Elias menatap foto itu, matanya menelusuri tiap detail yang terekam dalam gambar—wajah Naya yang masih muda, namun kali ini dikelilingi oleh bayangan yang lebih gelap. Di belakangnya, seorang pria bertopeng obsidian berdiri tegap. Topeng itu, yang hampir mirip dengan ukiran batu hitam, seperti menjadi simbol bagi Gigi Ular—organisasi yang Elias coba lupakan, tapi tak pernah bisa benar-benar pergi.
“Dia hidup,” kata Elias perlahan, suaranya datar, seolah tak percaya pada kenyataan yang ada di hadapannya.
Pak Surya berdiri di belakangnya, menatap foto itu dengan mata penuh penyesalan. “Tentu saja dia hidup. Gigi Ular tidak membiarkan siapa pun yang mereka anggap berguna mati. Mereka mengubah siapa saja yang punya nilai menjadi alat. Naya mungkin... dipaksa untuk ikut dalam permainan mereka.”
Elias menggenggam foto itu lebih erat, seolah berharap bisa memecahnya dengan tangannya. Namun, kenangan tentang Naya—gadis muda yang ia lindungi dan latih dengan penuh harapan—bertabrakan dengan kenyataan bahwa ia bisa jadi telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap daripada yang bisa ia bayangkan.
"Jika Naya masih hidup dan bergabung dengan Gigi Ular, itu berarti mereka tahu kita sedang mengincar mereka," kata Elias dengan nada rendah. “Dan kita sudah terlalu terlambat.”
Pak Surya mengangkat bahu. “Mungkin. Tapi kita tidak bisa berhenti sekarang. Organisasi itu lebih besar dan lebih kuat dari yang kau kira. Dan mereka sudah lama menunggu momen ini—momen ketika seseorang seperti kamu muncul kembali.”
Elias menoleh, menatap Pak Surya dengan mata tajam. "Maksudmu, mereka sudah tahu aku masih hidup?"
"Yang aku tahu," kata Pak Surya, "adalah bahwa setiap orang yang terlibat dalam operasi Orion pasti punya bagian dalam teka-teki ini. Dan mereka yang terlibat akan datang ke titik ini. Tak peduli apa yang terjadi pada mereka di masa lalu.”
Elias terdiam, memikirkan kata-kata itu. Pak Surya benar. Semua yang terjadi sejak ia keluar dari dunia itu—dunia yang penuh darah dan pengkhianatan—membawanya kembali ke titik ini. Tanda-tanda itu jelas. Token yang ia temukan, simbol yang membangunkan kenangan kelam tentang Orion's Veil, dan sekarang Naya. Semua itu menunjukkan bahwa ia tak bisa lari lagi.
"Tapi siapa yang memimpin Gigi Ular sekarang?" tanya Elias.
Pak Surya menatapnya, wajahnya terbungkus bayang-bayang. "Itu pertanyaan yang sulit, Elias. Ada banyak nama yang beredar, tapi satu nama yang selalu terdengar adalah Tangan Obsidian. Dia bukan hanya kepala mereka—dia adalah penguasa, bayangan di balik setiap pergerakan, dan tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya.”
“Tangan Obsidian?” Elias bertanya, merasakan rasa penasaran yang tak tertahankan. Nama itu terasa asing, dan sekaligus menakutkan. "Apa yang dia inginkan?"
“Dia ingin mengendalikan dunia dari balik layar. Menjaga agar semuanya tetap dalam bayang-bayang. Semua ini—organisasi, operasi, dan bahkan token yang kau bawa—adalah bagian dari rencananya,” jawab Pak Surya dengan suara rendah, hampir seperti bisikan. “Tapi itu bukanlah yang paling berbahaya.”
“Apa maksudmu?”
“Yang paling berbahaya adalah... dia tahu kamu. Tahu siapa kamu sebelumnya.”
Elias merasa seakan ada sesuatu yang menjalar dalam dirinya—rasa takut yang sudah lama terkubur dalam. Jika Tangan Obsidian tahu siapa dirinya, itu berarti dia tahu semua tentang masa lalunya. Semua tentang apa yang ia lakukan, dan mungkin juga apa yang sudah ia tinggalkan.
“Tangan Obsidian adalah seorang penguasa bayangan yang bisa mengendalikan setiap langkah kita,” lanjut Pak Surya. “Dan yang paling berbahaya, dia bisa mengendalikan orang-orang yang sudah mati.”
Elias menatap Pak Surya tajam. “Maksudmu, seperti Naya?”
Pak Surya mengangguk. “Ya. Mereka yang pernah berada dalam cengkeraman Gigi Ular. Mereka yang terbunuh atau hilang. Semua dipaksa untuk melupakan siapa mereka, dan menjadi bagian dari jaringan yang lebih besar. Mereka adalah bagian dari puzzle yang dirangkai oleh Tangan Obsidian.”
Elias merasa jantungnya berdegup kencang. "Jika Naya kembali, berarti dia ada di bawah pengaruhnya. Apa yang bisa aku lakukan?"
Pak Surya menarik napas dalam-dalam, seolah berusaha mencari jawaban yang tepat. "Kau harus menghentikan mereka, Elias. Hentikan Tangan Obsidian. Kalau tidak, semua yang kita kenal akan terperangkap dalam bayangannya.”
Suasana di ruang gudang itu semakin berat. Waktu seolah berhenti, menunggu keputusan yang tak bisa dihindari. Elias menatap foto Naya yang tergeletak di meja, mata gadis itu mengawasi seakan memintanya untuk melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar melarikan diri.
“Di mana kita bisa menemukan mereka?” tanya Elias, akhirnya memutuskan untuk bergerak maju.
Pak Surya mengambil nafas panjang, lalu menunjuk ke arah meja lain yang terletak lebih dekat dengan sudut ruangan. Di atas meja itu tergeletak sebuah peta yang tertutup. Pak Surya membuka peta itu perlahan.
"Di sini," katanya, menunjuk pada titik di atas peta yang dilingkari dengan tinta merah. “Ini adalah titik terakhir yang terhubung dengan operasi Orion. Dan itu juga tempat Gigi Ular mengendalikan aliran informasi dan sumber daya mereka. Dulu, mereka membangun markas mereka di sana.”
Elias mengamati peta itu dengan seksama. "Jadi kita ke sana? Sekarang?"
"Ya," jawab Pak Surya. “Kau tak punya banyak waktu. Jika Tangan Obsidian sudah mengetahui jejakmu, mereka pasti sedang bergerak. Dan lebih cepat dari yang kau kira.”
Elias menatap peta itu, kemudian foto Naya yang masih tergeletak di meja. Mungkin ini waktunya untuk menyelesaikan apa yang dimulai bertahun-tahun yang lalu. Mungkin ini waktunya untuk melawan bayang-bayang yang sudah lama mengejarnya.
Dengan satu langkah, ia memutuskan. "Kita berangkat sekarang."
Elias menatap peta yang terbuka di depan matanya, jarinya mengikuti setiap garis yang mengarah ke titik merah yang dilingkari. Titik itu berada di luar Jakarta, jauh dari keramaian, sebuah tempat yang terisolasi di tengah hutan di luar kota. Sebuah tempat yang seharusnya sudah lama terlupakan, namun kini menjadi pusat dari semua konspirasi yang mengancam nyawanya.
“Apakah kau yakin ini tempatnya?” tanya Elias, suaranya terdengar ragu.
Pak Surya mengangguk. “Tempat ini dulu menjadi markas bagi operasi-operasi besar. Tapi setelah itu, semuanya ditinggalkan. Gigi Ular membangun sesuatu yang lebih tersembunyi, tapi ini adalah akar dari semua yang mereka lakukan. Jika ada yang tahu tentang sejarah mereka, pasti ada sesuatu di sana.”
Elias menarik napas panjang, merasa tensi di tubuhnya semakin meningkat. Jika ini adalah tempat yang tepat, maka setiap langkah yang mereka ambil sekarang adalah taruhan nyawa. Dan jika Gigi Ular benar-benar ada di belakang semua ini, berarti setiap gerakannya sudah dipantau.
“Jika kita ke sana, kita tak akan sendirian,” kata Elias, matanya menatap Pak Surya dengan intens. “Ada kemungkinan mereka sudah tahu kita sedang mencari tempat itu.”
Pak Surya hanya mengangguk. “Aku tahu. Tapi itu bukan pilihan. Mereka takkan berhenti sampai mereka menemui kalian.”
Elias merasa seolah dunia ini mengepungnya dari segala arah. Setiap pintu yang ia buka, setiap petunjuk yang ia temukan, hanya membawanya lebih dalam ke dalam dunia yang ia coba tinggalkan. Namun kali ini, ia tak bisa mundur. Bayangan masa lalu—baik itu Naya, atau Tangan Obsidian—tak bisa terus memburunya. Ia harus menemukan kebenaran.
Mereka berangkat dengan kendaraan sewaan yang tak terlalu mencolok, sebuah SUV hitam yang terlihat seperti kendaraan biasa di jalanan Jakarta. Setelah mengemudi beberapa jam melalui jalan tol yang semakin sepi, mereka tiba di sebuah desa kecil yang berada tak jauh dari hutan. Di sinilah perjalanan mereka akan berlanjut ke jalan yang lebih berbahaya.
Jalan menuju titik yang ditunjukkan pada peta semakin sempit, berkelok, dan dipenuhi oleh pohon-pohon besar yang hampir menutupi langit. Hutan itu terasa sangat sunyi, seolah-olah mereka memasuki sebuah dunia yang terisolasi dari segala peradaban. Elias merasa ada yang aneh. Semakin jauh mereka melaju, semakin ia merasa ada mata yang mengawasi mereka dari balik pepohonan.
Pak Surya menoleh ke arah Elias. “Kau merasakannya juga, kan?”
Elias mengangguk, tak bisa menghilangkan perasaan bahwa mereka sedang menuju ke dalam perangkap. “Ini terlalu sepi. Terlalu... terjaga.”
Pak Surya mengerutkan kening. “Gigi Ular memang ahli dalam membuat orang merasa seperti itu. Mereka menguasai segala hal yang berhubungan dengan pengawasan. Mereka punya jaringan yang tersembunyi di seluruh dunia.”
Elias terdiam, merenungkan kata-kata itu. Gigi Ular bukan sekadar kelompok kriminal biasa. Mereka adalah mesin yang terorganisir dengan sangat baik, mengatur setiap langkah di balik bayang-bayang, dan sekarang ia berada di tengah-tengahnya.
Mereka sampai di sebuah titik yang tampaknya menjadi jalan utama menuju area yang lebih terpencil. Ada sebuah gerbang besar yang terbuat dari besi tua, dengan tulisan samar yang hampir tidak terbaca, namun jelas terlihat ada simbol yang pernah ia lihat—simbol ular dan belati.
“Ini tempatnya,” kata Pak Surya, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Kita harus hati-hati mulai sekarang.”
Elias memeriksa lingkungannya. Terlihat beberapa bangunan tua yang hampir hancur, beberapa tenda kecil yang dipasang secara sembarangan. Sepertinya tempat ini memang sudah lama ditinggalkan, tapi sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa di balik semua kehancuran ini, ada yang lebih gelap dan berbahaya.
Mereka berhenti di depan gerbang. Elias membuka pintu mobil dan melangkah keluar, menyentuh udara malam yang dingin. Hutan di sekitar mereka mulai semakin gelap, hanya diterangi cahaya dari lampu mobil yang redup.
"Bagaimana kita masuk?" tanya Elias, matanya mencari sesuatu yang mencurigakan di sekitar gerbang.
Pak Surya mengeluarkan kunci besar dari sakunya, seukuran genggaman tangan, lalu mulai membuka pintu besi itu dengan gerakan yang terlatih. “Aku pernah masuk ke sini sebelumnya, waktu mereka masih aktif. Tapi sekarang, semua ini sudah terlupakan oleh banyak orang.”
Pintu terbuka dengan suara berderit, membiarkan mereka memasuki area yang lebih terbuka. Suasana mencekam, dan meskipun langkah mereka tidak terdengar, Elias merasa setiap jejak langkahnya dipantau.
Mereka menyusuri area yang tampaknya seperti bekas markas. Beberapa ruangan masih tertata rapi, tapi semuanya kosong. Tidak ada tanda kehidupan. Hanya kesunyian yang menekan. Elias merasa seolah seluruh tempat ini diciptakan untuk mengelabui pengunjung.
Di dalam sebuah ruangan yang lebih besar, terdapat banyak rak yang penuh dengan dokumen dan file-file lama. Itu adalah arsip, namun tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya disimpan di dalamnya.
"Elias," Pak Surya berbisik, “Ini adalah tempat mereka menyembunyikan segalanya. Kalau ada jawaban tentang Orion dan Gigi Ular, itu pasti ada di sini.”
Elias berjalan mendekat, matanya mencari sesuatu yang bisa memberi petunjuk. Tiba-tiba ia berhenti di depan sebuah rak yang tampak berbeda. Ada sebuah folder yang tersembunyi di balik tumpukan berkas, dengan label yang tidak biasa. Label itu hanya menampilkan satu kata: "Orion."
Elias meraih folder itu, membuka dengan hati-hati. Di dalamnya, ada tumpukan foto-foto lama dan laporan-laporan yang sudah mulai menguning. Satu foto menarik perhatian Elias—sebuah gambar yang menunjukkan para anggota Gigi Ular sedang berdiri di depan sebuah markas yang tampaknya adalah tempat yang mereka sedang tuju sekarang.
Dan di tengah mereka, ada seseorang yang mengenakan jas hitam dan topeng obsidian—pria yang dikenal sebagai Tangan Obsidian.
Tiba-tiba, sebuah suara keras terdengar dari luar ruangan, diikuti oleh suara langkah kaki yang berat. Elias dan Pak Surya menoleh cepat. Mereka sudah terlambat. Gigi Ular sudah tahu mereka ada di sini.
“Waktunya sudah habis,” bisik Pak Surya, matanya mulai gelap. “Kita harus keluar, sekarang!”