06

1112 Words
"Ya ampun, Rafka bangun pagi? Bantu Bibi masak, ada apa gerangan nih?" tanya Ray saat melangkah menuju dapur sebelum membangunkan dua puteranya. "Hehehe..." Rafka cengengesan menyerahkan pekerjaannya pada satu asisten rumah tangga mereka. "Rafka, mau jemput Alana!" ucap Rafka duduk dikursi. "Jemput sekolah?" tanya Azka melangkah menghampiri mereka. "Jadi supir, lo sekarang?" tanya Rafli dengan wajah yang terlihat sangat lelah sembari mengambil minuman di kulkas. "Rafli," tegur Azka pada puteranya itu. "Apaan sih, iri aja!" gerutu Rafka menatap Rafli. Ia tahu kalau tadi malam, adiknya itu tak tidur sebab setelah menjalankan hukuman shalat malam sesuai perintah sang ayah, bukanny segera tidur, Rafli malah bermain game. "Kamu nggak tidur?" tanya Ray mendekati Rafli yang tengah meninum minuman soda di pagi hari. "Hm..." Ray memeluk puteranya itu, membuat Rafli perlahan memejamkan mata dibahu ibunya yang terasa sangat nyaman. "Cewek itu, harus tunduk!" ucap Rafli kembali tersadar. "Lo kenapa sih? Benci banget sama Alana? Anaknya baik, pintar juga," puji Rafka semakin membuat Rafli berdecak kembali mendengar nama gadis itu. "Kalau gue nggak suka! Ya enggak!" singkat Rafli menyenderkan punggungnya wastafel. "Gue sumpahin lo, jatuh cinta sama Alana!" ucap Rafka membuat orang tuanya geleng- geleng kepala. "Lawak lo!" Singkat Rafli kemudian pergi dan tanpa sengaja berpapasan dengan Nesya yang menuruni tangga membawa dua papperbag besar. "Mau kabur kemana, Sya?" tanya Rafli sontak membuat Nesya melayangkan tatapan tajam pada kakaknya itu. "Nesya mau kasih ini ke Alana, soalnya kemarin pakaian Nesya pas sama dia," ucap Nesya membuat Rafli menampilkan tatapan tak percaya. "Nesya! Jangan ikut- ikutan Rafka!" tegur Rafli, Rafka yang mendengar hal itu langsung bertepuk tangan. "Sip! Nesya berangkat sama gue! Hari ini gue mau jemput Alana!" ujar Rafka, Nesya tersenyum mengacungkan dua jempolnya pada Rafka. "Kalian kenapa sih!" Rafli berucap sinis lalu melanjutkan langkahnya kembali kekamar. "Ya ampun, ini masih pagi. Jangan ribut, ayo. Shalat subuh berjamaah," ucap Azka menengahi. Beberapa saat kemudian, Azka dan keluarganya sudah selesai menyantap sarapan. Tanpa ada pertengkaran sedikit pun sebab Rafli memutuskan makan di kamar. "Tungguin Rafli, kalian berangkat bertiga aja," ucap Ray saat Rafka dan Nesya sudah bersiap sekolah. "Enggak." Rafli bersuara membuat tatapan semua tertuju padanya. "Rafli nggak sudi satu mobil sama anak satpam sekolah," ucap Rafli sinis. "Hah?" tanya Nesya bingung. "Cewek Rafka, anak satpam!" ulang Rafli membuat Rafka mengepalkan tangan. "Kalau dia anak satpam, kenapa? Malah gue kagum, dia bisa sekolah di SMA Samudera," ucap Rafka membuat Azka yang tengah menyiapkan berkas kantornya menatap pemuda itu. "Anak, Pak Ilham ya?" tanya Azka ragu. "Nah!!! Iya!" jawab Rafka senang. "Nesya baru tau," ucap Nesya jujur. "Ya iyalah! Pasti dia nutupin identitasnya, yang ada kalau teman- temannya tau pasti bakalan di bully!" "Rafli!" tegur Ray membuat Rafli terkejut. "Bunda sama Ayah nggak ada ngajarin kamu buat ngerendahin orang lain! Dari dulu! Bunda paling nggak suka sama yang namanya penindasan! Dan kalau sampai Alana kena bully, kamu yang bakal kena sanksi!" ucap Ray tegas. "Bunda!" Rafli berontak, tak terima dengan perkataan ibunya. "Rafli," kini Azka yang menegur mendekati pemuda itu. "Jangan ngerendahin orang lain," tegur Azka menepuk bahu puteranya beberapa kali. Rafli memilih berangkat sekolah lebih dulu tanpa menatap Rafka dan juga orang tuanya. "Abang!!" panggil Nesya berusaha menengahi ketegangan dirumah. Terlambat, Rafli sudah pergi dengan mobil hitamnya. "Aku... udah kelewatan ya? Negur Rafli?" tanya Ray pada suaminya. Azka menggeleng memeluk isterinya. "Yaudah, Rafka sama Nesya berangkat." Rafka mencium punggung tangan orang tuanya diikuti Nesya. "Assalamualaikum!" ucap kakak beradik itu berbarengan. "Waalaikumsalam, hati- hati." Ray menjawab melambaikan tangan pada kepergian mobil silver yang dikemudikan oleh Rafka. "Sayang..." panggil Azka mengetahui isterinya masih terdiam. "Kamu nggak salah, nanti aku bicara baik- baik sama Rafli," ucap Azka merangkul bahu isterinya yang masih berdiri diteras. Sementara itu, mobil Rafka berhenti didepan sebuah gang yang membuat Nesya menatap kakaknya. "Tunggu di mobil, apa ikut kerumah Alana?" tanya Rafka. "Ikut!!" girang Nesya turun lebih dulu disusul Rafka. Keduanya melangkah bersama hingga berhenti didepan sebuah rumah sederhana yang dimana, Alana sudah menunggu dengan senyum tipis. "Alana!!" panggil Nesya melambaikan tangan lalu menyerahkan dua papper bag pada gadis itu. "Neysa, ini apa?" tanya Alana bingung. "Baju- baju gue, lemari udah penuh. Ini masih baru! Ukuran badan kita kan sama!" ucap Nesya senang. "Neysa... makasih banyak!" Alana menunduk membuat Rafka tersenyum mengusap rambut gadis itu. "Ayo, berangkat!" ajak Rafka hingga mereka semua sudah berada di mobil menuju SMA Samudera. Rafka memarkirkan mobilnya disamping mobil Rafli. Pemuda itu turun lalu membukakan pintu untuk Alana yang duduk dikursi belakang, sementara Nesya turun sendiri. "Rafka tuh!" tunjuk Nea yang menatap dari kantin. Alden mengarahkan pandangannya pada parkiran dan benar saja kalau Rafka tengah menggandeng Alana hingga membuat perhatian seantero sekolah tertuju pada mereka termasuk Rafli yang tengah bermain basket. Saat Rafli mendribble bola basket, tiba- tiba ada niatan untuk membalas perbuatan gadis itu dengan melempar bola kepadanya. Namun Rafli mengurungkan niatnya dan memilih pergi kekantin tanpa peduli pada Alana dan Rafka meski mereka berpapasan di koridor. "Si Rafka, mancing perhatian aja," ucap Alden sesaat setelah Rafli duduk bersama mereka. "Udah gue bilangin, emang suka nyari masalah tuh anak!" cibir Rafli sebelum menyumpal telinganya dengan earphone. "Jangan marah- marah, nih batagor!" unjuk Nea namun Rafli tak peduli, memilih memejamkan mata sembari mendengarkan musik. Tiba- tiba, kantin menjadi bising, membuat perhatian Rafli teralihkan pada kedatangan saudaranya yang masih menggandeng gadis bernama Alana terlihat menghampirinya. "Kak..." pelan Alana mengetahui tatapan tak suka dari Rafli. "Udah, duduk sini. Lo mau makan apa? Biar gue yang pesan," titah Rafka mendudukkan Alana disamping Nea yang tersenyum padanya. "Kak..." panggil Alana pada Rafka yang hanya acuh pada bisikan para siswi yang berada di kantin. "Iya, Lana?" tanya Rafka hangat. "Mau pesan apa?" tanya Rafka lagi. Alana menggeleng dan Rafka pun pergi memesan makanan untuk dirinya sendiri, menundukkan wajah saat tatapan tajam Rafli tak teralihkan sedikit pun padanya. "Buset, heh!" tegur Alden pada Rafli. "Pergi." Rafli angkat bicara, membuat Alana menatapnya. "Pergi, gue bilang!" usir Rafli sekali lagi. Alana pucat pasi, menatap Rafka yang baru saja pergi. Pada siapa ia meminta perlindungan. Sebaiknya, Alana harus pergi sebelum kembali dipermalukan oleh Rafli. "Lana!" Salsa menghampiri membuat Alana terkejut. "Gue mau liat tugas kemarin!" pinta Salsa dengan tergesa- gesa. "Iya..." Alana bangkit dari duduknya hingga membuat Nea sadar kalau jemari gadis itu bergetar, mungkin karena takut pada Rafli. "Alana," ucap Nea menarik tangan gadis itu untuk kembali duduk. "Disini aja, serahin tas lo ke dia," perintah Nea membuat Alana tak dapat berkutik lalu menyerahkan tasnya pada Salsa yang langsung pergi setelah mendapat perintah dari Nea. "Kak, aku---" "Mau ke kelas..." pelan Alana menundukkan wajah. "Disini aja, kan belum bel!" ucap Nea diangguki Alden. "Udah, jangan liatin Alana! Nanti naksir!" tegur Nea pada Rafli yang masih menatap Alana. Rafli berdecih, membuat Alana tersadar kalau pemuda itu benar- benar tak menyukainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD