06

1057 Words
Aku Milikmu, Om! #AMO Bagian 6 Matahari tampak malu-malu menampakkan sinarnya pagi ini. Langit terlihat sedikit kelabu. Entah akan turun hujan atau tidak aku pun tak tahu. Aku melangkah sedikit tertatih menuju pinggir jalan depan rumah. Menunggu ojek online yang barusan aku pesan. Keadaan kakiku saat ini mengharuskanku tidak berkendara sendiri saat ini. Bahkan berjalan pun aku masih harus menggunakan tongkat. Sebuah motor honda beat terlihat menuju ke arahku dan memelankan lajunya. Si pengemudi membuka kaca helmnya lantas bertanya, "Mbak Aruna?" Aku tersenyum dengan mengangguk pasti. Pengemudi itu memberikan helm padaku. Lalu, aku memakainya. "Bisa naik, Mbak?" tanya mas-mas tukang ojek itu ramah saat menyadari kakiku yang diperban. "Agak susah sih, Mas. Tapi bisa kok," jawabku. Kenapa gak pesen taksi online saja, Mbak? Kan gak bakal susah kayak gini. Aku menyengir. "Nggak, Mas. Ntar macet lagi. Malah bisa telat." Alasan yang masuk akal bukan? Tapi, selain alasan itu aku juga punya alasan lain. Apalagi kalau bukan soal biaya. Kalau aku memilih ojek motor online, aku bisa mengeluarkan pengeluaranku. Karena jika aku memilih taksi online maka pengeluaranku bisa dua kali lipat atau bahkan lebih. Saat aku berhasil duduk dengan nyaman di motor mas-mas ojek ini, mas-mas ini segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama, aku sudah sampai di gerbang kampus tercintaku ini. "Jangan lupa kasih bintang lima, ya, Mbak?" Siap, "jawabku sambil mengacungkan jempol. Setelah kepergian tukang ojek itu, aku segera masuk ke dalam gerbang kampus. Menyusuri jalanan paving menuju gedung mata kuliahku saat ini. Banyak orang yang berlalu lalang. Tak jarang mereka yang mengenalku menyapaku ramah. "Aw!" pekikku saat aku hampir terjatuh karena tak sengaja tongkatku menginjak kerikil. Tapi sebuah tangan mengapit lenganku, membantu menjaga keseimbanganku. "Hati-hati, Jalankan," kata orang itu ramah. Nissa. Sosok itu kini muncul di hadapanku. Aku melepas yang memegang lenganku sembari tersenyum. "Makasih ya," ujarku sebelum meninggalkannya. Berjalan tertatih menjauhi Nissa yang masih terdiam. Dadaku kembali sesak. Susah payah aku menahan agar air mataku tak lolos. Kini aku berada di toilet. Menatap wajah senduku sendiri di depan cermin. Untung saja, kali ini toilet sepi. Berkali-kali aku menarik napas lalu menghapusnya perlahan sebelum melangkah menjauhi toilet. Menuju ruang kelas yang yakin Nissa sudah berada di sana. "Lari, kamu dari mana?" Pertanyaan terlontar dari Nissa saat aku baru saja duduk di bangku. "Dari toilet," jawabku sekenanya. Entahlah, aku sedang tidak ingin berbicara dengannya. Nissa yang tadi duduk berjarak dua bangku dari bangkuku kini mendekat, duduk tepat di sebelahku. Tapi aku memilih diam dan menatap lurus ke depan berusaha tak menghiraukannya. "Lari, maaf," katanya tiba-tiba. Lirih, tapi mendengarnya begitu jelas. "Aku bisa jelaskan semuanya." Nissa berujar lagi. Namun aku tak menanggapinya. Aku memilih diam, membiarkan dia mengucapkan apa yang ingin dikatakan. Tapi belum sempat Nissa kembali menjelaskan, Miss Nadia - dosen Bahasa Inggris - masuk. Membuat Nissa mengurungkan niatnya. "Setelah mata kuliah selesai kamu pulang bareng aku, ya?" pinta Nissa. Tapi lagi-lagi aku diam. Selama mata kuliah berlangsung, aku sama sekali tak bisa fokus. Pikiranku ke mana-mana. Nissa pun terlihat sama. Ia terlihat mencoret-coret kertas tak jelas. Apa aku sudah keterlaluan karena mengabaikannya? *** "Lari, aku bisa jelaskan semuanya. Tolong maafkan aku." Nissa berujar penuh harap. Tangannya menggenggam erat kedua tanganku. Matanya menatap lekat kedua mataku, dan terlihat sendu. Setelah tadi mata kuliah selesai, Nissa terus memaksaku agar mau pulang dengannya. Dengan berat hati aku mengikutinya. Bukannya langsung pulang, ia malah mengajakku ke sini, makan siang di sebuah kedai mie ayam berlangganan kami. "Katakan, Nis. Aku akan mendengarkan semuanya. Dan aku tak akan menjelaskanmu sebelum selesai," kataku pasrah. Dan Nissa sahabatku. Meskipun rasa kecewa menguasaiku, rasa itu tak pernah bisa mengingkari kalau Nissa adalah salah satu orang yang berarti dalam hidupku. "Aruna, maaf. Ini semua terjadi bukan kehendakku. Aku sama sekali tak tahu kalau aku akan dijodohkan dengan Mas Rangga, kekasihmu." Bukan, Nis. Mas Rangga bukan lagi kekasihku, batinku membantah. Tapi aku tetap diam tak memotong penjelasannya. Tak terasa air mata mulai membasahi pipiku. Begitu pun Nissa. "Dan bunda memaksaku. Kau tahu kan aku sama sekali tidak menolak permintaan bunda. Apalagi bunda dengan kondisinya sekarang dia tidak bisa terlalu banyak pikiran. Aku takut terjadi sesuatu dengan kesehatan bunda. Mas Rangga pun sepertinya mendukung perjodohan ini, namun ia pun tak bisa menolak permintaan ibunya. Kumohon, maafkan aku. " Nissa menatapku lekat. Suaranya bahkan sudah terdengar parau. Aku pun tak sanggup lagi menahan tangisanku sendiri. Isakan kecil mulai terdengar dariku. "Tapi, kenapa kamu tak berterus terang setelah saja perjodohan itu dilakukan?" Pertanyaan berputar di kepalaku. Bahkan aku tahu kalau Nissa dijodohkan dari Anna dan Lisya. Dan Om Raka pula yang memberitahuku kalau Nissa akan menikah dengan Mas Rangga. "Aku takut menyakitimu, Run." Tapi dengan begini aku lebih sakit, Nis. "Tapi, apakah kamu berpikir kalau kamu diam tak memberitahuku aku tak merasa sakit, Nis?" tanyaku dengan suara serak. Tangisku semakin pecah. "Maaf, Lari. Maafkan aku. Kumohon." Aku menghela napas panjang. Begitu berat. Tapi aku tak boleh egois. Bahkan, orang tua Mas Rangga pun tak menyukaiku bukan? Mungkin Mas Rangga memang bukan takdirku. "Aku memaafkanmu, Nis. Maafkan aku yang kekanakan. Aku hanya kecewa. Kenapa tidak kamu sendiri yang mengatakannya padaku. Kenapa malah orang lain yang memberitahuku tentang perjodohanmu." "Maaf." Nissa menunduk. Kini tanganku yang menggenggam tangan Nissa. Membuatnya mendongak menatapku. “Tidak apa, Nis. Ini takdir Allah. Lagi pula, hubunganku dengan Mas Rangga sudah berakhir,” kataku sendu. "Apa? Sejak kapan?" Nissa terlihat terkejut. Tentu saja. Aku memang belum menceritakan hal ini pada Nissa. Aku hanya perlu waktu. "Sejak sekitar tiga minggu yang lalu," jawabku dengan tersenyum getir. Membayangkan kejadian menyakitkaan itu. Kenapa? "Kamu tahu, hari itu Mas Rangga mengajakku ke rumah tinggal. Hatiku bahagia, setidaknya Mas Rangga keseriusannya. Tapi kebahagiaanku sirna begitu saja, saat aku tahu kalau orang tua Mas Rangga tidak menerimaku. Orang tua Mas Rangga mengatakan kalau aku tak pantas untuk Mas Rangga . " Mataku menerawang kejadian itu. Sebuah fakta yang membuatku merasa menjadi gadis terhina di dunia. "Dan kini Mas Rangga akan memiliki istri sepertimu. Tentu saja orang tua Mas Rangga menyukaimu. Kamu gadis kaya, sholihah, dan pintar. Aku yakin, Mas Rangga akan bahagia saat bersamamu." "Tapi, Lari. Mas Rangga mencintaimu. Ia sama sekali tak mencintaiku, aku pun tak mencintainya." Nada bicara Nissa terdengar begitu pilu. "Hei, apa kau tak pernah mendengar kalau cinta akan hadir karena terbiasa? Bersabarlah, seiring berjalannya waktu cinta akan hadir saat kalian sudah bersama," jelasku menyemangati Nissa. Aku menertawakan diriku yang munafik ini. Menghapus hatiku masih milik Mas Rangga. Dan kini aku harus merelakan Mas Rangga untuk sahabatku sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD