Di hari minggu pagi, Vera dan Bryan duduk berhadapan di sebuah kafe mewah, masing-masing membaca surat perjanjian.
Vera mengerutkan kening ketika membaca tulisan rumah. "Rumah?"
"Kamu tidak suka aku belikan rumah, makanya aku sewakan dulu selama dua tahun. Kamu keberatan?" tanya Bryan tanpa mengalihkan perhatiannya dari surat perjanjian pra nikah yang dibuat pengacaranya.
Vera menjadi tidak nyaman. "Pak, bayarin hutang saya saja sudah cukup. Saya tidak menuntut yang lainnya."
"Terus kamu masih mau tinggal sama adik dan mama kamu?"
"Itu-"
"Kamu ingin bilang tentang pernikahan ini ke mereka?"
Vera menggeleng pelan. "Tidak."
"Sangat berbahaya jika mereka tahu hubungan kita, ini hubungan rahasia dan tidak boleh diketahui siapa pun termasuk lingkungan saya. Jadi kita bisa tinggal di lingkungan baru untuk menutupi semuanya, rumah itu punya teman saya dan lingkungannya juga individu jadi amanlah."
Vera menghela napas panjang lalu kembali melanjutkan membaca surat perjanjian, ada beberapa hal yang mengganjal tapi dibiarkan begitu saja karena biar bagaimana pun dia membutuhkan uang itu.
Vera segera tanda tangan lalu memberikannya ke Bryan.
Bryan mengerutkan kening. "Sudah selesai?" tanyanya tidak percaya.
"Ya." Vera menjawab dengan singkat.
Bryan segera menyelesaikan dan menandatangani surat perjanjian mereka berdua. "Aku tidak mau ada penyesalan di masa depan, hubungan ini sama-sama menguntungkan."
Vera memejamkan mata sekilas, dia sudah siap menjual dirinya.
Vera menginginkan uang sementara Bryan menginginkan seks. Jika salah satu dari mereka menemukan pasangan masing-masing di tengah jalan, Bryanlah yang memutuskan. Tapi untuk perjanjian yang akan berakhir dua tahun lagi, Veralah yang menentukan.
Kenapa Vera yang menentukan? Karena Bryan tidak mau memaksa Vera, mau lanjut atau tidak itu terserah dia. Sementara untuk pasangan di masing-masing pihak, itu karena Bryan masih menyukai istrinya. Mereka berdua sama-sama tahu tapi tidak bisa mengungkapkannya.
"Terima kasih," ucap Vera.
Bryan tertawa geli. "Kamu garang di tempat tidur tapi malu di luar itu, kamu mau melakukannya lagi?"
Vera melotot ngeri.
Bryan mengalihkan pembicaraan. "Kapan kamu pindah?"
"Setelah pernikahan?"
"Minggu depan bisa pindah?"
"Apa?"
"Kalau bisa, saya akan mengirimkan uang kepadamu untuk pindahan."
Vera yang dulunya memiliki harga diri tinggi merasa sakit hati, Bryan tidak salah memberikan dia uang tapi Vera merasa asing ketika ada pria lain yang memberinya uang.
Vera dulunya bangga menjadi wanita mandiri, tapi setelah ditipu ayah kandungnya sendiri, dia jatuh dan hancur, harus merangkak sendiri.
Tidak ada yang menolong atau memberikan semangat sampai Vera harus terjatuh lagi di dunia pinjol dan bertemu dengan Bryan lalu menjual tubuhnya.
Vera tidak pernah menyalahkan posisi Bryan, karena pria itu juga korban darinya.
"Ya, terima kasih."
Hanya itu yang bisa dijawab Vera.
"Dan satu lagi, jangan bertemu dengan Thomas. Dia sebentar lagi akan menikah, saya tidak mau kamu mengganggu jalan pernikahan dia."
Vera ingin mengatakan sesuatu lalu ditahan, yang ada di pikirannya sekarang adalah membayar hutang. Dia menelan mentah semua perkataan yang dianggap nasehat oleh Bryan.
Bryan mengangguk puas melihat sikap Vera lalu mulai memesan menu.
Vera juga memesan makanan yang paling murah.
Bryan mengerutkan kening tidak setuju dan memesan makanan tambahan. "Saya tidak mau dinilai pelit," komentarnya.
Vera pasrah.
"Oh, ya. Kalau bisa kamu segera mengganti nomor handphone supaya Thomas tidak menghubungi kamu lagi, nanti kita beli handphone dan nomor untuk kamu."
Vera segera menolak. "Saya akan blokir dia, tapi saya tidak akan mengganti handphone. Ada banyak data di dalamnya, terima kasih."
Bryan tetap tidak setuju. "Dia pasti ingin menghubungi kamu dengan cara apa pun, kamu akan segera menjadi istri saya jadi lebih baik menjaga jarak darinya.
Vera memberikan jalan tengah. "Saya akan mengganti nomor handphone tapi saya tidak bisa mengganti handphone."
Bryan ingin mengatakan sesuatu tapi terdiam melihat tekad Vera yang tidak mau mengalah. "Baiklah, nanti kamu cari nomor."
Vera mengangguk. "Saya bawa motor sendiri jadi bisa berhenti membeli nomor baru."
Bryan tidak membantah.
Apa kalian tahu bagaimana sulitnya menjadi seorang wanita? Jika tidak bisa menjaga diri, dia akan dihujat baik pria maupun wanita, tua maupun muda. Tidak ada yang menghujat pria yang tidak bisa menjaga diri dari nafsu kecuali melakukan hal di luar normal.
Wanita diperkosa, dihujat karena tidak bisa menjaga pakaiannya.
Wanita dilecehkan, dihujat karena tidak bisa menjaga wajahnya.
Itulah yang dialami Vera sekarang, dia tidak bisa bertindak sebagai korban tapi juga tidak merasa sebagai tersangka.
Kesalahannya hanya mabuk dan ingin bersenang-senang bukan lepas kendali dan berakhir di atas tempat tidur atasannya sendiri.
Jika orang lain tahu, yang akan menjadi sasaran hujatan bukan Bryan, melainkan Vera. Semua orang sudah tahu bagaimana Bryan masih mencintai mantan istri dan menyayangi kedua anak kandungnya.
Saat ini Vera tidak punya kuasa untuk membantah banyak, hanya bisa memberikan jalan tengah yang terbaik.
Bersabarlah, Vera. Hanya dua tahun, bersabarlah. Batin Vera di dalam hati.
---------
"Maaf, apakah ada makanan anjing gambar ini?" Seorang pria tampan bertanya Vera yang sedang menjaga toko pakan hewan temannya.
Setelah makan bersama Bryan, Vera memutuskan berhenti di petshop tempat temannya bekerja. Untuk mencari pencerahan.
Vera segera bangkit dan melihat foto yang ditunjukan pria itu. "Ah, barang ini kebetulan habis di toko. Jika mau, saya akan pesankan di gudang supaya bisa diantar ke toko. Besok pasti sudah ready."
Kebetulan barang itu ada di gudang tempat Vera bekerja, tinggal minta tolong salah satu anak toko yang lewat toko ini untuk mengantarkan barangnya.
"Butuhnya sih malam ini, apakah tidak bisa malam ini?"
"Wah, maaf. Gudang ditutup jam lima sore."
Pria itu mengangguk pasrah. "Ya sudahlah, berapa harganya? Saya bayar saja dulu."
"Tunggu teman saya dulu ya," tolak Vera lalu temannya datang dari toko sebelah membeli minuman dingin.
Ayu bertanya ke Vera. "Ada apa?"
Vera segera cerita lalu Ayu memberikan harga sekaligus nomor toko.
Pria itu segera mencatat dan memberikan uangnya.
"Terima kasih," kata Ayu dan Vera bersamaan lalu menghela napas panjang ketika mobil pria itu sudah pergi.
"Tampannya," erang Vera.
Ayu mengangguk setuju. "Dia memang tampan. Terus bagaimana kelanjutannya?"
"Apa?"
"Kamu kesini bukan untuk makan saja, kan?"
Vera duduk di atas karpet. "Aku akan menikah, hanya kamu saja yang tahu."
"Iya, ya. Santai saja, semua rahasia aman di aku, nih." Ayu memberikan satu botol minuman dingin ke Vera. "Tidak usah dipikirkan, yang penting kamu bisa bayar hutang."
Vera selalu cerita semuanya ke Ayu, bisa dibilang anak ini merupakan teman curhat Vera jika ada masalah.
Mereka berdua sangat dekat, lebih dekat dari persaudaraan.
Ayu dipercayakan memegang toko, suaminya menganggur dan hanya dia yang bisa bekerja untuk menutup cicilan motor, sementara motornya dipakai sang suami di desa. Enak bukan?
Berkali-kali Ayu ingin mengajukan cerai karena tidak kuat tapi selalu mundur karena takut digosipkan, Vera hanya bisa memberikan dukungan secara moral.