"Janji apa?! Kalau nangis-nangis besoknya ngulang lagi?!" Bunda murka, setelah aku tak kunjung memutuskan Gerald. "Bunda, Rara nggak mungkin putusin anak orang. Dia lagi berduka." "Sampai kapan? Nunggu sampai hamil?!" Hatiku hancur, bunda sepertinya berdoa yang buruk buatku. "Setidaknya, nunggu sampai sebulan, Rara nggak mau dia sakit hati." "Oh, Tuhan. Sakit hati itu, paling sejam. Kamu menderita seumur hidup! Kenapa kamu nggak sadar?" Wajah bunda benar-benar marah. "Dia itu, anak yang kurang perhatian. Orang tuanya, nggak ada yang peduli sama dia. Rara nggak tega, dia sering dikecewakan, Rara juga nggak mau mengecewakan Gerald." Ya, sekarang aku sudah bertekad tidak akan pernah melepaskan Gerald, apalagi tahu kondisi keluarganya yang berantakan. Aku maklum kenapa Gerald seperti

