi Ovi yang memerah. Entahlah, dia refleks melakukan itu. Tetapi, bukannya memudar, warna merah di pipi gadis itu malah semakin banyak. Ovi merutuki Reon yang membuat jantungnya bekerja lebih cepat.
“Kenapa merah?” tanya Reon dengan tampang polos serta tangannya masih asyik mengusap pipi gembul dan mulus milik Ovi. Ovi menghirup udara banyak-banyak agar dia tidak tiba-tiba mendapat serangan jantung.
“Eng-enggak, kok.” Sial. Dia malah terlihat gugup saat ini. Reon pun kembali menahan senyumnya. Sungguh menggemaskan sekali kekasihnya ini.
“Beneran? Kamu nggak lagi sakit, kan?” tanyanya yang dijawab gelengan kuat oleh Ovi. Seketika Reon memegang kepala gadis itu dengan kedua tangan.
“Jangan keras-keras, nanti pusing,” kata pemuda itu dan Ovi pun mengangguk patuh. Dalam hati dia bahagia dengan perhatian kecil yang ditinjukkan Reon kepadanya. Mungkin seiring berjalannya waktu, pemuda itu akan berubah, tidak dingin dan kasar lagi.
“Ngomong-ngomong, Re, bukannya kamu sudah makan, ya?” tanya gadis itu yang sudah terlihat santai dan tidak gugup lagi meskipun Reon memegang pipi atau tangannya secara bergantian.
“Sudah.”
“Kenapa malah makan lagi? Nanti kamu kekenyangan, terus tidurnya nggak nyenyak.”
“Nggak apa-apa. Ini dari Bunda kamu, jadi nggak baik nolak pemberian Bunda,” jawab pemuda itu apa adanya yang seketika membuat sebuah senyuman terbit di bibir Ovi.
“Kamu ke sini naik apa?” tanya Reon sambil memperhatikan Ovi yang tengah menuangkan air untuknya. Kemudian gadis itu menyodorkan air itu kepada Reon.
“Grab.”
“Tumben?”
“Disuruh Bunda, biar nggak kepanasan kalau naik motor.”
“Oh. Nanti aku antar pulang,” ujar Reon sambil meneguk airnya dengan sekali tegukan.
“Mobil kamu, kan, lagi nggak ada,” balas Ovi yang mengingat ucapan gadis bernama Alifia tadi.
“Masih ada motor dan mobil lainnya,” jawab Reon santai. Ya, memang pemuda itu mempunya beberapa motor dan mobil. Ada juga mobil yang Reon hadiahkan untuk adiknya, Cia, tapi gadis itu malah memilih pergi meninggalkannya.
“Oke,” jawab Ovi. “Alifia itu siapa?” lanjutnya. Reon menengok kepada gadis yang sudah beberapa tahun menjadi tambatan hatinya ini.
“Teman.”
“Kenal di mana?”
Reon mengerutkan keningnya pertanda dia bingung dengan pertanyaan yang dikeluarkan oleh gadis itu. Untuk apa Ovi menanyakan sedetail itu?
“Papanya kerja sama dengan perusahaanku,” jawab pemuda itu jujur. Dan gadis itu hanya mengangguk dan sedikit bernapas lega ketika mereka hanya sebatas teman. Teman? Semua hal bisa terjadi hanya dengan sebuah kata ‘teman’.
***
“Pokoknya kita putus!” kata Ovi dengan lantang serta raut muka yang memerah. Reon yang tidak terima diperlakukan seperti ini pun segera meminta penjelasan kepada gadis itu.
“Ralat perkataan kamu barusan,” kata Reon dengan penuh penekanan.
“Nggak!”
Dengan keadaan menahan marah, pemuda ini membawa Ovi ke tempat yang sedikit privat, di dalam ruangan kantornya. Dan dengan sedikit kasar, dia melempar gadis itu ke sofa yang kebetulan ada di sana. Gadis itu sedikit meringis, tetapi ingin tetap mencoba mempertahankan kemarahannya.
“Coba kamu bilang sekali lagi,” perintah Reon.
“Aku mau kita putus,” tekan Ovi tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Sedetik kemudian Reon tertawa kencang, mengundang tanda tanya besar di kepala Ovi. Apa Reon gila karena udah gue putusin? batin Ovi.
“Kamu kenapa ketawa, sih! Oke, sekarang kita udah putus. Aku dan kamu nggak ada hubungan apa-apa lagi. So? Good bye,” kata Ovi yang segera beranjak dari sofa dan beralih menuju ke arah pintu mencoba meninggalkan Reon yang menggila.
“Sekali lagi kamu melangkah keluar dari ruangan ini, aku pastiin besok kita sudah jadi suami istri,” lirih Reon dengan penuh penekanan dan masih mampu didengar jelas oleh Ovi. Lantas, gadis itu pun seketika berhenti. Suami? Itu artinya mereka menikah? TIDAKKK!!
ahahaha