Kebakaran Cafe

1327 Words

"Mau kemana?" tanya Radit nongol di jendela mobil. "Mau ke cafe," jawabku jutek, memutar kunci kemudi. "Nggak mau balik lagi ke kantor Bu Wida, sekalian aku kenalin?" ujarnya. Aku melirik dengan mata malas. Radit malah tersenyum mengejek dengan mata berkedip menggoda. Menyebalkan. "Titip salam aja. Bilangan sama Bu Wida kalau gantiin baju bujang lapuk kaya gini jangan ditempat umum, bikin senewen yang lihat," balasku. "Ah, kamu aja yang otaknya m***m," tukasnya tak mau kalah. "Apa?" Aku melirik sinis, menaikkan kaca jendela. "Aw ... aw ... aw ... Halwa nanti aku kejepit," pekiknya setengah berteriak. "Rasain," ujarku sembari menginjak gas. "Jangan lupa makan siang," teriaknya melambaikan tangan. Mataku menyipit, mengintip melalui kaya spion. Bibir bergerak perlahan menyunggikan s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD