Berkali-kali bunda memijit pelipisnya dan menggeleng. Aku hanya menunduk, tak berani menatap bundaku. Kami sudah berada ruang tamu, duduk bersebrangan dihalangi meja. Gerald di sampingku. Aku melirik bunda sebentar, beliau menatap kami bergantian. Mungkin, bunda masih belum percaya, dan mengira semuanya hanya mimpi buruk. Diam-diam, aku menarik tangan Gerald dan menggengamnya. Aku butuh dukungan, aku benar-benar takut sekarang. Demi apa, aku paling takut kalau bunda marah. "Jelaskan semuanya!" Aku hanya menggigit bibirku, tak berani membuka suara. Aku masih menunduk, Gerald mengertiku yang takut, dia menggengam tangaku dan meremasnya. "Rara!" Aku berjengit kaget. Dan menatap bunda, sepersekian detik, selanjutnya menunduk lagi, jantungku berdetak lebih cepat. Tuhan... aku takut. B

